Kemiskinan tidaklah mengerikan, hanya sedikit jorok dan membosankan

rumah orwell

Rumah tempat George Orwell mengerami kata-kata selama satu tahun di kawasan Portobello, London. Foto diambil pada Oktober 2013.

Teks di bawah ini adalah terjemahan bebas dari Bab 3 buku George Orwell Down and Out in Paris and London (selanjutnya Down and Out). Buku ini terdiri dari esai-esai pendek yang menceritakan memoir seorang laki-laki berusia 25 tahun yang tengah berjuang mengatasi hidup dan mempertahankan cita-citanya sebagai penulis. George Orwell adalah nama pena dari Eric Blair, yang lahir tahun 1903 dari sebuah keluarga biasa-biasa saja (atau menurutnya, ‘lower-upper middle class’) Di awal usia 20-annya, bosan dengan kehidupan universitas yang steril, ia memutuskan untuk menjadi polisi imperial dan kemudian ditugaskan ke Burma. Pengalaman ini mempertemukan Orwell dengan pemandangan nyata kekerasan rasial dan politik kolonialisme yang dijalankan oleh negaranya sendiri. Karya-karya seperti Burmese Days (1934) dan Shooting an Elephant (1936) merupakan gambaran kisah hidup Orwell selama di Burma.

Kembali dari Burma tahun 1927, Orwell memutuskan untuk pindah ke London dan menumpang di rumah bibinya selama kurang lebih 1 tahun. Di rumah kecil di kawasan Portobello inilah selama 1 tahun Orwell mengurung diri di kamar, mengendapkan pengalaman yang telah ia tempuh dan melatih kemahiran dan kepercayaannya pada kata-kata. Dalam sebuah esai pendek yang telah sangat mengesankan saya, Why I Write (1947), Orwell menuliskan bahwa sejak usia 5 tahun ia sudah tahu bahwa jalan hidupnya adalah untuk menjadi penulis. Tentu tidak semua penulis seberuntung Orwell yang bisa segera tahu apa yang ia mau di usia dini. Meski demikian, toh keuntungan ini tetap membuatnya harus berjuang keras untuk menemukan apa yang harus ia tulis dan mengapa ia harus menulis.

Setelah kurang lebih satu tahun mengerami kata-kata di dalam sebuah ruangan kecil, Orwell pindah ke Paris karena biaya hidup di sana saat itu jauh lebih murah. Di sana ia tinggal di sebuah hotel kumuh dan hidup dengan taraf setengah miskin dari upah rendah hasil menulis artikel untuk koran dan majalah serta mengajar bahasa Inggris. Suatu ketika, seorang maling datang dan merampas sebagian simpanannya sehingga ia kini benar-benar tergelincir dalam lubang kemiskinan. Siapa sangka ternyata musibah kecil yang berhasil memerosokkan Orwell ke titik terendah dalam hidupnya justru menjadi sumber inspirasi untuk buku pertama yang berhasil diterima oleh penerbit.

Cara Orwell menggambarkan kemiskinan nyaris karikatural, beberapa bagian seperti anekdot-anekdot pendek yang menohok. Ia membuat kelaparan menjadi lelucon, meski tetap menyedihkan. Ia mendeskripsikan persona teman-teman miskinnya sebagai pribadi yang kasar dan menjijikan tapi juga tulus. Ia mengasihani dan meratapi kemiskinannya, tapi juga menemukan keberanian dan kepahlawanan di dalamnya. Apakah Orwell membuat kemiskinan menjadi eksotik? Mungkin ya dan mungkin tidak. Tentu saja, kita bisa berpikir bahwa Orwell muda tidak berbeda dengan bule-bule negara “maju” yang berkelana keliling dunia untuk melihat “kenyataan”, mengutuk kapitalisme selama beberapa menit untuk kemudian pulang dan mensyukuri hidupnya yang lebih beruntung. Tapi keadaan Orwell waktu itu berbeda. Ia tidak sedang sekedar mencoba-coba kemiskinan. Kehidupan yang nyaman mengusik jiwanya. Dia tidak bisa dan tidak ingin pulang, sebab merasa tidak dapat terus menjadi bagian dari kelas yang melanggengkan ketidakadilan– mengingkari jawaban atas alasan mengapa ia harus menulis. Dalam The Road to Wigan Pier, Orwell menuliskan refleksinya tentang pergulatan apa yang ada di pikirannya pada tahun 1927, satu tahun sebelum ia pindah ke Paris:

