Apakah ikan memiliki perasaan?

“It’s okay to eat fish, cause they don’t have any feelings”, begitu kata Kurt Cobain dalam lagu Something in The Way. Sebagai pertanyaan filosofis, “Apakah ikan memiliki perasaan?” bisa jadi terasa mengada-ada. Tapi apabila kita melongok sedikit ke ilmu alam, perdebatan tentang apakah ikan memiliki perasaan ternyata telah berlangsung dengan cukup hangat dan serius. Jika diperhatikan agak lama, ekspresi wajah ikan memang aneh dan lucu. Matanya seperti selalu membelalak, mimiknya kaku tak pernah berubah, sehingga terlihat sedikit kosong dan dungu. Secara umum, sampai tahun 90-an pengetahuan populer yang didasarkan pada penelitian ilmu biologi kelautan mendefinisikan ikan sebagai binatang yang tidak memiliki perasaan karena mereka tidak memiliki neocortex layaknya mamalia. Neocortex adalah bagian dalam otak yang berfungsi untuk memproses pengalaman sensorik dan membaca perintah motorik, ia juga merupakan bagian penting yang memengaruhi kesadaran pikiran dan kemampuan berbahasa hewan mamal. Meski demikian, berbagai ekperimen di tahun 2000-an memberikan fakta baru bahwa ternyata ikan pun memiliki perasaan. Beberapa peneliti melakukan eksperimen dengan menyuntikkan asam dan racun lebah ke area mulut ikan untuk menstimulasi rasa sakit, dan ternyata ikan-ikan tersebut bereaksi dengan menggosok-gosokan mulut mereka ke dasar tabung akuarium dan kehilangan ketertarikan pada makanan sampai reaksi racun hilang. Penelitian ini berkesimpulan bahwa di daerah mulut ikan terdapat nociceptor (yang juga dimiliki hewan mamal dan terdapat di kulit) yang berfungsi untuk mendeteksi dan menyampaikan sinyal-sinyal rasa sakit ke otak, dan itu berarti ikan dapat merasakan sakit. Contoh dan buktinya: bukankah ikan yang mulutnya terperangkap kail akan menggelepar dan berusaha membebaskan diri? Meski demikian, penelitian ini masih mengandung beberapa perdebatan. Pertama, ikan mungkin bisa memberi tanggapan atas stimulasi yang menyebabkan rasa sakit. Tapi mungkinkah ini hanya sekedar reaksi reflek motorik? Apakah gerakan instingtif bisa disamakan dengan perasaan? Ikan mungkin bisa sakit, tapi apakah ia bisa merasakan kesakitan? Saya tidak akan (dan tidak bisa) berpanjang lebar dengan sains keikanan. Ada banyak eksperimen menarik yang menampilkan data-data tentang relasi antara ikan dan perasaan yang menguatkan kemungkinan bahwa ikan memiliki perasaan seperti sakit, marah dan takut. Perdebatan tentang apakah ikan memiliki perasaan masih berlangsung sampai sekarang dan mari kita biarkan para ilmuwan melaksanakan tugasnya. Pertanyaannya sekarang, dari data-data yang ada, apa hubungan antara ikan dan filsafat? Mengapa kita harus peduli apakah ikan memiliki perasaan atau tidak?

Berangkat dari hipotesis bahwa ikan memiliki perasaan meski tidak memiliki neocortex, Michael Tye, seorang filsuf analitik memunculkan pertanyaan epistemologis yang mendasar. Pertama, selama ini kesadaran manusia dianggap berasal dari neocortex. Tapi, penelitian terhadap ikan menunjukkan bahwa ikan tidak memiliki neocortex tapi bisa memiliki kesadaran. Maka, kita patut curiga, apakah kesadaran manusia memang berasal dari neocortex? Apakah betul kesadaran sifatnya material (biologis)? Mengapa ada neocortex dalam otak manusia? Dari mana sebetulnya asal kesadaran? Pada abad 17, adagium Rene Descartes “Aku berpikir maka aku ada” berpandangan bahwa kesadaran manusia berpusat pada kemampuannya untuk berpikir. Relasi antara tubuh dan pikiran dipisahkan, dan intelektualitas lebih penting daripada pengalaman ketubuhan. Dari perspektif ini, kesadaran manusia adalah pusat, dan pengetahuan berasal dari kemampuan intelektual subyek untuk memproses objek. Fenomenologi di abad 20 menolak pandangan Cartesian ini dan berpandangan bahwa pengalaman sensorik juga memiliki peran penting dalam kesadaran. Dalam perspektif ini, subyek bukanlah satu-satunya pusat, sebab objek pun memiliki kualitas yang memengaruhi kesadaran subyek. Apabila relasi subyek-obyek Cartesian satu arah dan didominasi oleh proyeksi pikiran subyek, maka dalam fenomenologi, subyek dan obyek merupakan konstruksi resiprokal yang lebih memberatkan produksi pengetahuan pada pengalaman tubuh ketimbang intelektualitas.

