Catatan tentang kecepatan

Sejak kapan manusia mengukur waktu? Sejak kapan manusia mengukur jarak?

Bayangan, bisa jadi adalah teknologi pertama yang digunakan manusia untuk mengukur waktu dengan mengamati timbul-tenggelamnya matahari.

Relasi manusia dengan manusia lain menciptakan kesepakatan bersama untuk menggunakan ukuran tertentu demi mengukur waktu dan jarak. Waktu dan jarak memisahkan sekaligus mempertemukan. Dengan angka kita menghitung detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Dengan angka pula kita mengukur sentimeter, meter dan kilometer. Dalam perkembangan sains modern, semua bisa dikira, diukur dan bahkan diprediksi. Ukuran dari yang ultra-kecil sampai yang maha-besar, meski tidak benar-benar “teralami” menjadi penjaga tempo keberlangsungan hidup manusia modern. Sepersekian detik salah hitung dalam selisih waktu keberangkatan kereta cepat bawah tanah dapat menyebabkan sebuah kecelakaan yang sangat berbahaya. Sementara obsesi manusia pada penghitungan waktu tampak dalam usaha ramalan akhir dunia, baik secara mistik, sains maupun pseudo-sains.

Melalui ukuran kita bisa menandai masa lalu dan meramalkan masa depan, namun angka-angka juga mereduksi pengalaman manusia dengan cara yang dingin. Waktu terus menerus diukur, ditepati dan sesekali diingkari, beriringan dengannya kita terus memproduksi pengalaman sehari-hari yang banal, nyaris seragam dan tak sempat memikirkan lagi, apa arti mengalami? Apa arti hidup di kekinian?

Manusia modern selalu “kehabisan waktu”. Ritme kehidupan berjalan semakin cepat, toko-toko 24 jam menjamur di mana-mana, seolah tak ingin kalau waktu harus berlalu begitu saja. Mungkinkah waktu berjalan lebih cepat, atau manusia modern yang semakin disibukkan oleh kesibukan? Apa arti bertambah cepat? Apa arti menjadi bertambah sibuk?

Para Pemuja Kecepatan

Abad 19 adalah abad di mana kecepatan “ditemukan”. Pada awal abad ke 19 pembangunan rel-rel kereta api di pelosok Eropa mulai bermunculan dan mencapai puncaknya pada awal abad ke 20. Kesukacitaan yang meluap-luap atas teknologi juga mampir ke tanah Jawa, di mana pada tahun 1900, Kartini muda menuliskan pengalamannya saat berada di atas trem uap:

“Akankah aku pernah dapat melupakan perjalanan ilahi bersamanya menuju stasiun itu? … Jangan terbang terlampau cepat di atas jalur-jalur besi yang rata, kamu monster beruap yang bersin-bersin, jangan membiarkan perjumpaan indah ini berakhir dengan begitu cepat… Saya berdoa agar perjalanan itu tak akan pernah berakhir… Tetapi, aduh! Juru apinya tidak mendengar aku.” (Kartini via Mrazek,2002 hlm 12)

Catatan Kartini atas pengalamannya adalah salah satu penggalan penting dalam sejarah kecepatan dunia karena, pertama, ia dinarasikan oleh seorang perempuan (sesuatu yang ternyata amat jarang terjadi pada saat itu, bahkan di Eropa) dan kedua karena ia mempertontonkan perasaan baru yang asing dan mengganggu, perasaan menjadi seorang modern di bawah tirani kolonialisme–bebas sekaligus tertindas.

ImageAntimo, obat untuk mengurangi pengalaman tidak nyaman dalam perjalanan. 

Memasuki abad 20, kembali ke kawasan Eropa, telah lahir para pemuja kecepatan yang kini hidup berdampingan dengan kemunculan teknologi mobil. Filippo Tomasso Marinetti, seorang seniman dan pemuja kecepatan kita yang pertama, menulis “The Futurist Manifesto” pada tahun 1909 setelah mengalami kecelakaan tabrakan kecil yang menyebabkan mobil yang dikendarainya terguling ke parit. Baginya, momen traumatik tersebut menyadarkan bahwa kondisi politik Itali saat itu harus segera berubah dengan penghancuran besar-besaran. Museum dan barang antik harus dibakar, para seniman tua harus dibantai dan perang, militerisme serta patriotisme adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dunia dari dekadensi budaya. Marinetti yang juga berafiliasi dengan partai komunis Italia menulis,