Aku sadar akan beratnya rasa bersalah yang harus kutebus. Aku tahu ini terdengar berlebihan, tapi jika kau menjalani pekerjaan yang secara ideologis tidak kau setujui [polisi imperial, pen.] selama lima tahun, kau mungkin akan merasakan hal yang sama . . . Aku ingin menenggelamkan diriku bersama dengan orang-orang yang ditindas, menjadi salah satu di antara mereka dan berada di samping mereka melawan tirani. Dan terutama, karena aku ingin memikirkan semuanya dalam kesendirian, aku harus tetap memelihara kebencianku pada segala bentuk penindasan. Pada saat itu, bagiku kegagalan adalah satu-satunya nilai yang berarti. Segala kemungkinan akan keberhasilan atau bentuk-bentuk kemajuan yang hanya terbatas pada soal menghasilkan sejumlah ratusan uang dalam setahun, bagiku tampak begitu buruk secara spiritual, semacam suatu spesies yang intimidatif.

Begitulah apa yang kira-kira dipikirkan Orwell ketika usianya 24 tahun. Besok usia saya akan menjadi 25 tahun, dan secuil rasa bersalah yang dipikirkan Orwell kala itu rasanya kini tengah turut menghantui kepala saya. Semoga saya bisa memelihara perasaan ini. Selamat menikmati terjemahan saya yang sedikit sembrono.

Aku tinggal di daerah Coq d’Or selama sekitar satu setengah tahun. Suatu hari di musim panas, aku menyadari bahwa simpananku hanya tinggal empat ratus lima puluh francs*. Setelah itu aku akan mendapat sejumlah uang yang tak berarti banyak dari upah mengajar bahasa Inggris, sebesar tiga puluh enam francs per minggu. Sebelum sampai pada titik ini, aku tidak pernah merasa harus memikirkan masa depan, tapi kini aku sadar bahwa aku harus segera berbuat sesuatu. Untungnya, aku sudah membayar uang sewa kamar sebesar dua ratus francs per bulan di muka. Tapi tetap saja aku harus bergegas memburu kerja. Dengan sisa dua ratus lima puluh francs ditambah hasil dari mengajar bahasa Inggris, aku dapat hidup pas-pasan selama satu bulan, dan seharusnya selama satu bulan itu aku sudah bisa mendapat pekerjaan. Awalnya aku berniat untuk menjadi seorang pemandu wisata atau mungkin penerjemah, namun sepotong nasib buruk datang dan merusak rencanaku.

Suatu hari muncullah seorang laki-laki Italia muda di hotel tempatku tinggal. Ia mengaku sebagai teknisi mesin cetak. Penampilan laki-laki ini sedikit meragukan, apalagi karena ia punya jambang di pipinya. Hanya penjahat atau kaum terpelajar yang punya jambang di pipi, dan tidak ada yang cukup yakin apakah ia penjahat atau kaum terpelajar. Nyonya F. tidak menyukai penampilan orang ini sehingga memintanya untuk membayar uang sewa seminggu di muka. Si orang Italia membayarnya dan tinggal enam malam di hotel. Selama masa tinggalnya, ternyata ia mempersiapkan kunci-kunci duplikat dan pada malam terakhir membobol seluruh kamar di hotel, termasuk kamarku. Untungnya ia tidak menemukan uang yang ada di dompetku, jadi aku tidak sampai benar-benar tidak punya uang sama sekali. Aku masih punya empat puluh tujuh francs–atau tujuh belas pence dalam valuta Inggris. Musibah ini telah menghentikan rencanaku untuk mencari pekerjaan. Sekarang aku harus hidup hanya dengan sekitar enam francs per hari, dan taraf hidup sebesar ini tidak akan memberimu banyak ruang untuk memikirkan hal lain. Sejak saat inilah aku mulai akrab dengan kemiskinan –sebab dengan enam francs sehari– kalau belum bisa dibilang kemiskinan yang sebenarnya, sudah ada di ujung tanduknya. Enam francs berarti satu shilling, dan engkau sebetulnya bisa hidup dengan satu shilling sehari di Paris jika tahu caranya. Tapi tentu cara ini tidaklah mudah.

