Tugas Filsafat

Pelajaran pertama yang saya dapat saat kuliah Pengantar Filsafat, semester 1 tahun 2007 adalah bahwa, “Filsafat tidak membuat roti.” Begitu kata Louis Katsoff, sang penulis buku yang wajib dibaca bagi mahasiswa baru. Pak Katsoff menambahkan, filsafat tidak memberi petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat bom atom. Filsafat tidak akan memberi jawaban terhadap persoalan yang anda hadapi, namun– masih menurut Pak Katsoff– mahasiswa filsafat tidak perlu kecewa dan bersedih hati, karena “anda akan terbiasa mengadakan penalaran secara tetap sehingga anda akan siap mendapati bahwa penyelesaian anda sering tidak memadai dan bersifat sementara, serta tidak diterima oleh banyak orang.” Melihat kembali buku ini setelah lulus kuliah, saya merasa perkataan Pak Katsoff seperti sabda Mario Teguh bagi mahasiswa-mahasiswa Filsafat yang sedang galau.

Ingatan saya atas proposisi epik bahwa “Filsafat tidak membuat roti” langsung menyengat kepala, ketika ternyata persoalan tentang apa tugas filsafat masih menghantui pemikiran para filsuf kontemporer. Pertanyaan yang lebih canggih, kurang lebih begini, seberapa jauh filsafat dapat mengintervensi problem sosial dan politik masa kini? Bagaimana peran intelektual filsafat dalam menyikapi peristiwa-peristiwa kontemporer? Sebuah buku kecil berjudul “Philosophy in the Present” (2009), merupakan transkrip diskusi Alain Badiou dan Slavoj Zizek sebagai panelis pada tahun 2004 di Vienna yang memberangkatkan diri dengan pertanyaan tentang tugas dan peran filsafat. Buku ini tidak menyajikan suatu pandangan yang komprehensif atas pemikiran dua filsuf tersebut, namun bagi saya sendiri, buku ini sepertinya cocok untuk menjadi pengantar memahami lebih jauh pemikiran filsafat Badiou.

Nah, jadi apa tugas filsafat?
Pertama-tama, perlu diperjelas bahwa seorang filsuf bukanlah seorang tokoh bijaksana yang dapat menjawab semua pertanyaan yang ada di dunia. Filsuf, seharusnya mengonstruksi permasalahan dan menemukan problem-problem baru. Ketika misalnya seorang filsuf di televisi menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang persoalan politik terkini, maka itu adalah sekedar opini, bukan pemikiran filsafat. Filsafat yang diposisikan sebagai kumpulan komentar etis (mana yang baik dan tidak baik) hanya menjadikannya “filsafat salon”. Seorang filsuf, adalah orang yang menentukan permasalahan apa yang penting untuk dibicarakan, bukan menjawab suatu permasalahan. Situasi-situasi sejarah, politik atau seni sebagai situasi terkini muncul di hadapan seorang filsuf sebagai tanda akan kebutuhan penemuan problem baru. Dengan demikian maka daftar pertanyaan kita bertambah: dalam kondisi apakah seorang filsuf menemukan tanda adanya problem baru yang penting untuk dibicarakan? Sebagai dasar untuk membicarakan hal ini, Badiou menawarkan sebuah konsep yang ia sebut “philosophical situation”, atau “situasi filosofis”.

Untuk memahami apa itu situasi filosofis, ada tiga kata kunci yang berguna untuk menjadi pijakan kita yaitu, pilihan, jarak dan eksepsi.

Pilihan. Filsafat adalah keharusan untuk membuat pilihan. Filsafat bukan diskusi, tapi konfrontasi. Kalau pun ia berbentuk diskusi, maka di dalamnya terdapat dua kutub pemikiran yang bertolak belakang, sebuah relasi yang tidak berelasi (relation without relation). Dalam konfrontasi, perdebatan bukanlah soal meyakinkan lawan bicara, melainkan soal kemenangan dan kekalahan dalam berargumen. Dalam situasi ini, apa itu filsafat? Filsafat berarti menjadikan kegiatan berpikir sebagai kegiatan membuat keputusan. Situasi filosofis adalah momen yang mampu menjelaskan sebuah keputusan.

