Penelitian

Apa yang dimaksud dengan penelitian?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penelitian berasal dari kata dasar “teliti”, sebuah kata sifat yang memiliki sinonim kata “cermat, saksama dan hati-hati.” Masih dari sumber yang sama, penelitian dijabarkan sebagai “kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.” Sebagaimana bisa kita lihat, penjelasan kata “penelitian” menganjurkan syarat-syarat saintifik seperti “sistematis dan objektif” dengan tujuan yang juga saintifik, yaitu “memecahkan persoalan atau menguji hipotesis.”

Menurut saya, ada semacam karakter mawas diri dalam kata “teliti” yang tidak ditangkap oleh penjabaran kata “penelitian” sebagai sesuatu yang saintifik. Tidak ada yang salah dengan kata saintifik, hanya saja prinsip-prinsip penelitian bukannya tak bercela, dan tentu makna penelitian menjadi sangat terbatas apabila membayangkan peneliti sebagai jenius yang mampu (atau bahkan harus) memecahkan persoalan melalui hasil penelitiannya. Di sini, kata teliti lebih dekat dengan keraguan ketimbang kesimpulan. Dengan mengikuti perkembangan metodologi dalam disiplin ilmu etnografi terkini, kita dapat melihat adanya usaha untuk terus memperbaharui pemahaman kita atas penelitian, baik secara ontologis, epistemologis maupun etis. Mengapa etnografi? Tentu saja semua disiplin ilmu pada dasarnya mementingkan metode–baik metode penelitian lapangan atau metode analisis teks– namun barangkali diskursus yang berkembang dalam etnografi begitu dinamis karena disiplin ini memberi porsi penting pada kerja lapangan dalam proses penulisan naskah etnografi, dan demikian pada praktiknya mendorong suatu refleksi yang kritis dalam memaknai hubungan antara yang ditulis dan yang menulis, antara kenyataan dan sudut pandang dan antara teori dan praktik.

Dewasa ini, kata penelitian juga mulai akrab dibubuhkan dalam praktik seni kontemporer (“seni berbasis penelitian” misalnya), yang  bisa dilihat dengan menjamurnya program-program baru di universitas seni seperti art-practice research, practice led-research, practice based research atau practice as research. Di Indonesia, dalam lingkup seni Yogyakarta pada khususnya, dapat ditemukan berbagai praktik seni kelompok maupun individu (misalnya seni terapan ala Lifepatch atau HONF dan metode “mengubah data menjadi karya” ala FX Harsono atau Titarubi) yang menggunakan pendekatan semacam ini. Salah satu contoh terkini misalnya, pameran Dobrak! (memasangkan seniman dengan peneliti) atau proyek Pseudopartisipatif (mengajak seniman mengobservasi peristiwa seni di sekitarnya) di Cemeti Art House tahun 2013. Pada tahun 1996 Hal Foster sudah mengritik kecenderungan praktik seni yang mengaku berbasis penelitian dalam esai “Artists as Etnographer”. Menurut Foster, ketika seni menggunakan prinsip-prinsip etnografi dan menjadikan masyarakat/komunitas sebagai objek studinya, ada kemungkinan fatal yang hanya akan menguatkan otoritas/ dominasi seniman dan kemudian mengalienasi masyarakat yang tengah “ditelitinya.” Terlepas dari kritik Foster yang memberi kita pencerahan pada kecenderungan seni yang kerap ugal-ugalan meminjam metode etnografi demi mengafirmasi “kepentingan” konten karyanya, fenomena ini juga menunjukkan adanya kemungkinan relasi produktif antara seni dan sains (baik sains sosial atau sains alam), yang tidak hanya memengaruhi perkembangan dalam diskursus seni tapi juga dalam diskursus keilmuan. Artinya, bukan hanya seni yang dapat meminjam prinsip-prinsip penelitian saintifik, tapi penelitian saintifik juga bisa belajar banyak dari prinsip-prinsip seni. Quetzil Castaneda, seorang pengajar di Open School of Etnography and Anthropology, bahkan menganjurkan bahwa suatu penelitian adalah, atau harus mengandung, kesenian. Dalam tulisan pendek ini, saya ingin membicarakan bagaimana beberapa metode seni dapat digunakan mengembangkan metode penelitian yang lebih kritis. Untuk melakukan ini saya akan memeriksa beberapa teks dalam diskursus ilmu etnografi, meski menurut saya perspektif ini dapat digunakan untuk membicarakan aktivitas menulis secara umum.

