Apa yang membuat kursi hanya sekedar kursi, dan apa yang membuat kursi bukan hanya sekedar kursi?

Kursi adalah perabot sehari-hari yang bisa kita lihat dan temukan di mana saja. Kebanyakan orang memiliki kursi di rumahnya. Kursi secara umum digunakan sebagai tempat untuk duduk. Kursi adalah kursi, atau sekedar kursi ketika ia menjalankan fungsinya sebagai tempat duduk. Hubungan kita (subjek) dengan kursi (objek) dalam hal ini semata sebagai sebuah transaksi praktikal, hubungan yang mekanis dan materialis.

Tapi sebagaimana benda sehari-hari lainnya, hubungan kita dengan objek memiliki dimensi lain yang sifatnya imaterial, sebuah hubungan yang barangkali bisa membuat kita mengenang atau bernostalgia ketika menatap sebuah objek. Sebuah objek, mengutip Baudrillard (Selected Writings, 1968), memiliki dua fungsi, sebagai benda kegunaan (utilized) dan sebagai benda kepemilikan (possessed). Fungsi pertama merupakan proyeksi subyek atas kemampuannya mengontrol benda-benda di dunia nyata, sementara yang kedua merupakan sebuah usaha penguasaan yang abstrak, di mana subyek menyatakan diri sebagai pribadi yang otonom secara total di luar dunia. Fungsi pertama dan kedua saling berkelindan dalam hubungan mutualistik yang terus kembali ke subyek sebagai pusat. Ketika sebuah objek tidak lagi didefinisikan oleh fungsinya, makna objek tersebut berada di tangan sang subjek yang memilikinya. Tulisan pendek ini ingin membicarakan tentang makna benda sehari-hari yang dijadikan sebagai koleksi dan soal tindakan mengoleksi itu sendiri.

Apa yang membuat kita bisa begitu mencintai objek?

Hubungan paling intim saya dengan objek ialah dengan bantal guling yang usianya hampir sama dengan usia saya. Bantal guling yang saya namai Wiranto telah menemani waktu tidur saya selama ini. Secara bentuk, Wiranto tidak berbeda dengan bantal guling pada umumnya, kecuali bahwa ia sudah tampak sedikit kumuh dan tidak lagi empuk. Ada bau dan kelembutan tertentu yang bagi saya berbeda dengan bantal guling lainnya– barangkali hal-hal abstrak ini adalah imajinasi yang tumbuh dan menjadi jejak tak tampak dalam Wiranto sebagai objek. Di sini, Wiranto masih menjalankan fungsinya sebagai bantal guling, tapi juga dihantui oleh nilai lain, sebuah nilai kepemilikan yang telah saya narasikan secara personal sebagai subjek. Hal ini pula yang membuat saya misalnya, lebih sulit tidur jika tidak memeluk Wiranto. Namun kepemilikan saya atas Wiranto tidak membuat saya mengoleksi objek-objek lain yang serupa dengan Wiranto, karena keunikan Wiranto atau ketunggalannya-lah yang membuat Wiranto menjadi berbeda.