Kata kunci kedua, jarak. Situasi filosofis adalah penjarakan yang tegas antara pencarian kebenaran dengan pencapaian kekuasaan. Tidak ada relasi antara pencarian kebenaran dan pencapaian kekuasaan, yang ada hanya jarak yang tidak dapat dibandingkan (incommensurable distance). Kekuasaan berarti kekerasan, dan ini bukanlah hambatan bagi kebenaran sebab aturan, ketentuan atau formula yang membatasi pencarian kebenaran imanen dalam kebenaran itu sendiri. Sebelumnya mungkin perlu dijelaskan arti kebenaran dalam terma Badiou. Kebenaran hadir ketika subjek mengeksplisitkannya ke dalam bahasa yang dimengerti situasi (situasi dalam pengertian ontologis), kebenaran juga adalah suatu bentuk transformasi yang melampaui normalitas situasi lama. Adalah tugas filsafat untuk menunjukan jarak yang tidak terbandingkan antara kebenaran dengan kekuasaan sebab tidak ada ukuran umum yang dapat menjadi pembanding keduanya.

Yang terakhir adalah eksepsi, atau pengecualian (saya masih memikirkan apakah terjemahan yang pantas untuk exception: pengecualian atau pengutamaan. Jadi untuk amannya, saya gunakan terjemahan serapan, “eksepsi”.) Antara kekuasaan dan kebenaran ada jarak yang tidak dapat dibandingkan dan ada relasi yang bukan relasi. Dalam relasi paradoksal ini, filsafat harus mempertimbangkan sebuah eksepsi. Eksepsi adalah nilai sebuah selaan (value of break). Apa itu nilai sebuah selaan?

Saya kira mungkin sulit memahami terma ini tanpa menyertakan contoh yang diberikan Badiou. Contoh berikut ini menarik, karena Badiou mengambilnya dari sebuah film Jepang berjudul “The Crucified Lovers” (1954). Menurut Badiou, film ini adalah film terbaik tentang cinta. Film ini (yang belum pernah saya tonton), menceritakan seorang perempuan yang menikah dengan pemilik bengkel besi dan kemudian berselingkuh dengan salah seorang pegawai di bengkel suaminya. Di Jepang pada zaman itu, perzinahan adalah sesuatu yang sangat tercela dan pelakunya harus disiksa sampai mati. Perselingkuhan ini kemudian terendus oleh tetangga mereka, dan pasangan ini lari ke sebuah hutan untuk menyelamatkan diri. Sang suami, yang kepribadiannya sederhana dan sangat tulus, memilih untuk menutupi perselingkuhan istrinya dan melindungi mereka dari pelarian. Namun di akhir cerita, sepasang kekasih ini menyerahkan diri pada polisi dan menjalani hukuman mereka. Keduanya kemudian diarak di jalanan lalu diikat di sebuah tiang, siap menghadapi kematian mereka. Film diakhiri dengan adegan seorang pembantu yang melihat arak-arakan itu dan mengatakan bahwa pasangan tersebut tidak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya.

Kebahagiaan yang ganjil ini, menurut Badiou adalah nilai dari selaan. Ketika nilai cinta berhadapan dengan nilai dalam norma masyarakat, tidak ada ukuran umum yang dapat dibandingkan. Dalam relasi tanpa relasi ini (atau, ketidakmungkinan relasi), hadir kesenjangan jarak yang tidak terukur dan tidak terbandingkan sebagai situasi filosofis. Pemikiran filsafat adalah selaan yang mentransformasi kehidupan. Tugas filsafat adalah sebagai penyela, situasi filosofis adalah ketika seorang filsuf dituntut untuk memikirkan hal-hal yang tidak biasa, atau menjungkirbalikan hal-hal yang sudah umum diterima. Sebagai penyela, atau untuk menarasikan sebuah selaan, kita perlu pertama-tama menarasikan sebuah relasi meski pada akhirnya narasi tersebut adalah narasi tentang penyelaan.

Dari ketiga kata kunci ini, kita dapat mengatakan bahwa tugas filsafat adalah untuk mencari tautan antara tiga tipe situasi: tautan antara pilihan, jarak dan eksepsi. Konsep filosofis adalah apa yang menautkan problem atas pilihan (atau keputusan), problem atas jarak (atau kesenjangan) dan problem atas eksepsi (atau peristiwa). Inilah kisah yang ditawarkan oleh filsafat, untuk selalu berada dalam pengecualian, berjarak dengan kekuasaan, dan menerima segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat, seberapapun asing dan sulitnya.

