Insiden sehelai daun yang jatuh ke tanah

Apabila kita telah membaca esai seminal Roland Barthes, ‘The Death of The Author’, maka barangkali membaca kumpulan catatan harian Barthes yang diterbitkan setelah ia meninggal akan jadi satu persoalan yang sedikit lebih rumit ketimbang membaca otobiografi Aburizal Bakrie. ‘Incidents’ (1987) adalah kumpulan empat tulisan dengan gaya berbeda, pertama berupa refleksi Barthes atas kampung halamannya (The Light of the South West), kemudian catatan selama di Maroko tahun 1968-1969 (Incidents) dan terakhir adalah dua catatan yang ia tulis di Paris (At Le Palace Tonight dan Evening in Paris).

Membaca jurnal harian Barthes akan serta merta membuat kita teringat pada esai Barthes yang terbit tahun 1979, ‘Deliberation’. Dalam esai ini Barthes tengah mencurigai gagasan tentang menulis jurnal harian. Ia mempertanyakan seberapa pentingkah seseorang perlu menulis jurnal dan terlebih-lebih menerbitkannya. Dalam menulis jurnal, seseorang seolah menulis untuk kesenangan semata, tanpa intensi dan dengan tulus, jujur dan spontan menuturkan segala curahan hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi karena bisa dibilang ia sedang bicara dengan dirinya sendiri.

Bagi Barthes, gestur yang tulus adalah sesuatu yang tidak mungkin dalam bahasa. Ketika membaca kembali catatan-catatan harian yang pernah ia coba tulis, ia merasa malu bahkan terganggu dengan tulisannya sendiri. Ia merasa bahwa catatan yang ia tulis dengan “tulus”, “spontan”,  “natural” hanya menampilkan pose yang artifisial. Refleksi Barthes dalam ‘Camera Lucida’ (1980) tentang berpose di depan kamera barangkali bisa kita jadikan referensi untuk memahami apa yang ia maksud soal ketidakmungkinan ketulusan:

In front of the lens, I am at the same time: the one I think I am, the one I want others to think I am, the one the photographer thinks I am, and the one he makes use of to exhibit his art. In other words, a strange action: I do not stop imitating myself, and because of this, each time I am (or let myself be) photographed, I invariably suffer from a sensation of inauthenticity, sometimes of imposture (comparable to certain nightmares).”

Sama halnya seperti berusaha tampak “natural” di depan kamera, menulis jurnal dengan “tulus”–menurut Barthes–adalah semata-mata pose. Ada kepuasan yang narsistik pada keduanya, dan tentu tidak ada yang salah dengan ini (hanya saja ia patut dicurigai). Malahan, jangan-jangan kita memang selalu berpose? Bukankah setiap usaha untuk “mengekspresikan diri” dengan bahasa berarti kita tengah menggunakan kode-kode sosial yang sudah ada, dan dengan sendirinya menggerus otentisitas dari ‘kedirian” ini? Bagaimana kita dapat keluar dari perangkap bahasa? Dapatkah kita lolos dari bahasa dengan bahasa?

ImageRené Magritte, Not To Be Reproduced, oil on canvas, 1937.

Menulis, kata Barthes, adalah satu-satunya cara untuk “terbebas” dari perangkap bahasa. Tulisan mampu memberi jarak pada hubungan pengarang dan pembaca, sementara dalam percakapan lisan kita akan selalu berhadapan dengan (atau membayangkan) lawan bicara kita sehingga kemungkinan mendominasi dan didominasi menjadi lebih besar. Ketika berbicara, penampakan seseorang (kode natural seperri usia, jenis kelamin, dialek dan kode-kode sosial seperti cara pakaian, gestur bicara) mengokupasi pembicaraan dan kemudian mengatur relasi kuasa dengan lawan bicara. Sementara, berbeda dengan berbicara langsung, menulis mampu mengaburkan (ingat, bukan menghilangkan) kehadiran subjek, sebab dalam tulisan yang bicara bukan lagi sang pengarang, melainkan bahasa itu sendiri. Dengan menulis, kita bisa “lari” dari identitas yang telah disusun oleh sistem sosial. Persoalannya dengan penulisan jurnal harian adalah bahasa belum berbicara (atau dalam bahasa Barthes, “it doesn’t work, doesn’t get transformed by the action of work”), kehadiran pengarang begitu kuat mendominasi pembacanya sebab ia membicarakan dirinya secara “mentah-mentah”. Di dalam ranah tulisan seorang pengarang dapat berpose dalam berbagai rupa, dan keutuhan identitasnya melulu tertunda. Barangkali di sinilah paradoksnya: untuk tidak menjadi “palsu”, maka justru kita perlu terus menerus berpose.