Tekstualitas dan Performativitas

Dua pokok utama yang dibahas diskursus penelitian etnografi terkini adalah persoalan penelitian sebagai representasi saintifik dan sebagai politik produksi kebudayaan. Yang pertama berfokus pada representasi dalam cara penelitian etnografi dikomunikasikan dan yang kedua berfokus pada proses kerja lapangan dalam penelitian etnografis. Kerja lapangan biasanya hanya peduli pada pengumpulan dan penciptaan data (dengan cara memilih sampling, survey dan kuesioner) sehingga menggusur unsur pengalaman dalam dalam kerja lapangan, yang oleh Castaneda dibedakan antara “doing fieldwork” dan “being in fieldwork”. Dengan lebih berfokus pada unsur pengalaman, atau “being in fieldwork”, kita dapat memperbaharui perspektif ontologis kita dalam memikirkan arti penelitian. Menurut Castaneda, meski laporan etnografis disusun dengan tulisan, sejatinya ia berasal dari pengalaman dalam kerja lapangan dan dengan demikian selalu mengandung, dan perlu memerhatikan unsur performativitas di dalamnya (Castaneda, 2006, hlm. 76-77). Paradigma performatif memberi kita kesempatan untuk mengeksplorasi metode penulisan penelitian yang merepresentasikan pengalaman menubuh yang dialami oleh peneliti ketika melakukan kerja lapangan, serta membuat kita lebih kritis memikirkan kenyataan dan bagaimana interaksi antara realisme dan fiksi tarik menarik dalam tulisan.

Dalam artikelnya, Castaneda menawarkan penggunaan perspektif teater tak kasat mata (invisible theatre) Augusto Boal sebagai metode penelitian etnografis. Menurutnya, unsur provokatif dan interaktif dalam teater tak kasat mata dapat dimanifestasikan dalam penelitian etnografis tanpa perlu mencederai logika ilmu. Metode teater tak kasat mata Boal mengaburkan batasan antara teater sebagai tontonan dan kehidupan sehari-hari sebagai teater. Teater tak kasat mata “menyuntikkan” provokasi secara diam-diam ke dalam peristiwa sehari-hari dengan tujuan untuk menyulut potensi perbincangan atau perdebatan yang diharapkan mampu memberi perubahan sosial meski sifatnya subtil. Menurut Castaneda, kerja lapangan pada dasarnya juga adalah sebuah pertunjukkan teater tak kasat mata. Seorang peneliti bukan agen netral yang kerjaannya hanya mengamati relasi sosial dan membawanya ke laboratorium untuk diperiksa sebab akibatnya. Pertanyaan penelitian seorang peneliti adalah sebuah skenario yang diuji dalam kerja lapangan sebagai provokasi untuk mendorong perubahan, yaitu memberikan kesadaran baru, baik bagi subjek yang diteliti maupun sang peneliti sendiri. Selain itu, penelitian dengan metode teater tak kasat mata juga menjadikan kerja lapangan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, artinya, sebuah penelitian tidak melulu harus berintensi untuk mengumpulkan data secara formal dengan wawancara atau membagikan kuesioner. Situasi di mana seorang peneliti tak sengaja melihat, mendengar atau terlibat dalam suatu obrolan dan berbagi cerita justru berpotensi memperkaya penulisan etnografis dengan data-data yang tidak melulu kognitif tapi juga sensorik.

