Catatan tentang melihat

 

Tanggal 2 Juni kemarin saya berkesempatan mengalami showcase pertunjukan Margi Wuta hasil kolaborasi sutradara Joned Suryatmoko dan perancang bunyi Ari Wulu. Pertunjukan yang saya tonton hanyalah sketsa pendek berdurasi 30 menit dari pertunjukan utuh sepanjang kurang lebih 1 jam yang pernah dipentaskan pada tahun 2013. Showcase Margi Wuta melibatkan tiga difabel netra dan seorang aktor. Apa yang saya tulis di sini sekedar catatan pendek yang tidak dapat merangkum keseluruhan cerita dan elemen-elemen dalam Margi Wuta versi utuh. Setahu saya, pertunjukan utuh Margi Wuta melibatkan dua penyanyi soprano. Atas keterbatasan ini maka saya hanya dapat membicarakan Margi Wuta dalam tataran konsepnya dan tidak menyentuh detail-detail pertunjukan yang barangkali dapat mendukung atau justru melemahkan poin-poin yang akan saya diskusikan di sini.

Penonton showcase Margi Wuta dibagi menjadi dua dan pertunjukan dibagi menjadi tiga tahap masing-masing berdurasi 10 menit. Kurang lebih ada dua belas penonton dalam setiap kloter. Penonton kloter pertama berkesempatan masuk lebih dulu dan dapat mengalami seluruh tahapan pertunjukan. Sementara, penonton kloter kedua hanya akan mengalami tahap terakhir. Pembagian kloter ini akan mempengaruhi jenis pengalaman menonton dan menurut saya, penonton kloter pertama mendapat pengalaman yang lebih rumit dan kaya ketimbang kloter kedua. Beruntung saya kebagian jadi penonton di kloter pertama.

Sebelum masuk ke ruang pertunjukan, penonton diberi penjelasan singkat mengenai runtutan acara dan peraturan menonton. Semua penonton diwajibkan memakai penutup mata dan tidak melepasnya sampai ada yang memberi instruksi. Jika penonton memutuskan untuk melepas penutup mata sebelum instruksi, maka ia akan digiring untuk meninggalkan ruang pertunjukan. Artinya, pertunjukan ini hanya boleh ditonton dalam keadaan mata tertutup.

Dengan diblokirnya akses untuk melihat, penonton terpaksa patuh pada suara-suara yang mengarahkan untuk masuk ke ruang pertunjukan. Kami diminta berbaris dan memegang pundak orang di depan kami. Karena dibutakan, otomatis kami hanya bisa nurut dan meletakkan kepercayaan 100% pada suara orang yang membimbing kami menuju kursi masing-masing.

Saya mencengkram kencang-kencang pundak orang di depan saya.

“Ya hati-hati… ada tiga anak tangga di depan anda!” Jarak yang tak sampai 10 meter dari luar menuju ke ruang pertunjukan terasa jauh dan penuh rintangan.

Mata yang tertutup mendorong indera lainnya untuk bekerja lebih keras. Karena pertunjukan memang dirancang untuk tidak bisa dilihat, maka elemen suara memainkan peranan penting. Dan karena tidak bisa melihat, saya pun memasang telinga baik-baik. Suara televisi, tetesan air dan ngiau kucing—bunyi-bunyian yang biasanya sekedar menjadi latar dalam kehidupan sehari-hari kini mendapat panggung yang lebih bermartabat dalam Margi Wuta.

Showcase Margi Wuta dibuka dengan lolongan duka dari mulut Harjito, difabel netra yang baru ditinggal mati istrinya. Ayahnya, difabel netra yang berprofesi sebagai tukang pijat menasehatinya untuk lebih tabah dan move on melanjutkan hidup. Tak lama kemudian, suara helm jatuh menandai datangnya seorang pelanggan yang ingin dipijat. Sekelumit percakapan basa-basi antara ayah Harjito dan sang pelanggan lamat-lamat membicarakan tragedi istri Harjito yang mati ketabrak mobil. Di tengah-tengah percakapan mereka, datanglah Ratmi, mungkin kerabat atau tetangga mereka, yang membawakan tongseng untuk Harjito. Ratmi nyerocos tentang Harjito yang tak kunjung mau makan. Akan tetapi, cerocos Ratmi segera terhenti dan berganti dengan pekikan tajam. Harjito ditemukan mati di kasurnya.