Salah satu peragaan terbaik yang menampilkan bagaimana “bahasa dapat berbicara” tampak dalam ‘Roland Barthes by Roland Barthes’ (1975), sebuah eksperimen penulisan otobiografi dengan mengingkari arti biografi itu sendiri. Buku ini terdiri dari fragmen-fragmen yang tidak ditampilkan secara linier melainkan berupa serangkaian teks-teks pendek yang berkaitan dan sekaligus tidak berkaitan. Kita akan menemukan potongan ingatan masa kecil Barthes di kampungnya, kutipan dari Balzac dan Goethe, foto Ibunya, paparannya atas konsep-konsep kunci dalam semiotika, rekaman medis penyakit paru-parunya–semuanya saling tumpang tindih. Sebagai “otobiografi” sang narator ditampilkan dengan tidak stabil, kadang sebagai “aku/I”, kadang sebagai “dia/he”. Ketidakstabilan ini memberi kesan yang mengambang antara fakta dan fiksi. Tidak ada kesatuan utuh yang dapat mendefinisikan siapa Roland Barthes. Dalam karya ini Barthes menyadari bahwa ia tidak dapat lolos dari kode-kode bahasa sehingga ia mempermainkan kode-kode ini untuk menunda proses pemaknaan yang pasti. Sebagai pembaca, kita hanya dimungkinkan memungut puing-puing untuk kemudian menyusun sendiri siapa Roland Barthes menurut kita.

Kembali ke ‘Incidents’ dan kisah dibalik penerbitan buku ini. Tulisan pertama ‘The Light of South West’ pernah diterbitkan di L’Humanité pada tahun 1977, sementara sisanya baru dipublikasikan tahun 1987 atas keputusan François Wahl sebagai ahli waris seluruh tulisan Barthes. Penerbitan buku ini kala itu menuai kontroversi di kalangan akademisi pengkaji Barthes karena dianggap terlalu mengeksploitasi sisi personal sang pengarang. Meski demikian, dalam ‘Roland Barthes by Roland Barthes’ sebetulnya ia sudah menyinggung soal proyek buku ‘Incidents’ yang akan terdiri dari “teks-teks kecil, haiku, penggalan kalimat, lelucon, segala sesuatu yang jatuh, seperti dedaunan.”

Dalam buku ini kecenderungan homoseksual Barthes yang sebelumnya tidak pernah ia nyatakan selama hidup terungkap. ‘Incidents’ terdiri dari teks-teks pendek yang menceritakan pengalaman erotiknya kala berhubungan seks dengan pemuda-pemuda Moroko pada tahun 1968-1969 dengan tingkat kedetilan yang janggal. Sementara ‘Evening in Paris’ adalah kumpulan peristiwa biasa, tidak bombastis seperti acara makan malam, nonton film dan pameran seni. Bagaimanapun, hal yang “biasa” ini juga mengundang “keterkejutan” bagi pembacanya, seperti ketika Barthes menuliskan kesepiannya dan kegagalannya merayu laki-laki muda sehingga ia terpaksa bercinta dengan gigolo.

Apa yang baru saya paparkan di atas barangkali telah mereduksi produktivitas makna yang dimungkinkan oleh kumpulan tulisan Barthes. Terlepas dari kontroversinya, saya kira apabila kita membaca teks ini hanya untuk sekedar membangun figur Roland Barthes dengan stereotip dangkal sekelas gosip yang memburu sensasi, maka niscaya Roland Barthes akan bangkit dari kuburnya dan memukul kepala saya dengan penggaris besi. Sebelum arwah Barthes bergentayangan, maka ada baiknya memikirkan buku ini dengan cara berbeda.