Perkenalan pertamamu dengan kemiskinan sangatlah aneh. Kau sudah sering memikirkan tentang kemiskinan– hal yang paling kau takuti dalam hidupmu, hal yang kau tahu kelak akan menimpamu, cepat atau lambat– dan menjadi miskin, ternyata benar-benar berbeda dengan apa yang kau kira. Kau kira kemiskinan akan cukup sederhana, ternyata bukan main peliknya. Kau kira kemiskinan akan sangat mengerikan, ternyata hanya sekedar jorok dan membosankan. Pertama-tama engkau menemukan semacam kerendahan yang janggal dalam kemiskinan; perubahan yang mencampakkanmu pada kekejaman yang kronis dan kebajulan yang licik.

Kamu kini tahu rahasia gelap apa yang melekat pada kemiskinan. Mendadak kau hanya punya enam francs untuk hidup sehari. Tentu saja kau tidak berani mengakuinya– engkau harus pura-pura tetap hidup seperti biasa saja. Sejak awal kemiskinan telah menjeratmu dalam jejaring kebohongan, kebohongan yang bahkan tidak bisa kau kendalikan. Awalnya kau mulai berhenti mengirim pakaian ke binatu. Ketika di jalanan si tukang cuci menyapamu, menanyakan apa penyebabnya; dari mulutmu hanya keluar komat-kamit tak jelas, dan si tukang cuci–yang mengira kau mengirim cucianmu ke tempat lain– kini menjadi musuh dalam hidupmu. Tukang rokok juga terus menerus bertanya mengapa engkau mulai mengurangi rokok. Lalu ada surat-surat yang ingin kau balas, tapi tak bisa, karena perangko terlalu mahal harganya. Kemudian soal makananmu– nah dibanding hal-hal lain, makanan adalah soal yang paling genting. Setiap hari pada jam makan kau pergi ke luar, seolah mau ke restoran, padahal nongkrong di Taman Luxembourg menontoni burung-burung merpati. Setelah itu kau memasukkan makanan yang kau beli ke dalam saku untuk dibawa pulang. Menunya adalah roti dan margarin, atau roti dan anggur– bahkan hal ihwal makanan pun diatur oleh kebohongan. Engkau harus membeli roti gandum hitam, bukan roti gandum biasa, sebab meskipun sedikit lebih mahal, bentuknya bulat dan dapat disembunyikan di dalam sakumu. Ini membuang satu franc sehari. Kadang-kadang, untuk menjaga penampilan, engkau harus menghabiskan enam puluh centimes untuk minuman, dan kemudian kekurangan uang untuk makan. Kemejamu mulai tampak kumuh, kau juga kehabisan sabun dan pisau cukur. Rambutmu minta dipangkas dan kau mencoba untuk memotongnya sendiri. Hasilnya tampak mengerikan sehingga kau terpaksa pergi ke tukang cukur dan menghabiskan uang yang setara dengan biaya makan sehari. Sepanjang hari kau terus mengumbar kebohongan, kebohongan yang mahal.

Kau juga jadi tahu ada suatu tingkat kerawanan hidup yang ekstrim dengan uang enam francs sehari. Bencana yang kejam kadang terjadi dan merampok makanan dari hidupmu. Engkau menghabiskan delapan puluh centimes terakhir yang kau miliki untuk membeli setengah liter susu dan memanaskannya di atas lampu teplok. Tiba-tiba seekor serangga hinggap di tanganmu dan kau menyentilnya dengan jari. Mahluk itu jatuh, plop! ia meluncur tepat ke dalam susumu. Tidak ada yang dapat kau lakukan selain membuangnya dan tidak makan apapun hari itu.

Suatu ketika kau pergi ke toko roti untuk membeli satu pon roti dan menunggu pelayan yang tengah memotong satu pon roti untuk pembeli lain. Pelayan ini agak ceroboh dan memotong roti lebih dari satu pon. “Maaf Tuan,” begitu katanya, “Tidak apa kan kalau anda harus membayar dua sous lagi?” Harga roti satu pon adalah satu franc dan kau persis hanya punya satu franc. Ketika kau mendengar omongannya, kau mulai berpikir ia akan memintamu membayar ekstra dua sous juga, dan kau akan terpaksa mengaku kalau kau tidak punya uang lebih– lalu kau mulai panik. Dibutuhkan waktu setidaknya beberapa jam sebelum kau berani kembali ke toko roti itu lagi.