Bagaimana dengan orang yang mengoleksi berbagai objek dengan tema tertentu? Kita tahu ada banyak sekali orang yang mengoleksi benda sehari-hari, misalnya kaleng coca-cola, boneka Barbie, buku, surat, gelas, dan lain sebagainya. Saya tidak akan bicara nilai kepemilikan dalam ranah kepemilikan modal, di mana keinginan untuk memiliki didasari oleh kebutuhan untuk menampilkan status sosial tertentu, melainkan lebih pada kepemilikan dalam artian yang sedikit obsesif (meskipun dalam artian pertama, obsesi atau sifat fetish juga imanen di dalamnya). Orhan Pamuk dalam novel Museum Of Innocence (2008) menerangkan ada dua tipe kolektor, yaitu kolektor yang bangga (The Proud Ones) dan kolektor yang pemalu (The Bashful Ones). Tipe kolektor yang bangga adalah kolektor yang modus mengoleksinya untuk mengumpulkan secara komprehensif objek sesuai dengan tema tertentu, tujuan akhir kolektor yang bangga adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya. Modus ini bisa kita temukan dalam museum resmi milik negara yang ingin menggambarkan karakter suatu bangsa melalui koleksinya, atau museum etnografi di Barat yang menjadikan tindakan mengoleksi sebagai bentuk penaklukan atau kontrol atas pengetahuan. Meski demikian modus ini juga bisa kita temukan pada kolektor-kolektor privat yang berlomba-lomba ingin memiliki benda-benda unik, langka atau “special edition”, misalnya kolektor vinyl, tas, mobil, karya seni, dan lain-lain. Sebuah benda menjadi semakin spesial ketika ia semakin sulit dimiliki, entah karena jumlahnya terbatas, harganya sangat mahal atau usia benda yang sudah sangat tua sehingga menjadi langka. Modus mengoleksi ini ialah proyeksi kolektor atas nilai kepemilikan yang dominatif, yaitu ingin memiliki apa yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain.

Sementara tipe kolektor kedua, adalah kolektor yang mengoleksi karena mengoleksi itu sendiri (collecting for the sake of collecting). Dorongan mengoleksi ini pada awalnya masih sama seperti motif para kolektor yang bangga, namun hubungan kolektor yang pemalu dengan objek-objek koleksinya lebih pada pencarian waktu yang hilang, kerinduan pada yang sudah tidak ada, atau terapi sebagai resolusi luka. Kolektor tipe ini biasanya tidak menunjukan koleksinya pada banyak orang karena menganggap kegiatannya semacam penyakit jiwa. Nilai nostalgik dalam objek dan narasi yang intim dan subtil lebih diutamakan ketimbang soal kelangkaan. Modus pengoleksian ini bisa kita temukan pada museum-museum kecil yang lebih personal, misalnya museum yang dibuat oleh keluarga atau penggemar (seperti Museum Edith Piaf di Paris, Museum Freud di Vienna, Museum Nike Ardilla di Bandung). Di Yogyakarta, ada Museum Sisa Hartaku, sebuah museum yang diinisiasi oleh Bapak Suryanto sebagai caranya untuk mengenang keganasan erupsi Merapi yang menghabisi hampir seluruh rumah di dusun Kopeng, Umbulharjo pada tahun 2010. Benda-benda yang meleleh karena lahar dingin Merapi dipamerkan di bekas rumah Pak Suryanto yang setengah hancur, tinggal rangka dan tak lagi beratap, dilatari dinding yang warnanya kini abu-abu diselimuti jelaga dan asap. Objek-objek tersebut membeku, terasa asing dan seperti menawarkan realitas lain dari dunia nyata di luar sana. Ada sebuah jam dinding mati dengan jarum jam di angka 12.05, waktu yang menunjukkan erupsi pertama Merapi pada tanggal 5 November 2010. Bagi saya, jam dinding ini adalah metafora sempurna tentang ingatan yang dibekukan oleh objek, sebuah puisi liris tentang kepemilikan personal dan kehilangan bersama.

Objek-objek koleksi yang diasingkan dari nilai fungsionalnya adalah objek yang meregang nyawa, hampir mati. Tanpa nostalgia yang diproyeksikan sang subyek, objek akan mati, karena ia telah beku dan menjadi begitu rapuh. Ia disebut hampir mati karena nostalgia adalah bayangan atas masa lalu yang tidak akan bisa hadir sebagai pengalaman nyata, bentuknya hanyalah narasi yang meminjam tubuh sebuah objek untuk tetap mengada, namun tidak akan pernah utuh. Para kolektor yang bernostalgia melalui benda-benda sebetulnya hanya memiliki keinginan untuk menginginkan, bukan keinginan atas benda-benda. Masih berangkat dari teori Baudrillard tentang sistem pengoleksian, objek yang dikoleksi oleh subjek tidak sedang merefleksikan citraan atas kenyataan, melainkan atas apa yang diingini sang subjek. Pada objek-objek yang dikoleksinya, subjek menginvestasikan subyektivitasnya pada objek dengan perasaan aman, karena objek dianggap sebagai benda mati yang lebih “setia dan abadi” ketimbang hubungan dengan sesama manusia. Pembelahan subjek-objek ala Cartesian ini sebetulnya sudah ditentang dan dikritik oleh para pemikir strukturalis dengan “mematikan subjek”. Persoalan sejarah subyek (kemunculan, senjakala dan kebangkitannya), tidak akan saya bahas pada tulisan ini.