Pada akhirnya, filsafat mengada bukan karena ada sesuatu di luar dirinya. Filsafat bukanlah refleksi atas apapun. Filsafat ada, dan bisa ada karena adanya selaan, pilihan, jarak dan peristiwa.

Advertisements

One Comment on “Tugas Filsafat”

  1. Sandi Kaladia says:

    Di masa kini ke depan Sunda akan melahirkan Para Filsuf Handal yang siap menghancurkan kesalahan cara berpikir & manipulasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Para Filsuf Dunia.
    MARI KITA MEMBUAT KARYA FILSAFAT AGAR KITA MENJADI SEORANG FILSUF, YANG BERTANGGUNG JAWAB MENGHADIRKAN KEMBALI KEBENARAN ILMU SANG MAHA PENCIPTA, sebagai mana yang dilakukan oleh Filsuf Sunda Mandalajati Niskala, yang sebagian hipotesisnya sbb:

    1) Menurut para akhli di seluruh Dunia bahwa GRAVITASI BUMI EFEK DARI ROTASI BUMI.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala SALAH BESAR, bahwa Gravitasi Bumi TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ROTASI BUMI. Sekalipun bumi berhenti berputar Gravitasi Bumi tetap ada.

    2) Bahkan kesalahan lainnya yaitu semua akhli sepakat bahwa panas di bagian Inti Matahari mencapai 15 Juta Derajat Celcius.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala panas Inti Matahari SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN”.
    Beliau menambahkan:“KALAU TIDAK PERCAYA SILAKAN BUKTIKAN SENDIRI”.

    3) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala sangat logis menjelaskan kepada banyak pihak bahwa MATAHARI ADALAH GUMPALAN BOLA AIR RAKSASA YANG BERADA PADA RUANG HAMPA BERTEKANAN MINUS, SEHINGGA DI BAGIAN SELURUH SISI BOLA AIR RAKSASA TERSEBUT IKATAN H2O PUTUS MENJADI GAS HIDROGEN DAN GAS OKSIGEN, YANG SERTA MERTA AKAN TERBAKAR DISAAT TERJADI PEMUTUSAN IKATAN TERSEBUT. Suhu kulit Matahari menjadi sangat panas karena Oksigen dan Hidrogen terbakar, tapi suhu Inti Matahari TETAP SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN.

    4) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala menegaskan: “CATAT YA SEMUA BINTANG TERBUAT DARI AIR DAN SUHU PANAS INTI BINTANG SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN. TITIK”.

    5) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Gravitasi ditimbulkan oleh adanya massa pada suatu Zat.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala: “GAYA GRAVITASI BUKAN DITIMBULKAN OLEH ADANYA MASSA PADA SEBUAH ZAT ATAU BENDA”.
    Mandalajati Niskala menambahkan: “Silahkan pada mikir & jangan terlalu doyan mengkonmsumsi buku2 Barat.

    6) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala membuat pertanyaan di bawah ini yang cukup menantang bagi orang-orang yang mau berpikir:
    a) BAGAIMANA TERJADINYA GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    b) BAGAIMANA MENGHILANGKAN GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    c) BAGAIMANA MEMBUAT GAYA GRAVITASI DI PLANET LAIN YG TIDAK MEMILIKI GAYA GRAVITASI?

    7) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Matahari memiliki Gaya Gravitasi yang sangat besar.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala Matahari tidak memiliki Gaya Gravitasi tapi memiliki GAYA ANTI GRAVITASI.

    8) Pernyataan yang paling menarik dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yaitu:
    “SEMUA ORANG TERMASUK PARA AKHLI DI SELURUH DUNIA TIDAK ADA YANG TAHU JUMLAH BINTANG & JUMLAH GALAKSI DI JAGAT RAYA, MAKA AKU BERI TAHU, SBB:
    a) Jumlah Bintang di Alam Semesta adalah 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000
    b) Jumlah Galaksi di Alam Semesta adalah 80.000.000.000.000
    c) Jumlah Bintang di setiap Galaksi adalah sekitar 13.000.000.000.000

    9) Dll produk Filsafat seluruh cabang ilmu dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala YANG SIAP MENCENGANGKAN DUNIA seperti Wahyu Cakra Ningrat, Trisula Weda, Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Diri, Sastra Jendra, Filsafat Ilmu Pengetahuan & Jagat Raya, dll.

    Selamat berfilsafat
    @Sandi Kaladia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s