Mesin Pencipta Keaslian

Keaslian, sebagaimana kita semua barangkali sudah tahu, tidaklah turun dari langit. Keaslian hanyalah iming-iming pedagang tas dan sepatu bermerk dengan harga selangit. Meski demikian, diskursus tentang keaslian di ranah akademis (misal soal plagiarisme) dan institusi besar seperti museum, lembaga arsip dan galeri (misal soal keaslian sebuah benda) masih terus bergulir sampai sekarang. Dalam ranah akademis, soal plagiarisme sudah cukup terang hukumnya. Ada aturan pengutipan dengan batasan jelas dan sanksi tegas bagi yang melanggar. Di universitas-universitas luar negri, setiap tugas kuliah harus dipindai Turnitin, sebuah mesin yang akan memeriksa seluruh kata dalam tulisan dan mencocokkannya dengan database mereka untuk menemukan apabila ada kemungkinan plagiat. Mesin ini tidak 100% akurat, tapi cukup efektif sebagai mesin yang membantu untuk mendeteksi keaslian (dan ketidakaslian).

Dalam institusi seni dan budaya, nilai keaslian suatu objek lebih ambivalen. Keaslian tidak dideteksi, tapi diciptakan. James Clifford dalam The Predicament of Culture in 21th Century (1998) membahas bagaimana praktik mengoleksi dalam tradisi museum ala Barat menciptakan sistem representasi yang melegitimasi keaslian. Pertama-tama, klasifikasi dan kategorisasi benda menciptakan ilusi akan adanya suatu realitas menyeluruh dan berlanjut yang dapat didefinisikan secara pasti. Misalnya, topeng kayu suku Dayak dijadikan alat ilustratif atas konsep mistisisme abstrak dan dijadikan afirmasi “bukti” untuk sebuah narasi etnografis. Pengaturan objek secara geografis atau kronologis melupakan kespesifikasikan produksi dan distribusi suatu benda, sehingga terciptalah identitas dan nilai baru (entah komersial, saintifik atau estetik) (Clifford, 1998, hlm. 219-220). Bagaimana cara mesin pencipta keaslian bekerja? Bagaimana mesin ini menciptakan perbedaan nilai untuk suvenir, barang antik, benda seni atau objek sejarah?

Image

Menurut Clifford, sejak awal abad 21 benda-benda koleksi diklasifikasikan menjadi dua: sebagai artefak kebudayaan yang saintifik dan sebagai benda seni yang estetik. Dalam diagram yang disusun Clifford, kita dapat melihat bagaimana mesin pencipta keaslian bukan hanya menciptakan oposisi biner sains dan seni tapi juga membaginya lagi jadi empat zona semantik yang tersusun dari persilangan sumbu horizontal dan vertikal. Zona-zona tersebut: (1) Zona mahakarya otentik, (2) Zona artefak otentik, (3) Zona mahakarya tidak otentik dan (4) Zona artefak tidak otentik, menggambarkan suatu sirkulasi gerak objek yang menciptakan konteks dan mengubah nilai objek. Secara umum, objek-objek seni dan budaya dapat diklasifikasikan dalam salah satu zona itu, atau bisa juga secara ambigu lalu lalang di antara dua zona. Secara umum pergerakan suatu objek biasanya menuju nilai yang lebih tinggi atau berarti dari bawah ke atas atau kanan ke kiri–menuju otentisitas (Clifford, 1998, hlm. 223).

Sebagai contoh, misalnya semakin langka jumlah topeng Dayak yang tersedia maka nilai ke-mahakarya-annya akan semakin meningkat dan mengubah posisinya dari zona (2) ke zona (1). Pengkontekstualisasian secara historis, misalnya dengan membubuhkan suatu “kedalaman” sejarah pada suatu benda dapat mengubah statusnya dari benda etnografis menjadi karya seni bernilai tinggi yang dikategorikan oleh Barat sebagai “seni primitif”. Sementara, contoh paling gamblang untuk lalu lintas benda dari zona (3) ke zona (1) adalah kaleng sup Andy Warhol atau urinal Marcel Duchamp. Narasi otoritas menanamkan nilai pada benda-benda dan menggerakan objek untuk melintasi zona-zona ini (Clifford, 1998, hlm. 224-226). Perlu dicatat, penanaman nilai tidak melulu menggerakan objek dari atas ke bawah atau kiri ke kanan secara positif. Diagram yang disusun Clifford menunjukkan bahwa pergerakan nilai objek antar zona, baik secara positif atau negatif didorong tidak hanya oleh nilai saintifik dan nilai estetik (yang keduanya selalu sudah politis) tapi juga didominasi oleh nilai komersial. Meski demikian, diagram ini bukanlah suatu pemetaan atas sesuatu yang ajek melainkan justru tengah menunjukan betapa sistem ini sesungguhnya tidak sepenuhya mampu menangkap kompleksitas dan ambiguitas pergerakan objek. Gambaran Clifford atas mesin pencipta keaslian yang dirakit museum dan insititusi seni budaya menunjukan bahwa sistem ini lebih berorientasi kepada struktur dan bukan kepada objek itu sendiri.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s