‘Incidents’ perlu dilihat sebagai eksperimen bentuk tekstual yang bermain dengan batas-batas bahasa ketimbang usaha untuk merekam fakta. Yang kita peroleh dalam ‘Incidents’ bukanlah gambaran besar tentang Maroko, melainkan detail-detail mikroskopik. Tekstur kain yang dipakai pedagang di alun-alun kota, kehalusan tangan seorang remaja pria yang menjentikan abu rokok dengan jari telunjuknya, tatapan mata bocah penyemir sepatu…. Kesenangan Barthes pada detail juga bisa kita temukan dalam ‘A Lover’s Discourse’: “I am calm, attentive, as if I were confronted by a strange insect of which I am suddenly no longer afraid. Certain parts of the body are particularly appropriate to this observation; eyelashes, nails, roots of the hair, he incomplete objects. It is obvious that I am then in the process of fetishizing a corpse.”

Dalam “The Death of The Author” Barthes menegaskan bahwa dalam bahasa, “aku” bukanlah sosok melainkan subyek. Ketidakhadiran pengarang menjadikan tulisan bukan sebagai fakta historis melainkan sebuah aksi performatif. Dengan demikian kita tidak perlu mempertanyakan atau menghakimi kebenaran faktual dari kisah yang tertuliskan dalam ‘Incidents’ sebab kita tahu bahwa ada celah problematis dalam kemungkinan (atau ketidakmungkinan) Yang Nyata untuk direpresentasikan dengan dan di dalam bahasa. Bentuk-bentuk fragmentoris ini adalah insiden (incident), bukan peristiwa (event). Peristiwa adalah suatu kejadian yang memiliki narasi, dan demikian telah “tercemar” karena pengalaman kita (yang personal) telah dimediasi oleh bahasa (yang kolektif). Sementara insiden adalah kejadian yang tanpa narasi awal dan akhir dan tanpa kontinuitas, pengalaman subyektif yang terjukstaposisi secara acak. Penulisan secara fragmentoris menjadi niscaya sebab bagi Barthes pengalaman tidak mungkin dicerap secara utuh oleh bahasa. Teks Barthes secara paradoks menawarkan keterbukaan sekaligus ketertutupan. Ia tertutup karena Barthes jelas-jelas mengatakan bahwa tidak ada makna di balik teksnya. Sepatu adalah sepatu, rokok adalah rokok. Semuanya secara sadar dihadirkan pada tingkat permukaan, karena dengan cara itulah sang pengarang dapat mempermainkan jerat bahasa. Namun, ketidakhadiran makna yang disuguhkan pengarang juga dapat berarti keterbukaan yang seluas-luasnya untuk interpretasi.

Persoalannya adalah seberapa relevan (apakah relevan kata yang tepat?) karakter utopis eskapis yang terkandung dalam pemikiran Barthes untuk situasi saat ini? Karya-karya Barthes ditulis dan dipublikasikan (kebanyakan di jurnal avant garde Tel Quel yang juga memuat tulisan Derrida, Foucault, Derrida dan kawan-kawan seperjuangannya) pada era perang dingin Amerika dan Uni Soviet di mana secara umum situasi politik kala itu seolah memaksa individu untuk memilih haluan ideologi kiri atau kanan. Kesewenang-wenangan Barthes untuk “bermain” dengan bahasa menjadi pilihan yang sangat radikal untuk masanya karena ia tengah mengkritik bahasa perlawanan yang digunakan kaum Marxis sebagai bahasa yang sama represifnya dengan bahasa yang digunakan kaum borjuis.

Namun bagaimana jika hari ini kematian pengarang diartikan sebagai alasan untuk tidak mempertanggungjawabkan kesenangan dan pembaca hanya disuguhi ekses dari tindak tanduk yang serba genit belaka? Merayakan tanpa kesadaran perlahan-lahan bisa menjadikan kita bagian dari apa yang tadinya kita pikir tengah kita lawan.

Tulisan ini (sementara) akan saya tutup dengan kutipan dari ‘Incidents’ yang “murni” berasal dari kesenangan pribadi, yang semoga saja tampak cukup bertanggung jawab.

“I think I’m going to fall in love with you. It’s a problem. What should we do?”

“Give me your address.”

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s