“Kami menyatakan bahwa kemegahan dunia kini diperkaya oleh suatu keindahan baru: keindahan kecepatan. Mobil balap dengan kap mesin yang berhiaskan tabung-tabung seperti ular dengan nafas yang meledak-ledak… Kendaraan bermotor yang mengaum, menderu seperti suara senapan mesin, lebih indah dari patung marmer Samothrace.” (Marinetti, 1909)

Sementara lima belas tahun kemudian, Le Corbusier, seorang pionir arsitektur modern dari Perancis menulis Vers Une Architecture (Towards An Architecture) sebagai manifesto dari gagasan-gagasan dasarnya atas arsitektur modern. Le Corbusier, tidak jauh berbeda dengan Marinetti juga menghujat peninggalan-peninggalan antik dan kuno. Meski secara paradoksal ia menggunakan prinsip-prinsip arsitektur kuil Yunani sebagai dasar rancang bangunannya, Corbusier menyatakan bahwa kuil-kuil tersebut telah “mencapai titik klimaksnya” dan menjadi primitif, sehingga kini saatnya untuk mengesampingkan kepuasaan elementer seperti dekorasi menuju kepuasaan yang lebih tinggi, yaitu proporsi. Baginya, manusia modern akan menemukan keindahan dalam ukuran-ukuran yang akurat, konstruksi-konstruksi yang bersih dan fungsional yang diproduksi secara massal. “The house is a machine for living in,” begitu termaktub dalam manifesto arsitektural Le Corbusier, sang pengagum geometri, keteraturan dan kecepatan.

Para pemuja kecepatan kita tadi adalah manusia-manusia modern yang terpukau pada pengalaman baru yang ditawarkan oleh teknologi. Pada abad ini pula berkembanglah industrialisasi besar-besaran yang menciptakan produksi massal dan budaya konsumsi pasca perang dunia kedua. Penemuan dirayakan, teknologi dikenakan dan modernitas dikumandangkan.

Meski demikian gegap gempita ini kelak menampilkan sisi lain dari kemajuan. Pertumbuhan mesin-mesin modern membuat manusia tak lagi mampu berlomba dengan apa yang ia ciptakan. Suatu potret ironi terbaik yang menggambarkan jaman itu barangkali bisa dilihat dalam film Charlie Chaplin, Modern Times (1936).

Walter Benjamin, seorang filsuf dengan gestur melankolis asal Jerman mengamati bahwa transisi tradisi cerita lisan ke tulisan telah mengikis kemampuan manusia untuk “mengalami” dan menceritakan pengalaman. Kehadiran mesin cetak serta merta melahirkan budaya informasi yang menggeser tradisi oral dari mulut ke mulut. Sementara secara umum, penemuan mesin-mesin baru yang ditujukan untuk mempermudah hidup manusia oleh Benjamin dianggap sebagai situasi di mana pengalaman tubuh digantikan oleh pengalaman mekanis. Secara lebih ekstrim, penelitian Virilio dalam The Art of Motor (1993) bahkan menunjukkan adanya suatu simtom baru yang disebut Repetitive Strain Injury (RSI). RSI adalah penyakit yang disebabkan karena gerakan fisik berulang-ulang dalam waktu lama dan akhirnya merusak jaringan saraf dan otot. Penyakit manusia modern ini menggambarkan bagaimana tubuh manusia direduksi menjadi robot bernyawa atau, “mesin berakal”.

Baik Benjamin maupun Virilio sama-sama menaruh perhatian pada perkembangan budaya komunikasi. Bagi Benjamin, transformasi kebiasaan bercerita menjadi membaca bukan saja menggerus kemampuan menarasikan pengalaman tapi juga menghentikan gerak resiprokal antara pencerita dan pendengar. Dalam tradisi lisan cerita terus mengalir dan berjalan dari mulut ke mulut– semua orang adalah pencerita dan semua orang adalah pendengar– sementara, kebiasaan membaca hanya menjadikan pembaca sebagai pendengar pasif (tentu saja ini sebelum Barthes mengumandangkan “matinya sang pengarang”). Verifikasi makna dalam tradisi oral terus menerus dikontestasi dari satu pencerita ke pencerita lainnya, kejelasan selalu tertunda setiap kali sebuah cerita direproduksi. Dalam tradisi membaca, cerita menjadi sekedar informasi yang sifatnya fungsional–kering makna.