Model penelitian ala teater tak kasat mata juga mengubah relasi antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Apabila metode kerja lapangan biasanya diinterpretasikan sebagai metode mengambil data dari informan di lapangan, maka metode teater tak kasat mata merupakan proses menciptakan data yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan subjek yang diteliti. Dengan proses yang kolaboratif, sebuah penelitian tidak melulu berfokus pada intensi peneliti yang biasanya dalam wawancara atau kuesioner sudah secara tidak langsung mengarahkan jawaban untuk membuktikan hipotesisnya. Sirkulasi pengalaman dan pengetahuan juga terbangun dua arah karena metode ini tidak didasarkan oleh otoritas peneliti untuk mengeksploitasi subjek yang diteliti. Penelitian dijadikan sebagai platform untuk saling memberi dan menerima, atau “an act of sharing time.”

Tulisan dan Gambar

Pada bagian pertama saya telah selintas membahas kemungkinan untuk meminjam perspektif teater tak kasat mata untuk mengembangkan metode kerja lapangan. Sekarang saya ingin mengeksplorasi kemungkinan untuk meminjam seni visual, khususnya drawing, untuk memperkaya metode penulisan etnografi. Penelitian saintifik umumnya dimanifestasikan dalam bentuk tulisan. Apa yang kita sebut sebagai ilmu pengetahuan saat ini didominasi oleh rezim tulisan. Kalaupun ada gambar, seperti diagram atau statistik, biasanya dianggap hanya sebagai ilustrasi tambahan untuk tulisan. Dalam pendidikan keahlian dasar, kemampuan menulis dianggap lebih penting daripada menggambar (tidak ada program pemberantasan buta gambar, yang ada hanya program pemberantasan buta huruf). Hal ini sebetulnya justru menunjukan bahwa menggambar bisa menjadi metode belajar yang lebih mudah diakses orang banyak ketimbang kemampuan menulis yang harus dipelajari sebelumnya. Tulisan kerap dibatasi oleh persoalan bahasa, entah persoalan perbedaan bahasa (khususnya rezim bahasa Inggris) atau perbedaan kelas dalam bahasa (misalnya bahasa formal dan bahasa non formal). Bahasa adalah rumah bagi Ada, begitu kata Heidegger –tapi rumah ini juga bisa berarti penjara, karena kadang bahasa justru membatasi ekspresi kita dengan peraturan arbitrer. Meski demikian, seperti telah disebutkan sebelumnya, rezim pendidikan yang lebih menggunggulkan kemampuan menulis membuat kita terbiasa untuk menyampaikan pendapat melalui tulisan ketimbang gambar atau gerak. Apalagi sejak kebiasaan menulis dengan tangan mulai tergantikan oleh mesin tik atau komputer, kemampuan menggambar tidak pernah diasah, meski untungnya–tidak seperti tulisan– tidak ada ukuran benar/salah dalam menggambar.

Dalam buku I Swear I Saw This, Michael Taussig membahas fungsi drawing dalam penelitian antropologi. Argumen dasar yang ditawarkan Taussig berjalan beriringan dengan kecenderungan diskursus dalam disiplin ilmu etnografi yang mencoba kritis terhadap segala bentuk representasi kenyataan. Taussig menggunakan gambar-gambar yang ia buat dalam buku catatan lapangannya di Colombia selama hampir empat puluh tahun untuk merenungkan arti rekaman dan dokumentasi. Buku ini sebetulnya berangkat dari rasa frustasi terhadap ketidakmungkinan bahasa untuk menangkap kenyataan secara utuh, ia mengatakan:

“These drawings surpass the realism of the fieldworker’s notebook, that drive to get it all down in writing just as it was, that relentless drive that makes you feel sick as the very words you write down seem to erase the reality you are writing about. This can be miraculously checked, however, and even overturned, by a drawing — not because a drawing makes up the shortfall so as to complete reality or to supercharge realism, but on the contrary, because drawing have the capacity to head off in altogether other direction.” (Taussig, 2011, hlm. 13)