Beberapa detik kemudian, seseorang membisiki instruksi untuk membuka penutup mata saya. Saya ternyata didudukkan di baris kedua, di kursi yang jaraknya terpisah dengan kursi-kursi penonton lain. Di hadapan saya ada konstruksi besi dengan gorden transparan seperti kelambu. Konstruksi ini seperti potongan-potongan tembok yang dibangun sebagai ruang imajiner sebab bentuknya tidak tertutup.

Perhatikan deskripsi saya tentang cerita barusan. Cerita ini saya tuturkan ulang atas apa yang saya dapat saya serap selama 10 menit pertunjukan tahap pertama dalam keadaan mata tertutup. Di satu sisi, rasanya seperti mengikuti cerita dalam drama radio. Tapi tentu saja, karena penonton dibutakan maka pengalaman mendengar pertunjukan Margi Wuta bukanlah sekedar sebuah pengalaman mendengarkan sesuatu yang tidak bisa/boleh kita lihat.

Awalnya saya mengira Margi Wuta adalah tentang kebutaan—karena aktornya orang buta dan mata penontonnya dibutakan. Tapi setelah mengalami tahap kedua dan ketiga pertunjukan ini, saya menyadari bahwa pertunjukan ini bukan tentang kebutaan melainkan justru tentang penglihatan.

Pada tahap kedua, penonton kloter pertama dipersilahkan istirahat ke toilet atau ngapain aja selama 10 menit sembari menunggu penonton kloter kedua bersiap-siap masuk ke ruang pertunjukan. Penonton kloter pertama kemudian dipersilahkan duduk di kursi-kursi yang mengelilingi “panggung” pertunjukan. Sebagai penonton kloter pertama, lingkup “panggung” di sini berarti ruang yang digunakan pelakon mengadegankan cerita sekaligus kursi-kursi yang diduduki para penonton kloter kedua. Pada tahap ketiga pertunjukan, penonton kloter pertama menonton penonton yang dibutakan menonton orang buta. 

Margi Wuta adalah tentang penglihatan—atau tepatnya pengalaman melihat dan dilihat.

Pada tataran permukaan, tanggapan terhadap pertunjukan Margi Wuta bisa sangat mengharu-biru—seperti nonton “reality” show Jika Aku Menjadi di televisi. Sebagai penonton yang matanya baru dibutakan, setelah membuka penutup mata anda akan bertepuk tangan kagum pada kemampuan para pelakon difabel netra yang bisa bermain teater layaknya orang biasa. Anda akan mengeluk-elukan Joned karena telah menumbuhkan rasa empati penonton pada orang buta—ternyata tidak enak jadi orang buta. Setelah itu, anda akan pulang, barangkali sembari menyenandungkan lagu D’Massiv “Syukuri apa yang ada… Hidup adalah anugerah…” dan berkata dalam hati, “Makasih ya Allah, alhamdulillah Kau masih memberikanku penglihatan yang sempurna untuk pulang ke rumah. Lindungilah orang-orang buta itu, ya Allah.”

Akan tetapi, tanggapan demikian akan muncul jika sekedar membaca Margi Wuta dalam tataran etis yang sempit. Dalam tataran estetis, Margi Wuta menawarkan suatu perbicangan yang lebih rumit mengenai makna penglihatan.

Segera setelah mengalami Margi Wuta saya teringat pada sebuah adegan dalam novel Jose Saramago Blindness (1995).

Blindness adalah kisah tentang wabah buta yang melanda seluruh penduduk sebuah negeri tanpa nama. Tanpa penglihatan, yang ada hanyalah kekacauan. Rasa panik meluluhlantakkan seluruh aturan hak dan kewajiban yang dibuat-buat umat manusia untuk menjalankan peradaban. Wabah buta menghentikan denyut nadi kehidupan sehari-hari. Siang dan malam tak lagi punya arti sebab tidak ada orang yang dapat melihatnya. Sistem pemerintahan mandeg sebab yang biasa mengatur maupun yang harus diatur sama-sama dilumpuhkan oleh kebutaan.

Suatu ketika, satu-satunya perempuan yang tidak terjangkit wabah buta menyusuri kota untuk mencari makanan bersama suaminya memasuki sebuah gereja tua. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya di dalam gereja. Seluruh mata patung-patung orang kudus di gereja itu ditutupi dengan kain putih. Lukisan-lukisan yang mengandung wujud manusia di gereja itu juga ditimpa dengan cat putih pada bagian mata. Tidak ada yang tahu siapa yang telah melakukan ini dan mengapa ia melakukannya.

