Seni Menghela Nafas

Esai pendek ini merupakan alih bahasa bebas dari The Fine Art of Sighing, Bernard Cooper (1999).

Di dalam dirimu, engkau merasa ada sesuatu yang menimbun; entah kepuasan, atau kejemuan, atau melankolia. Apapun perasaan itu, ia lebih besar dari yang pernah kau mimpikan. Tubuhmu tak lagi dapat menampung perasaan itu, seperti dua belah telapak tangan yang tak akan mampu menangkup seluruh isi danau. Kau menyerah, lalu mencoba menghirup udara dalam-dalam. Esofagusmu membentang, diafragmamu mengembang. Di pucuk proses pernapasan itu, tubuhmu berancang untuk segera terbebas dari segala beban, setiap detik, setiap sel. Ceret mendesis. Balon mengempis. Bahumu rontok seperti buah pir masak yang jatuh dari pohonnya. Akhirnya otot-ototmu melemas.

Ibu menatap ke luar dari kaca jendela dapur, abu rokoknya menitik ke dalam bak cuci. Ia memalingkan punggungnya membelakangi seluruh isi rumah, mengawal kesepiannya sendiri. Saya berjingkat-jingkat menyeberangi lantai dan menghabiskan makan siang tanpa suara. Pada saat-saat seperti itu, adakalanya saya melihat punggung Ibu seperti mengembang, lalu saya mendengar sepotong nada yang tersungkur keluar dari mulut Ibu, sebuah desah nafas yang panjang dan melelahkan, seolah itu adalah desahan terakhir dalam hidup Ibu. Di balik halaman belakang rumah kami, di atas tiang-tiang telepon dan gedung-gedung apartemen, terbitlah cakrawala kota yang berwarna kecoklatan; burung-burung sesekali meluncur, balon udara melintas mereklamekan ban mobil Goodyear. Ibu mungkin tengah terhanyut menghayati jarak, atau justru meratapi jurang antara ia dan hal-hal yang tak bisa dijangkaunya. Ibu mungkin tengah berkhayal untuk bisa berada di tempat lain, atau berharap setidaknya ia bisa merasa bahagia di tempatnya sekarang, sebagai seorang ibu rumah tangga paruh baya di depan bak cuci.

Desah nafas ayah agak lebih melodius. Apa yang mulanya terdengar sebagai nada yang berat dan muram dapat seketika berubah haluan; antara menghela dan mendesah. Perubahan bunyi yang tiba-tiba ini seolah mengutarakan bahwa apa yang berawal sebagai kegetiran bisa saja berujung menjadi suatu pelampiasan yang memuaskan. Ayah dapat memanjangkan lafaz bunyi suara “OY”, atau melantunkannya sehingga bertalun-talun seperti gema, seperti suara teriakan yang lepas di gorong-gorong atau di dalam gua. Apabila asal muasal desah nafas Ibu bersumber dari kesedihan yang tak dapat diurai oleh kata-kata, maka Ayah menghela nafas untuk hal-hal yang sederhana: untuk kesejukan air yang melaju di kerongkongan, untuk kelembutan sebuah bantal, atau untuk garukan tangan Ibu yang berhasil menuruti petunjuk suara Ayah yang gelisah ketika mencoba memetakan lokasi rasa gatal di punggungnya.

Teman saya pernah bilang bahwa karakter helaan nafas saya panjang dan berat. Ketika saya mulai menyadari kebiasaan ini, saya seperti mendengar suara desau Ayah dalam desahan nafas saya sendiri, dan untuk sesaat saya dapat memahami sedikit kepuasaan yang dirasakan Ayah. Kadang, saya juga dapat merasakan keresahan Ibu. Sembari menghela nafas, saya berangan-angan untuk dapat keluar dari tubuh ini bersama dengan desah nafas saya, atau berharap untuk setidaknya dapat merasakan kebahagiaan di dalam tubuh yang baru saja ditinggalkan oleh sang nafas.

Cara bernapas yang penuh arti ini seperti ada begitu saja, tapi ia juga merupakan suatu warisan yang turun temurun. Dengar baik-baik: Paru-paru nenek moyang saya yang beraksi seperti pompa, seperti laki-laki yang mengayuh perahu di sungai Volga, seperti perempuan yang menggendong keranjang-keranjang roti dan ikan. Di penghujung hari yang panjang, mereka mengangkat tangan ke udara, memuja tubuh yang gerah dan bau Vodka yang menyengat—suara a-h-h yang keluar dari mulut mereka larut dalam udara beku di Rusia.

Di saat kapanpun, pasti ada ribuan orang yang tengah menghela napas. Seorang laki-laki di Milwaukee menjunjung dan mengguncang dan memberkati kepala istri keduanya yang tanpa malu-malu menjilati jari kaki suaminya. Seorang hakim di Munich mendesah nikmat setelah merasakan lagi sosis Jerman yang pernah dimakannya waktu kecil. Setiap hari, berbagai desahan dengan bejibun makna terhempas dari tubuh anak-anak sekolah, guru mengemudi, ahli forensik, akuntan publik bersertifikat, dokter gigi, dan sederetan profesi lainnya. Desahan nafas janda-janda saja mungkin telah menyumbang porsi yang cukup signifikan dalam peredaran karbondioksida di atmosfir. Setiap kali sebuah korset dilepaskan, atau sepasang kaki direndam dalam air panas, atau sebuah toilet yang akhirnya ditemukan di jalanan terpencil . . . bayangkan jika desah-desah nafas yang berhembus itu terakumulasi dalam kecepatan ala kadarnya saja, ia dapat menciptakan angin mistral di musim dingin, angin siroccos di musim panas, dan badai angin ribut; panah-panah akan mengeriap ke peta satelit, para penaksir cuaca berbicara dengan kecepatan satu mil per menit, dasi-dasi mereka berkibar di leher seperti bendera. Sebelum saya mengetahui bahwa para tahanan penjara Venesia tengah digiring menuju ruang eksekusi, saya membayangkan sebuah ‘Jembatan Desah’ yang disusun oleh insinyur-insinyur yang tak terlihat, sebuah struktur yang menaungi bumi, berupa besi, rangka, tali temali dan kabel, pemberat dan pegangan, seluruhnya menghubungkan nafas manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s