Mengoleksi adalah mengutip: Lagi, soal kursi

Saya akan kembali menyoal kursi. Jika pada awal tulisan saya menggunakan kursi sebagai contoh hubungan subyek dan obyek secara lebih personal, sekarang saya ingin menggunakan kursi sebagai jalan masuk untuk membicarakan konstruksi nilai benda bersejarah di institusi negara.

Pada beberapa museum sejarah di Jawa, kita dapat menemukan koleksi meja dan kursi yang dianggap bersejarah. Misalnya, meja dan kursi di mana Kartini menulis surat-suratnya di Museum Pengabadian Kartini, Jepara, Jawa Tengah, kursi Pangeran Diponegoro yang didudukinya saat berunding dengan Jenderal De Kock di Museum Pangeran Diponegoro, Magelang dan kursi yang diduduki Bung Karno saat diculik oleh para pemuda ke Rengasdengklok di Museum Perjuangan, Yogyakarta. Perabotan kursi yang tadinya adalah benda sehari-hari, tiba-tiba menjadi objek dengan nilai sejarah karena pernah digunakan oleh tokoh-tokoh yang dianggap penting dalam sejarah Indonesia. Katalog Museum Perjuangan menyebut benda-benda ini sebagai, “saksi sejarah”. Dalam Undang Undang Pemerintah no 5 tentang Benda Cagar Budaya, disebutkan bahwa benda-benda peninggalan sejarah, “mempunyai arti penting bagi kebudayaan bangsa khususnya untuk memupuk rasa kebanggaan nasional serta memperkokoh rasa kebangsaan serta kesadaran jati diri bangsa.

Saya kira, pertanyaan pertama saya di awal tulisan bisa kembali digelontorkan: apa yang membuat kursi hanya sekedar kursi dan apa yang membuat kursi bukan hanya sekedar kursi?

Berbeda dengan hubungan subjek-objek antara kolektor dan koleksinya (baik yang bangga maupun yang pemalu), objek-objek sejarah yang dipamerkan di museum memiliki sistem pengoleksian yang lebih kompleks. Objek sehari-hari yang “diangkat derajatnya” sebagai benda yang unik, langka atau penting adalah hasil dari modus penambahan nilai yang diatur oleh kriteria sosial dan budaya. Museum menciptakan kerangka institusional yang artifisial, di mana ia menggarisbawahi keunikan dan kelangkaan objek sebagai bentuk penguasaannya atas pengetahuan (Sherman dan Rogoff, 1994). Objek yang dianggap bersejarah –dalam hal ini kursi Kartini, Diponegoro dan Soekarno– adalah simbol yang tidak lagi dinilai dari kualitas atau kuantitas kebendaannya (misalnya seberapa indah sebuah kursi atau seberapa langka jumlahnya di dunia), melainkan secara simultan tersusun dengan rangkaian objek-objek lainnya untuk mengonstruksi sebuah narasi yang lebih besar. Dalam tulisan ini saya ingin mencoba untuk memikirkan kembali arti mengoleksi dengan mengutak-atik politik pengklasifikasian dan penataan ruang di museum.

