Memenceti jerawat

Putu Wijaya suatu kali pernah bilang bahwa baginya, “menulis adalah menggorok leher.” Saya senang sekali dengan metafora ini. Ada suatu kesan bahwa menulis adalah sebuah teror mental yang bertugas menumpahkan darah, mencurahkan makna–sebab kesenian, masih menurut Putu Wijaya, adalah “baskom [yang] menampung darah yang keluar dari leher seniman yang menggorok dirinya, menggorok orang lain, situasi, problematik, lingkungan, misteri, makna-makna yang berserak, menempel, terapung, bersembunyi di mana-mana.” Saya selalu terpana pada kemampuan kata-kata meneror pikiran. Kadang suatu rangkaian kalimat yang jitu bisa menyeret pembacanya untuk memeras otak selama berjam-jam, tapi ada pula kalimat yang dalam sekejap bisa menohok, seperti halnya saya yang terpaku pada kalimat “menulis adalah menggorok leher.” Dua-dua kemungkinan ini menggunakan kata-kata sebagai pisau, entah sebagai golok yang sekali tebas atau sebagai pisau lipat yang menguliti pelan-pelan suatu kenyataan.

Tapi sayangnya, saya adalah orang yang penakut. Lutut saya selalu lemas bila melihat darah (kecuali darah menstruasi sendiri, tentunya). Saya juga tidak bisa menikmati film yang mengumbar kekerasan berdarah-darah (tapi secara konseptual saya lumayan suka Tarantino), bukan karena saya anti konten yang eksplisit, tapi karena memang pada dasarnya saya penakut. Oleh karenanya, meski saya sangat terkesan dengan metafora milik Putu Wijaya, hati kecil saya sebagai seorang penulis amatir yang penakut ini merasa bahwa metafora tersebut kurang pas untuk menggambarkan hobi menulis saya. Selain itu, saya juga merasa bahwa tulisan-tulisan saya tidaklah punya daya yang mampu “menggorok leher” atau memuncratkan berjibun makna ke hadapan sidang pembaca. Untuk itu, saya kira tidak berlebihan apabila saya memaknai aktivitas menulis saya sebagai kegiatan memenceti jerawat. Ya, menulis adalah memenceti jerawat. Jerawat adalah penyakit kulit yang kecil, sepele, tapi juga mengganggu. Dorongan yang muncul di dalam diri saya ingin menulis adalah jerawat-jerawat kecil yang menggemaskan, minta dipenceti. Apa yang saya lihat, dengar atau baca adalah tumpukan bakteri yang menyumbat pori-pori kulit, meradang, menyebabkan iritasi dan siap pecah kapan saja. Berbeda dengan banjir darah yang akan bermuncratan dari leher yang digorok, darah yang mengucur dari jerawat pecah jumlahnya paling seiprit.

Memenceti jerawat itu memang sakit tapi bisa bikin kecanduan. Itu pulalah yang saya rasakan ketika menulis. Menulis adalah pekerjaan yang menjengkelkan. Duduk berjam-jam di depan layar komputer, menyusun kata-kata, melantur, membacanya, membacanya lagi, menghapusnya, melantur, menyusun ulang, membacanya lagi, dan seterusnya. Menulis menuntut sikap yang disiplin. Seperti halnya menulis, memencet jerawat bukan suatu keahlian yang mudah. Seorang pemencet jerawat yang kerdil nyalinya tidak akan tuntas memenceti jerawatnya sendiri sampai habis semua nanah dan darah di dalamnya, apabila ia tak kuat menahan rasa sakit. Menulis menuntut kesabaran dan ketegaran untuk membidani gagasan yang sudah meradang, siap pecah. Kecuali untuk tugas atau pekerjaan, saya tidak pernah memaksa diri saya menulis. Tapi selalu saja ada kala di mana saya merasa bahwa saya perlu menulis; ada sesuatu yang harus saya sampaikan, ada sesuatu yang mengganggu di kepala saya dan dia harus segera dikeluarkan, seperti nanah dalam kantung jerawat yang minta dipenceti.

Kegiatan memenceti jerawat tidak dianjurkan dokter kulit, karena dapat menyebabkan bekas luka pada kulit. Dan justru, persis, itulah menulis. Tulisan adalah bekas luka seorang penulis. “Ini muka penuh luka / Siapa punya?” tanya Chairil Anwar. Setiap kali membaca kembali tulisan-tulisan lama, saya kerap merasa malu, jijik dan ingin menghapusnya. Memang, menghapus tulisan adalah urusan mudah yang hanya memerlukan satu atau dua kali klik, sama sepelenya seperti menutupi bekas jerawat dengan kosmetik mahal. Tapi saya tak ingin menghapus tulisan-tulisan lama saya, meski membencinya setengah mati. Melihat kembali tulisan lama bukan berarti bernostalgia dengan masa muda, mengelus-ngelus kesalahan dan memaafkan begitu saja kesesatan pikiran yang pernah dibuat. Tulisan lama harus dituntut, dipertanyakan dan kalau perlu disangkal supaya seorang penulis selalu kontekstual. Membaca kembali tulisan yang pernah kita buat berarti memenceti lagi luka yang pernah kita buat, mencoba mengeluarkan seiprit darah segar dan nanah dari sisa-sisa luka. Luka-luka akan terus bertambah, tapi menjadi seorang penulis memang berarti harus siap terluka. Hari ini saya bilang menulis adalah memenceti jerawat. Besok, dua hari kemudian atau mungkin beberapa tahun lagi saya akan kembali membenci dan menertawakan apa yang saya tulis sekarang. Tapi saya pastikan, bahwa hari ini saya telah mencoba menuliskannya dengan bertanggung jawab, dan kelak, saya pun harus membacanya lagi dengan lebih bertanggung jawab (dan bisa jadi pengertian saya tentang tanggung jawab pun sudah berubah).

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s