Persoalan subyektivitas menjadi sedikit lebih rumit ketika kita membicarakan perasaan. Pertama, apa itu sebenarnya perasaan? Apakah perasaan adalah murni pengetahuan subyektif? Bagaimana kita dapat memutuskan apakah ikan memiliki perasaan atau tidak berdasarkan kriteria perasaan milik manusia? Apakah perasaan bersifat universal atau singular? Apa syarat-syarat untuk dapat dianggap memiliki perasaan? Bisakah kita menyalahkan neocortex apabila ada orang yang mengatakan kepada kita, “Dasar nggak punya perasaan!” Apakah perasaan merupakan pengetahuan a priori atau a posteriori? Kisah Gabby Gingras, seorang gadis yang memiliki penyakit langka di dunia bisa jadi bahan pertimbangan menarik untuk memikirkan hal ini. Gabby Gingras adalah seorang gadis asal Minnesota yang dilahirkan tanpa kemampuan sensorik untuk merasakan sakit. Karena kelainan biologis ini, Gabby terus melukai dirinya sejak bayi. Ia mencongkel matanya sendiri, menggaruk wajahnya sampai berdarah dan menggigiti gusinya sampai rusak. Demi mencegah Gabby kecil melukai dirinya sendiri, ia dipasangi kacamata renang dan seluruh giginya dicabut. Ketika beranjak dewasa, ia mulai diajari tentang sebab akibat yang dapat melukai tubuhnya dan cara mencegahnya meski kadang ia masih tidak sadar dan pulang sekolah dengan luka-luka di tubuhnya.

Ada dua poin penting dari kasus Gabby: Pertama, bahwa rasa sakit sesungguhnya bukanlah bencana melainkan anugerah bagi manusia. Dari rasa sakit kita bisa belajar memahami dan terhindar dari luka. Yang kedua, kasus Gabby menjadi data yang memperumit problem epistemologi. Meski Gabby tidak bisa merasakan sakit, ia bisa merasakan senang dan sedih. Perasaan ini tidak berasal dari pengetahuan subyektif yang dialami sendiri oleh Gabby, tapi dari pengetahuan yang didapat dari relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Artinya, kita bisa berhipotesis bahwa perasaan tidak melulu berangkat dari pengalaman ketubuhan. Kita bisa mentransmisi pengetahuan tentang perasaan melalui proposisi dan konsep. Dengan demikian, pertama, penelitian ini dapat membuka kemungkinan untuk merumuskan sikap empati kepada sesama. Kita tidak perlu pernah merasakan kelaparan untuk bisa berempati pada orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya untuk makan. Kedua, pepatah “kata-kata lebih tajam dari mata pedang” menemukan logika filosofisnya. Luka tidak hanya berasal dari tubuh tapi juga dari pikiran. Dengan demikian, pertanyaan tentang apakah ikan memiliki perasaan mendorong kita untuk memikirkan asal dari kesadaran, sementara kasus Gabby memberi kemungkinan untuk memikirkan jembatan antara pengetahuan subyektif dan obyektif, atau antara subyektivitas Cartesian versus subyektivitas fenomenologi.

Tulisan ini merupakan elaborasi singkat atas kuliah umum Michael Tye di King’s College, London pada 20 Mei 2014.

Appendix 1:

Apabila tradisi filsafat analitik menciptakan proposisi logis dengan membangun relasi yang kuat dan stabil antara filsafat dengan ilmu alam, maka saya ingin sedikit “meracuni” tulisan ini dengan sebuah teks yang dikutip dari bab “An Anatomical Chart of Love Pain” dalam novel Museum of Innocence karya Orhan Pamuk. Nukilan ini dapat memberi perspektif berbeda, namun sama menariknya dengan data-data saintifik yang saya ceritakan di atas. Dalam nukilan ini, Pamuk mendeskripsikan rasa sakit tubuh yang disebabkan oleh patah hati.

“…the deepest pain was initially felt in the upper left-hand quadrant of my stomach. As the pain increased, it would, as the overlay indicates, radiate to the cavity between my lungs and my stomach. At that point its abdominal presence would no longer be confined to the left side, having spread to the right, feeling rather as if a hot poker or a screwdriver were twisting into me. It was as if first my stomach and then my entire abdomen were filling up with acid, as if sticky, red-hot little starfish were attaching themselves to my organs. As the pain grew more pervasive and intense, I would feel it climb into my forehead, over the back of my neck, my shoulders, my entire body, even invading my dreams to take a smothering hold of me. Sometimes, as diagrammed, a star of pain would form, centered on my navel, shooting shafts of acid to my throat, and my mouth, and I feared it would throttle me. If I hit the wall with my hand, or did a few calisthenics, or otherwise pushed myself as an athlete does, I could briefly block the pain, but at its most muted I could still feel it like an intravenous drip entering my bloodstream, and it was always there in my stomach; that was its epicenter. Despite all its tangible manifestations, I knew that the pain emanated from my mind, from my soul, but even so I could not bring myself to cleanse my mind and deliver myself from it. Inexperienced in such feeling, I was, like a proud young officer ambushed in his first command, forced into a mental rout. And it only made matters worse that I had hope—with every new day, new dreams, new reasons that Füsun might appear at the Merhamet Apartments—which by making the agony bearable prolonged it.”

Appendix 2:

Fish and Chip. Makanan khas Inggris.

 

 

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s