Sedikit melompat ke masa kini dan masa depan, Virilio mengamati perkembangan teknologi komunikasi mutakhir juga telah memberi dampak besar pada pengalaman tubuh manusia atas ruang dan waktu yang kemudian memperkenalkan konsep kecepatan baru. Apabila kecepatan sebelumnya disebabkan oleh energi kinetik dari potensi gerak, kini muncul jenis energi baru yaitu energi suara dan gambar dari potensi kontak jarak jauh. Dimensi kecepatan kini tidak hanya berasal dari materi, tapi juga dari informasi. Jaringan dalam Internet yang menerobos gagasan konvensional ruang dan waktu menjadikan kecepatan sebagai informasi itu sendiri. Pada akhirnya nilai dari infomasi hanya ditentukan oleh kecepatannya, bukan dari makna di dalamnya. Komodifikasi nilai informasi inilah yang barangkali turut mengakselerasi tempo hidup manusia sehingga terus terobsesi untuk menjadi lebih cepat dan semakin cepat.

lovestruck.com

Fenomena situs online dating, sarana untuk mempercepat dan mempermudah “pengalaman jatuh cinta”. Iklan situs lovestruck.com terpajang di dinding-dinding kereta bawah tanah London. “We’re busy, we work long hours, we have long and/or tedious commutes and demanding social live. But no one wants to be single forever either.”

Walau begitu baik Benjamin maupun Virilio tidak menyangkal adanya dorongan sejarah yang mengharuskan perkembangan teknologi terjadi tanpa bisa dihindari. Bagi Benjamin, adalah sia-sia memperlakukan perkembangan ini melulu sebagai sesuatu yang negatif, karena secara paradoks, justru melalui kehancuran inilah kita bisa secara berjarak melihat keindahan dari apa yang telah hilang.

Secara epistemologis, kecenderungan pemiskinan pengalaman menurut Giorgio Agamben (1978) sudah terjadi sejak percampuradukkan yang sembrono antara pengalaman dan pengetahuan ilmiah. Eksperimen sains memperhitungkan pengalaman secara kuantitatif dan menjadikannya sebagai alat untuk memprediksi masa depan (air yang dipanaskan dalam suhu 100 derajat pasti matang, matahari pasti terbit di timur). Pengalaman yang diukur ketat dengan aturan verifikasi ilmu secara determinatif mereduksi kepengarangan individual menjadi institusional, fungsional. Pengalaman sensorik atau persepsi ketubuhan dianggap tidak valid sebagai bentuk pengetahuan lain ketika dibandingkan dengan pengetahuan ilmiah, padahal justru pengalaman inilah yang dapat menjembatani teknologi dengan manusia. Distingsi yang menyudutkan pengalaman ini juga ditegaskan adagium “Aku berpikir maka aku ada” oleh René Descartes di abad 17. Pemisahan dualistik antara tubuh dan pikiran, antara rasional dan irasional hanya menjadikan manusia sebagai subjek (aku) tidak eksis tanpa predikat (berpikir). Artinya, manusia hanya ada ketika bersandingan dengan kata kerja, atau hanya mengada untuk tujuan fungsional. Dalam filsafat ontologi Heidegger, subjek modern hanya melulu mempersoalkan kesadaran dan melupakan bahwa keberadaan ada sebelum kesadaran.

—-

Ketika pengalaman harus memiliki tujuan dan bukan menjadi tujuan itu sendiri (untuk mengalami), maka sesungguhnya ia tengah berjalan berlawanan dari asal muasal kebijaksanaan dalam kisah Yunani: belajar melalui penderitaan (páthei máthos).

Pertanyaannya, apakah kita masih punya waktu untuk perjalanan tanpa tujuan, untuk ketidakpastian dan kesalahan– untuk menderita?

—-

Bahan bacaan:

F.T. Marinetti, ‘The Founding and Manifesto of Futurism, Paris, Le Figaro, 20 Februari 1909.

Giorgio Agamben, ‘An Essay on the Destruction of Experience’ dari Infancy and History (1978), diterjemahkan oleh Liz Heron (London: Verso, 1993)

Le Corbusier, Toward an Architecture (1923), diterjemahkan oleh John Goodman (Los Angeles: Getty Research Institute, 2007)

Martin Heidegger, ‘What are Poets for?’ (1946) dari Poetry, Language, Thought, diterjemahkan oleh Albert Hofstadter   (New York: Harper, 2001)

Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land (Jakarta: Yayasan Obor, 2006)

Walter Benjamin, ‘The Storyteller’ (1933) dari Modern Criticism and Theory, ed. David Lodge with Nigel Wood (Harlow: Longman, 2000).

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s