Susan Stewart dalam On Longing (1993) memberi perenungan yang menarik tentang kutipan. Menurutnya tindakan mengutip dan memberi tanda kutipan atas suatu tuturan menggambarkan ambivalensi kutipan. Di satu sisi, tanda kutip buka menandai kesetiaan pengutip pada tuturan asli, di sisi lain tanda kutip tutup memberi batas pada tuturan asli dan membawanya ke konteks lain yang terbuka pada interpretasi sang pengutip. Tuturan yang telah dikutip dengan sendirinya tidak lagi dimiliki oleh sang penutur, dan ia kini memasuki sebuah arena konflik sosial yang dapat dimanipulasi dan diteliti dalam batas yang berbeda dari konteks aslinya. Menurut saya, alur pemikiran Stewart tentang tindakan mengutip sebuah tuturan bisa diaplikasikan untuk mempertimbangkan arti dari tindakan mengoleksi. Mengoleksi adalah mengutip. Di satu sisi mengoleksi berarti meminjam bentuk asli/nyata sebuah objek, tapi kemudian juga menambahkan narasi baru yang memanipulasi objek tersebut.

Kursi yang digunakan Bung Karno di Rengasdengklok, pada awalnya adalah sekedar kursi. Tapi kemudian kursi tersebut dikutip dari fungsi aslinya sebagai tempat duduk, dan diidentifikasi serta diklasifikasi sebagai “Kursi”. Ketika sang “Kursi” diletakkan dalam sebuah kotak kaca di sebuah museum dan dinarasikan sebagai saksi sejarah dalam kerangka peristiwa dramatik/heroik menjelang kemerdekaan Indonesia, “Kursi” sebagai kutipan dari kursi sebagai benda sehari-hari telah diatur dan diintensifikasi oleh otonomi institusi. Di sini, jadi tidak penting lagi apakah kursi ini benar-benar diduduki oleh Bung Karno atau tidak, sebab objek yang terinstitusionalisasi memiliki otoritas verifikasi dan berfungsi sebagai bukti yang memiliki kekuasaan atas interpretasi, atau kekuasaan atas makna. Oleh sebab itu misalnya, di museum-museum kita banyak menemukan replika benda-benda bersejarah (di Museum Perjuangan dan Sandi misalnya, replika sepeda ontel) sebab objek hanyalah berperan sebagai ilustrasi atas imajinasi yang dibangun oleh institusi. Menarik juga untuk memikirkan bagaimana sejarah difiksikan, dan bagaimana fiksi disejarahkan.

Dalam kasus koleksi kursi di Museum Pangeran Diponegoro, narasi dapat memistifikasi sebuah objek. Kita dapat melihat dengan jelas, pada lengan kursi di sebelah kanan terdapat bekas guratan kuku yang dikisahkan merupakan guratan bekas cengkeraman tangan Pangeran Diponegoro yang ketika itu merasa sangat marah karena ditipu oleh Belanda. Di sini, “keaslian” menjadi penting sebab ada jejak yang tampak dalam objek, yang membuatnya unik dan berbeda. Narasi yang dikisahkan menguatkan aura sang Kursi sebagai sesuatu yang singular dan tentu saja semakin memistifikasi sosok Pangeran Diponegoro secara politis. Cara kursi Pangeran Diponegoro ditata di Museum juga menarik untuk ditelaah: diletakkan di dalam sebuah lemari kaca dan diselimuti dengan kain putih sehingga alih-alih tertampilkan, justru seolah seperti disembunyikan, memberi kesan misterius dan lebih sakral.

Akhirnya, keunikan sebuah benda, atau nilai singularitasnya, ditentukan oleh kekuasaan subyek. Mengoleksi bukan sekedar soal menginginkan sesuatu, tapi juga kebutuhan untuk mengonstruksi sebuah narasi. Penciptaan nilai singularitas adalah sebuah bentuk kekuasaan yang narsistik, objek hanyalah simbol yang tidak berdiri sendiri melainkan disusun oleh suatu sistem pemaknaan. Adalah tugas kita untuk kemudian mempreteli sistem ini sampai ke sumsumnya satu per satu, dan dengan demikian terus mempertanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap sederhana, sesederhana: mengapa kursi hanya sekedar kursi, atau sebaliknya, mengapa kursi bukan hanya sekedar kursi.  

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s