“Mungkin orang itu berpikir jika orang buta tidak dapat melihat citraan maka citraan juga tidak boleh melihat orang buta.” “Engkau salah. Citraan tidak dapat melihat. Citraan melihat dengan mata orang yang melihat mereka,” begitulah percakapan sepasang suami istri di dalam gereja itu.

Margi Wuta memperluas pengertian kita tentang arti kebutaan dan penglihatan dengan memberi pengalaman menjadi buta ketika menonton orang buta.

Bagi saya, penutup mata yang wajib digunakan penonton Margi Wuta bisa disebut sebagai kaca-mata. Bukan kacamata yang membantu penglihatan, melainkan kaca-mata yang membuat kita melihat ke dalam penglihatan. 

Kebutaan bukan berarti tidak bisa melihat. Orang buta melihat dengan mata orang lain. Orang buta menyusun infrastruktur untuk melihat dunia berdasarkan infrastruktur yang dibangun orang yang bisa melihat. Akan tetapi, citraan dunia yang ia lihat berbeda dengan apa yang ditangkap oleh orang yang bisa melihat dan ini bukan berarti ia tidak bisa melihat.

Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak bisa melihat tidak selalu berarti penderita kebutaan. Bagi orang non difabel netra, kehidupan sehari-harinya bertumpu pada penglihatan. Akan tetapi, kemampuan melihat yang terberi kadang justru membutakan kita pada hal-hal sederhana yang ada di depan mata. Melihat berarti membaca tanda—“tak bisakah kau lihat betapa aku mencintaimu?” begitu ujar seorang laki-laki yang baru ditinggal kekasihnya. Dengan contoh ini, memang ternyata melihat tidak hanya selalu berhubungan dengan yang visual tapi juga dengan perasaan, ingatan dan kemampuan perseptual lainnya.

Biasanya, kita melihat orang buta dengan rasa kasihan. Dengan membutakan mata penonton, Margi Wuta menutup akses untuk menatap kasihan pada orang buta. Jika ada “pesan moral” dalam pertunjukkan ini, maka demikian yang saya tangkap: Difabel netra tidak butuh dikasihani melainkan difasilitasi. Rasa kasihan dapat melanggengkan relasi kuasa patron klien antara yang difabel dan tidak difabel. Sementara, fasilitas, seperti yang diberikan Joned kepada difabel netra dalam Margi Wuta, memberikan kesempatan bagi yang buta dan tidak buta dalam posisi setara.

Ketika penonton kloter pertama dipersilahkan untuk menonton orang yang dibutakan menonton orang buta, maka lapisan dalam pengalaman melihat dalam kebutaan bertambah lagi jadi refleksi atas pengalaman dilihat. Dengan menonton pengalamannya sendiri yang serupa posisinya dengan penonton kloter kedua, penonton kloter pertama diajak mengalami bagaimana rasanya dilihat sebagai orang buta.

Dalam seni partisipatoris, pemberdayaan, berbasis sosial atau apapun istilahnya sekarang, penonton diajak terlibat aktif membangun sebuah karya seni atau pertunjukan. Di dalam bentuk-bentuk yang semakin umum ini (untuk tidak mengatakannya membosankan), penonton berubah posisi menjadi bagian dari tontonan atau menjadi yang ditonton. Akan tetapi, jarang ada karya yang memberi ruang reflektif untuk memikirkan keterlibatan dan kesadaran subyektif ketika menjadi tontonan. Jika semua orang menjadi (atau ingin jadi) tontonan, maka siapa yang menonton?

Di sini, Margi Wuta menjadikan penonton sebagai bagian dari tontonan sekaligus memberikan pengalaman menonton dan ditonton. Keberhasilannya yang pertama ialah kemampuannya melampaui etika seni pemberdayaan dengan merumitkan relasi kuasa antar subjek dalam pertunjukan. Kedua, melalui perumitan lapisan kepenontonan, Margi Wuta menawarkan suatu terobosan estetik dalam praktik lintas-melintas dinding ke empat di seni teater. 

Meski demikian, harap menjadi perhatian: pendapat saya ini, hanya berasal dari apa yang bisa saya “lihat”.

 

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s