Upaya untuk memahami bentuk waktu

the next is now

Next is now – Iklan di Bandar Udara Hong Kong, September 2015.

Adakah waktu berbentuk?
Menurut fisikawan Alan Lightman dalam Mimpi-Mimpi Einstein ada dua jenis waktu di dunia ini. Waktu mekanis dan waktu tubuh. “Waktu yang pertama kaku, laksana pendulum besi raksasa yang berayun maju mundur. Waktu yang kedua bergeliang-geliut seperti ikan cucut di teluk.” Waktu yang pertama, menurutnya, tak bisa ditolak.

“Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?” tulis Chairil Anwar di tahun 1948.

Waktu yang kedua, masih menurut Lightman, mengambil keputusannya sesuka hati. Orang yang hidup dalam waktu tubuh lebih mempercayai detak jantungnya sendiri ketimbang detik jarum jam. Orang yang hidup dalam waktu mekanis meyakini bahwa tubuh bukanlah keajaiban, melainkan susunan senyawa kimia dan impuls saraf yang dapat diukur dan dirumuskan seperti membuat mesin jam dinding. Kedua waktu ini ada secara bersamaan, menyajikan kebenarannya masing-masing. Akan tetapi mereka tidak akur, sebab nasib waktu mekanis sudah ditentukan oleh konvensi secara manasuka. 1 jam = 60 menit = 3600 detik. Sementara waktu tubuh bergantung pada irama suasana hati seseorang. Dua menit bisa menjadi misteri yang panjang bagi laki-laki gelisah yang menunggu jawaban dari bibir perempuan yang ditaksirnya.

Bentuk waktu hanya bisa terjelaskan melalui durasi dan tempo. Panjang, pendek, lama, sebentar, cepat, lambat, sementara, abadi. Nasib waktu bergantung pada kebenaran mana yang kita percaya. Akan tetapi, cara kita memahami dan mengalami waktu juga ditentukan oleh pengalaman sosial atas kecepatan dan perubahan. Sejarah, perkembangan kota, penemuan teknologi baru memengaruhi irama detak jantung dan ritme kehidupan kolektif kita.

Dalam waktu mekanik, perubahan terbagi dalam kompartemen-kompartemen rigid. Masa lalu ada di belakang, masa depan di depan dan menempati masa kini berarti berada di dalam mobil menyetir ke suatu tujuan sembari sesekali menengok ke masa lampau dari kaca spion. Di luar waktu mekanik, tubuh menciptakan berbagai bentuk waktu. Kadang ia mengalir seperti air, kadang ia berputar dalam lingkaran, kadang ia terpaku membeku. Di sini waktu merumitkan dirinya sendiri, masa lalu berkelindan keluar masuk dan masa depan mengganggu beradu-pacu dengan masa kini. Bagaimana cara kita untuk dapat memahami kekinian?

Berbagai konsepsi atas waktu adalah upaya untuk memahami kekinian yang kita hidupi bersama. Konstruksi periodesasi waktu merupakan satu cara. Yang modern diciptakan untuk membedakan diri dari pra-modern. Waktu modern adalah transisi permanen untuk terus melampaui dirinya. Menjadi yang terbaru, tercepat dan terdepan adalah cita-cita modern. Sementara periode kontemporer, menurut pelacakan sejarawan seni Peter Osborne, mulai muncul sebagai wacana yang padat pasca perang dunia kedua, tepatnya di Eropa Timur sebagai reaksi penolakan atas kategori modernitas dan modernisme. Intelektual Soviet memandang modernisme sebagai representasi ideologi waktu historis kapitalisme dan sebagai tangkisan, menyatakan realisme sosialis Soviet sebagai realisme kontemporer yang lebih aktual. Wacana kontemporer di Barat baru berkembang pada akhir 80-an, khususnya pasca runtuhnya tembok Berlin tahun 1989 mengakhiri perang ideologi blok Barat dan blok Timur. Kita tentu bisa mencari sendiri genealogi seni modern dan kontemporer dalam konteks seni Indonesia, yang meski tidak bisa dilepaskan dari konteks perang dingin, tapi pasti memiliki kepelikan sejarahnya sendiri.

Berbeda dengan projek modernisme, kontemporer menginterupsi waktu modern yang homogen, linier dengan ritme yang normatif. Waktu kontemporer bersifat heterogen, temponya tak tetap dan beragam. Apabila waktu modern adalah bentuk kolonialisme yang ingin menciptakan waktu global untuk menjalankan proyek-proyek kapitalisme dengan Barat sebagai pusat, maka waktu kontemporer adalah waktu yang ditentukan oleh konteks geopolitik. Kesatuan waktu adalah dialektika ruang-ruang sosial di mana pusat dan pinggiran terus menerus dalam kondisi konflik. Artinya, keragaman narasi yang mendapatkan suaranya kini bukan berarti serta merta memberi panggung pada eksotisme dan narsisme tradisi. Waktu kontemporer, menurut Osborne, seharusnya merupakan fiksi geopolitik yang diimajinasikan untuk mengonstruksi suatu ruang sejarah bersama yang bersifat translokal (Saya memilih terma translokal ketimbang transnational sebagaimana digunakan Osborne sebab geopolitik perlu dipahami melampaui bentuk negara-bangsa). Kekinian tidak bisa dipahami dengan kacamata tunggal sebab kekinian adalah konflik abadi antara berbagai bentuk dan gerak waktu. Dengan begini, bisa jadi metode penulisan sejarah (secara) kontemporer tidak bisa lagi terbatas hanya pada pembentukan kanon-kanon yang tertambat di satu lingkup daerah atau negara tapi juga pada bagaimana pertemuan-pertemuan translokal menciptakan narasi hibrid tentang mobilitas identitas diri, bangsa, kawasan regional maupun global. (bersambung)

time can wait

“Time can wait” – Iklan di Bandar Udara Hong Kong, September 2015

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s