Taussig menganggap drawing lebih mumpuni sebagai rekaman justru karena metode ini tidak memiliki hasrat atas keutuhan. Menurutnya intervensi drawing pada kenyataan menarik karena ia tidak mengubah bentuk kenyataan secara manasuka seperti yang dilakukan bahasa (coba pikir, kenapa realitas pohon harus disebut pohon, atau realitas anjing harus disebut anjing?), tapi juga tidak mencoba untuk merekam secara detail dan faktual seperti teknologi fotografi atau video. Bagi Taussig, selalu ada unsur surealisme dalam drawing, dan– bukankah kenyataan itu memang sureal? Meminjam pandangan surealisme di tahun 1920, kenyataan hidup dianggap hanya bisa ditangkap dalam posisi mengambang antara tidur dan terjaga (sleeping and waking). Dalam situasi di ambang ini, kenyataan menghamparkan suatu festival kata dan imaji yang tidak terpaku pada satu makna. Kenyataan selalu sureal karena sifatnya dinamis dan terus mengalir, dan bahasa saja tidak akan mampu memerangkap kenyataan dalam satu wadah yang statis. Teknologi Drawing menempatkan dirinya sebagai catatan atas kenyataan yang sifatnya rentan, ia menampilkan ketidakstabilan penilaian subyektif kita atas yang Nyata karena statusnya rentan berada di antara fakta dan fiksi.

Meski demikian, metode drawing yang dibicarakan Taussig tidak tengah membabat habis logika keilmuan dalam penciptaan pengetahuan. Dia tidak sedang menyarankan seorang peneliti untuk berhenti menulis dan mulai menggambar laporan penelitiannya –buku I Swear I Saw This pun masih dipenuhi oleh tulisan ketimbang gambar. Taussig menunjukkan bahwa sebagai peneliti, barangkali kita harus kembali pada kata dasar penelitian, yakni “teliti”, selalu berhati-hati dan curiga atas apa yang kita pikir kita lihat. Karakter praktik drawing dijadikan pemicu untuk membicarakan celah dan batas metode dalam ilmu pengetahuan yang harus disadari oleh peneliti. Karakter ini tidak hanya eksklusif dimiliki drawing saja, melainkan juga dapat dijadikan acuan untuk juga mengembangkan metode dalam teknologi representasi lain, seperti tulisan, fotografi dan video.

Estetika dan Etika

Kita telah melihat berbagai kemungkinan di mana penelitian akademis dapat meminjam metode dari disiplin seni untuk memperkaya dan memperluas makna pengetahuan. Meski demikian, metode ini tidak hanya menyentuh unsur estetika atau hanya berkutat pada persoalan bentuk dan cara penyampaian saja. Metode penelitian yang meminjam paradigma seni juga sebetulnya menyinggung persoalan etika dalam penelitian. Kita tahu, bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah steril dari soal ekonomi dan politik. Beberapa lembaga yang menjalankan penelitian atau proyek-proyek pemberdayaan komunitas kerap menjadikan kebudayaan sebagai komoditas karena sangat bergantung pada lembaga donor. Prosedur aplikasi pengajuan hibah acap kali memaksa peneliti untuk merancang penelitian dan menulis laporan dengan bahasa yang menerjemahkan pengalaman dalam kerja lapangan menjadi protokoler dan logika progresif modern yang menjadikan masyarakat sebagai kelinci percobaan untuk diteliti dan “diperbaiki”. Tapi terlepas dari persoalan ekonomi penelitian(karena toh kita semua memang butuh uang, dan kita bisa menggunakan strategi “take the money and run” ketika berurusan dengan lembaga donor), saya lebih tertarik menyisakan sebuah pertanyaan tentang etika representasi. Mungkinkah kita dapat merepresentasikan orang lain tanpa mendominasi? Mungkinkah seorang laki-laki menjadi feminis? Mungkinkah seorang kelas menengah berbicara atas nama kaum proletar? Sementara ini, saya kira seorang penulis atau peneliti tidak bertugas untuk “menyuarakan” pendapat orang lain; apa yang ia tulis adalah pendapatnya sendiri– yang tentu memiliki batas dan tidak pernah utuh sebagai representasi. Untuk dapat mengisi kekosongan dari keterbatasan subyektivitas, seorang peneliti bertugas menciptakan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab bersama, sehingga sang liyan terdorong untuk bersuara dan dengan demikian tercipta pengetahuan yang sifatnya intersubjektif.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s