Pernah juga kau pergi ke tukang sayur untuk membeli satu kilogram kentang seharga satu franc. Namun salah satu keping koin dari sekumpulan uang satu francmu ternyata adalah koin Belgia, dan si tukang sayur menolaknya. Kau melipir dari toko itu dan bersumpah tidak akan kembali lagi ke sana.

Di lain waktu, tak sengaja kau tersesat ke daerah yang cukup elit, dan dari kejauhan kau melihat temanmu yang hidupnya lebih makmur. Untuk menghindarinya, kau sembunyi masuk ke kafe terdekat. Di dalam kafe kau tentu harus belagak membeli sesuatu, jadi kau menggunakan lima puluh centimes terakhirmu untuk segelas kopi hitam dengan bangkai lalat menggenang di dalamnya. Sebetulnya masih ada ratusan daftar bencana lainnya yang dapat kusebutkan satu per satu, dan sungguh, semuanya merupakan bagian dari proses yang semakin hari bertambah parah.

Kau kini tahu betul apa rasanya kelaparan. Dengan roti dan margarin yang hanya numpang mampir di dalam perutmu, kau pergi keluar untuk melihat-lihat jendela toko. Di mana-mana penampakkan makanan yang bertimbunan seolah tengah menghinamu; seekor babi utuh, sekeranjang roti hangat, sekerat mentega kekuningan, seuntaian sosis-sosis, segunung kentang, dan sebongkah keju Gruyere sebesar batu asah. Kau mulai tersedu, mengasihani dirimu sendiri gara-gara hanya bisa menelan ludah menatap pemandangan makanan sebanyak itu. Akalmu sempat pendek, kau ingin mencuri sebatang roti, lari dan menelannya cepat-cepat sebelum ada orang yang menangkapmu; tapi kau segera tersadar dan menahan diri murni karena rasa takut.

Kau mulai menyadari bahwa kebosanan tidak dapat dipisahkan dari kemiskinan. Inilah saat-saat di mana tidak ada hal yang dapat kau lakukan, sebab rasa lapar membuatmu tidak tertarik untuk melakukan apapun. Sepanjang hari kau hanya berbaring di atas kasurmu, merasa seperti Jeune Squelette di puisi Baudelaire. Hanya makanan yang bisa membangkitkan gairah hidupmu. Ternyata manusia yang hanya makan roti dan margarin selama satu minggu bukanlah manusia lagi, ia hanyalah perut dan beberapa organ lain sebagai aksesoris.

Hal-hal ini –masih banyak yang bisa kuceritakan, tapi semua intinya sama– adalah kisah hidup dengan enam francs sehari. Ribuan orang di Paris hidup seperti ini, seniman-seniman dan mahasiswa yang tengah berjuang, pelacur yang sedang tidak beruntung dan para penganggur dalam berbagai rupa bentuk. Bisa dibilang, inilah potret kemiskinan di pinggiran kota.

Gaya hidup ini kujalani selama sekitar tiga minggu. Empat puluh tujuh francs-ku tandas dengan cepat, dan aku harus bisa melanjutkan hidup dengan tiga puluh enam francs seminggu dari hasil mengajar bahasa Inggris. Karena tidak berpengalaman, aku mengatur keuangan dengan buruk sehingga kadang aku bisa tidak makan seharian. Ketika hal ini terjadi, biasanya aku akan menjual beberapa potong pakaianku yang kumasukkan ke dalam sebuah kotak kecil agar dapat kubawa ke luar hotel (sehingga Nyoya F. tidak mengira aku mau kabur), menuju ke toko loak di jalan Montagne St Genevieve. Penjaga toko loak ini adalah seorang Yahudi berambut merah yang bukan main menyebalkannya dan selalu ngamuk pada orang yang datang ke tokonya. Perangai orang ini selalu membuat seolah-olah keahdiran manusia lain telah memberinya celaka. ‘BANGSAT!’ begitu teriaknya, ‘KAU lagi datang kemari? Kau pikir apa tempat ini? Dapur umum?’ Lalu ia akan membayar barang-barangmu dengan harga yang luar biasa rendah. Untuk sebuah topi yang dulu kubeli dua puluh lima shilling dan jarang sekali kupakai, ia memberiku lima francs; untuk sepasang sepatu yang masih bagus lima francs dan untuk kemeja masing-masing satu francs. Ia selalu lebih memilih barter daripada membeli barang, dan dia punya trik yang dapat memaksamu menerima saja barang-barang tak berguna dengan memelintir percakapan sehingga seolah sudah terjadi kesepakatan. Pernah aku melihat ia mengambil sebuah mantel yang masih bagus dari seorang ibu-ibu tua, kemudian menukarnya dengan buah bola billiard putih lalu segera mendorongnya ke luar toko sebelum si ibu bisa protes. Andai saja bisa, tentu akan sangat menyenangkan apabila bisa menonjok hidung si Yahudi itu.

