Tuan Rumah dan Tamu

Pergi ke tempat yang jauh dan asing untuk waktu yang panjang kadang mendorong suatu sensasi nostalgik yang membuat ingatan-ingatan tentang “rumah” muncul ke permukaan. Jarak yang jauh, dalam ukuran ruang dan waktu, membuat saya justru memikirkan apa arti dekat dan kedekatan.

Setelah satu minggu mendarat di London, saya masih belum dapat menemukan rumah untuk tinggal. Saat ini saya masih menumpang di rumah seorang teman yang tinggal bersama tiga orang temannya. Tempat saya menumpang terletak di World’s End Estate, nama yang cukup janggal untuk sebuah kawasan rusun kelas pekerja di ujung King’s Road, Chelsea. Meski saya tidak terlalu yakin, tapi mungkin kawasan ini dinamai demikian karena pada Perang Dunia II, World’s End adalah kawasan yang paling sering diserang bom oleh Jerman. Di tahun 60-an, kawasan ini menjadi pusat budaya tandingan yang turut memopulerkan gaya hidup hippie. Salah satu ikon mode dunia, Vivienne Westwood, membuka butik pertamanya SEX di World’s End.

Teman yang rumahnya saya tumpangi adalah salah satu teman terbaik saya sejak masih SMP. Oleh sebab itu mungkin pada hari-hari pertama belum ada perasaan asing sebab perjalanan ini masih terasa seperti sebuah piknik bersama. Meski demikian, pada hari kelima ketika saya belum juga berhasil menemukan rumah yang tepat setelah belasan kali mendatangi calon-calon tempat tinggal, ide tentang rumah mulai menghantui pikiran saya. Seperti apa sebetulnya definisi rumah yang tepat?

Ada beberapa kriteria yang saya berlakukan dalam memilih rumah. Dan sebagai orang yang biasa merapalkan doa Bapa Kami versi Joko Pinurbo (..dan ampunilah kemiskinan kami..), maka kriteria pertama adalah harga yang murah. Harga yang murah dengan segera menyempitkan variasi pilihan. Lokasi yang dekat kampus (baca: mahal), hanya memungkinkan saya untuk menyewa kamar seukuran kuburan, jika dengan harga yang masih sanggup saya bayar. Sementara lokasi yang lebih jauh (1-2 jam dengan London Tube) dengan harga yang sama memungkinkan sebuah kamar yang sedikit lebih lega. Dari beberapa pilihan yang ditawarkan agen properti rumah, saya belum menemukan rumah dengan keseimbangan antara harga, lokasi dan ukuran. Maka sampai hari ini, tepat seminggu di London, saya masih mengakrabkan diri dengan sofa di ruang tamu rumah teman saya.

Tinggal di ruang tamu, dan tentu saja sebagai tamu, perasaan saya terombang-ambing antara nyaman dan tidak nyaman. Nyaman mungkin ini karena saya berada di tengah orang-orang Indonesia, yang selalu berbahasa Indonesia dan memasak makanan Indonesia, sementara tidak nyaman karena posisi saya yang masih menumpang di rumah teman.

Secara kebetulan, bahan bacaan di kelas pertama saya waktu mulai kuliah menggunakan analogi tuan rumah dan parasit untuk membicarakan teks dan kritik. Dalam tulisannya yang berjudul “The Critic As Host”, J. Hillis Miller menampik argumen M.H Abrams yang menyatakan bahwa pembacaan dekonstruktif atas sebuah teks tak ubahnya parasit yang memakan, menggerogoti dan kemudian “membunuh” makna univokal teks tersebut. Miller kemudian menggunakan kata “parasit” sebagai titik tolaknya untuk melakukan pembacaan dekonstruktif atas kritik Abrams terhadap dekonstruksionisme. Telaah Miller atas kata “parasit” secara etimologis menunjukan bahwa sejarah kata ini ini telah bergeser. Pada awal penggunaannya dalam bahasa Yunani, parasit atau parasitos berarti tamu yang makan bersama dengan tuan rumah dengan pengertian yang positif. Sementara dalam penggunaan bahasa Inggris modern, parasite diartikan secara negatif sebagai mahluk yang menumpang tanpa memberikan imbalan apapun. Dalam bahasa Indonesia, pengertian parasit mengacu serupa dengan pengertian dalam bahasa Inggris modern.

Pelacakan Miller atas pengertian parasit ke bahasa-bahasa tua lain, seperti Latin, Perancis dan Norwegia berujung pada suatu “kesimpulan” bahwa kata tersebut mengandung antitesis ganda. Artinya, tuan rumah dan parasit tidak memiliki relasi yang berlawanan, sebab tuan rumah adalah parasit dan parasit adalah tuan rumah. Untuk menggambarkannya dengan lebih gamblang, Miller mengutip analisis penelitian antropologis Marcel Mauss dalam “The Gift” tentang konsep memberi dan menerima. Setiap pemberian adalah rantai tanpa ujung yang bertimbalan (resiprokal) dengan sang penerima. Keduanya tidak memiliki pengertian tunggal, tidak ada memberi yang hanya memberi dan menerima yang hanya menerima. Memberi secara langsung berarti menerima, dan demikian pula sebaliknya.

Berangkat dari pemaparan Miller, saya kira masih ada begitu banyak pengertian kata-kata lain yang terlanjur kita terima begitu saja sebagai sesuatu yang berlawanan, meski sebenarnya jika dirunut kembali, kita akan menemukan ada kontradiksi-kontradiksi yang ambigu. Berada di negeri yang jauh, saya merasa asing sekaligus familiar, tuan rumah sekaligus tamu. Di dalam bis tingkat khas London, duduk di bangku paling depan dan menyaksikan gambar bergerak dari kaca jendela kadang masih membuat saya sedikit tertegun dan tak sadar bahwa saya kini sedang menjadi bagian dari gambar bergerak ini. Kaca jendela menjadi penghubung sekaligus pemisah saya dengan realitas yang dekat, dan terasa jauh. Perasaan displaced, atau apa yang saya kira sedang saya rasakan sekarang,barangkali adalah konsekuensi dari dekonstruksionisme. Ketika tidak ada lagi makna yang utuh dan tunggal, maka kesadaran pun selalu bergentayangan di antara ambang. Dekonstruksi adalah arwah yang penasaran.

Dalam proses dekonstruksi, tidak ada awal dan akhir, dan keterasingan setara dengan kenyamanan. Di mana-mana kita adalah tuan rumah dan di mana-mana kita adalah tamu. Apakah inilah akhirnya, ke-serba sekaligus-an? Menurut Miller, dekonstruksi adalah ilmu retorika, permainan kata-kata yang memiliki konsekuensi serius dan menyangkut hidup dan mati manusia.

Lebih lanjut, saya kira gagasan saya tentang “rumah” dan “kenyamanan” adalah hal yang perlu dipikirkan lagi, meskipun tentu saja ini hal yang non pragmatis. Yang pasti, saya tidak bisa selamanya jadi tamu di rumah teman saya, dan seharian merenungi Miller tidak akan membantu saya menemukan rumah untuk tinggal. Yah, minimal saya sudah memikirkannya..

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s