Masa-masa tiga minggu ini penuh dengan kejorokan dan ketidaknyamanan, dan tampaknya hal yang lebih buruk akan segera datang karena uang sewa kamar bulan depan sebentar lagi harus dibayar. Bagaimanapun, ternyata situasi tidaklah seperempat lebih buruk dari yang kubayangkan. Karena ketika kau semakin mendekati kemiskinan, kau akan menemukan satu hal penting yang melampaui segalanya. Memang engkau menemukan kebosanan dan beberapa rintangan ketika kelaparan menghampirimu, tapi kau juga menemukan suatu fitur dari kemiskinan yang dapat menebus semuanya: fakta bahwa ia mampu memusnahkan konsep tentang masa depan. Dalam batas-batas tertentu, ada benarnya bahwa semakin sedikit uang yang kau punya, semakin sedikit kau gelisah. Ketika kau tinggal punya seratus francs tersisa di dunia, biasanya kau akan mulai panik dan ketakutan. Tapi ketika kau hanya punya tiga francs, pandanganmu mulai berubah; karena tiga francs akan memberimu makan sampai besok, dan kau tidak bisa memikirkan hal lain di luar itu. Engkau bosan, tapi tidak lagi takut. Samar-samar kau berpikir, ‘Aku akan kelaparan selama satu atau dua hari–mengagetkan, bukan?’ Setelah itu pikiranmu akan pindah ke hal lain. “Diet” roti dan margarin ternyata mengandung penawar tersendiri, sebagaimana kemiskinan yang menyediakan penghiburan. Aku percaya bahwa orang-orang yang pernah merasakan kerasnya hidup memahaminya. Ada semacam perasaan lega, hampir seperti puas, ketika mengetahui bahwa pada akhirnya kau kini sungguh-sungguh terjun dan keluar. Sudah begitu lama kau bicara tentang keinginanmu untuk pergi ke luar– dan yah, inilah dunia luar, kau telah mencapainya, dan ternyata kau bisa mengatasinya. Kemiskinan ternyata dapat melucuti sebagian besar kegelisahanmu.

* 1 franc berarti = 10 decimes = 100 centimes

1 sou = 5 centime

Advertisements

One Comment on “Kemiskinan tidaklah mengerikan, hanya sedikit jorok dan membosankan”

  1. BL says:

    Plebeian menggantung di pikiran banyak filsuf. Bertebaran di lembar-lembar risalah filsafat, dari Plato ke Marx, dari Rawls ke Bourdieu.

    Tapi tak semua sanggup menangkap isi dada para plebeian. Ngarai lebar merentang antara tarian pena para filsuf dan gemuruh real dalam dada plebeian. Kata para intelektual profesional tentang plebeian dan kata para plebeian tentang diri dan pengalaman mereka adalah dua hal yang berbeda.

    Celetuk Rancière dalam “The Philosopher and His Poor” (1983, 2004) datang bagai tamparan ke pipi para filsuf: “[the poor is] an ersatz that philosophy cannot do without, since in order to preserve its role in the legislation of legitimate thoughts, it is itself obliged to produce a discourse on non-philosophy, on illegitimate modes of thinking” (130): plebeian di lembar-lembar risalah filsafat itu tak lain dari semacam ekploitasi para filsuf untuk menjamin otonomi filsafat. Rancière menulis dalam konteks Perancis.

    Bagaimana dengan filsuf Indonesia dan para plebeian-nya? Apa yang bisa filsuf Indonesia ulurkan, selain memelihara perasaan bersalah ala Orwell?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s