Memikirkan Apa yang Dipikirkan Hegel

Image
Foto oleh Budi N Dharmawan.

Saya punya seekor anjing jantan. Namanya Hegel, usianya baru 4 bulan. Dia lahir di bulan Desember dan memiliki 8 saudara. Saya mengadopsinya dari seorang teman. Hegel adalah anjing campuran ras Yorkshire Terrier dengan anjing kampung. Kata dokter hewan yang kemarin memberinya vaksin, wajah Hegel kayak bule, tapi badannya kampung. Saya memberinya nama Hegel, karena saya pikir, sejauh ini dan setahu saya, nama filsuf yang paling imut dan paling pas untuk nama anjing, adalah “Hegel”. Saya tidak bisa membayangkan jika harus memanggil anjing saya dengan nama-nama susah, bayangkan, misalnya, “Agamben”, “Althusser”, “Kirkegaard”, atau “Schopenhauer”–sepertinya berlebihan, dan akan membuat lidah keriting. Dengan memberinya nama Hegel, saya tidak berharap anjing saya akan jadi pemikir, pun saya tidak bermaksud “mendekonstruksi” nama filsuf Hegel. Menurut sebuah buku panduan merawat anjing, nama anjing yang baik adalah nama dengan dua penggalan kata, cocok, kan: He- dan -Gel.

Ini pertama kalinya saya punya hewan peliharaan. Setelah saya pikir-pikir, barangkali keputusan mengadopsi anjing ini impulsif pada awalnya. Hanya karena bayi anjing ini terlihat begitu kecil dan rapuh, apalagi tatapan matanya dan cara dia bermanja-manja seperti tidak mau lepas dari pangkuan saya yang waktu itu kebetulan berkunjung ke rumah teman saya. Beberapa teman juga meragukan keputusan saya memelihara anjing, kebanyakan, dengan nada mencibir mengatakan, “Mengurus diri sendiri saja belum rampung, kok mau memelihara anjing.” Saya hanya bisa tersenyum getir, karena pendapat beberapa teman itu tidak bisa dikatakan salah, walau belum tentu sepenuhnya benar.

Pertama kali Hegel berada di rumah saya, dia tampak grogi dengan lingkungan baru ini. Apalagi usianya baru dua bulan waktu saya mengambilnya dari induknya, Barbie. Tapi untungnya, Hegel selalu makan dengan lahap, jadi saya tidak khawatir kalau dia akan sakit. Awalnya, tentu saja kelakuan Hegel cukup membuat frustasi, dia pipis dan buang air besar sembarangan di seluruh rumah. Dengan gelisah saya berselancar di dunia maya untuk mempelajari bagaimana cara mengajari anjing pipis dengan benar. Acara televisi “Dog Whisperer” yang dipandu Cesar Milan menjadi tontonan wajib supaya saya bisa mendapat tips-tips penting untuk melatih Hegel. Setelah dua minggu lebih berada di rumah saya, Hegel mulai terbiasa, bahkan mulai “kurang ajar”, mungkin karena giginya sedang mau tumbuh, maka dia senang sekali mengigit apa saja, mulai dari meja, kursi, buku-buku, sendal dan sepatu.

Kadang saya sering bingung melihat Hegel.Kerjaannya seharian hanya gigit-gigit, tidur, bengong, kadang merecoki nyonyanya. Saya sering merasa bersalah kalau tidak meladeni Hegel karena saya harus bekerja. Andai anjing bisa nonton TV, dengar musik atau baca buku. Saya berpikir, apa anjing tidak bosan dengan hidupnya? Tapi, bukankah hidup manusia juga dipenuhi dengan rutinitas yang tak kalah membosankannya?

Kalau sedang mengamati Hegel bengong, matanya menerawang entah kemana, kadang saya berharap bisa mengajaknya bicara, menanyakan apa yang sebetulnya dia pikirkan atau apa yang dia mau saat dia mulai menggonggong tanpa sebab dan ancaman saya untuk menjadikannya tongseng tidak juga membuatnya diam. Mencoba memikirkan apa yang dipikirkan Hegel membuat saya merenung-renungkan arti berbahasa dan berkomunikasi. Jika manusia berkomunikasi dengan bahasa yang disepakati secara kolektif, maka berbicara dengan anjing adalah komunikasi dengan suara atau bunyi yang “disepakati” sebagai pola eksklusif anjing dan majikannya. Dua pola kesepakatan ini sebenarnya tidak jauh berbeda jika kita mengacu pada teori permainan bahasa (languange game) Ludwig Wittgenstein. Bagi Wittgenstein, kesepakatan bahasa secara kolektif sebenarnya menyederhanakan arti “pengertian”, membuat seolah-olah satu kata, misalnya “Makan” bisa menangkap keseluruhan realitas atas apa itu makna “Makan”. Dalam permainan bahasa, bahasa adalah bagian dari aktivitas yang tidak pernah stabil dan memiliki makna yang jamak sesuai dengan fungsinya (meaning as use). Dalam setiap permainan bahasa ada peraturan yang berbeda-beda, kata “Makan” yang saya katakan ke teman saya memiliki peraturan dan efek sebab-akibat yang berbeda ketika saya mengatakan “Makan” pada Hegel, misalnya. Bahasa barangkali adalah cara terbaik untuk berkomunikasi, namun bahasa mustahil bisa menjelaskan keseluruhan dari realitas (atau Yang Nyata, dalam terma Lacanian) sehingga kesalahpahaman merupakan sesuatu yang niscaya. Ketika saya mengatakan “Makan” kepada seseorang, ada realitas “makan” yang tidak tertangkap oleh kata “m-a-k-a-n” yang saya ucapkan, dan kemudian ia tereduksi lagi oleh kemampuan si penerima pesan atas pemahamannya atas realitas “makan”. Dalam bahasa, kita dipersatukan sekaligus dipisahkan. Bahasa mengasingkan kita tapi sekaligus menjadikan kita masyarakat; masyarakat yang terdiri dari subjek terasing dan mengasingkan.

Bukankah kita sedang disiksa oleh bahasa? Disiksa oleh keinginan untuk saling memahami, sesuatu yang barangkali mustahil.

Saya banyak mendengar orang berkata bahwa cinta anjing pada tuannya adalah cinta yang setia dan cinta tanpa syarat. Tapi bukankah pemikiran ini adalah proyeksi manusia atas bayangannya sendiri akan apa yang ia ingin anjing tersebut pikir atau rasakan. Apakah kita benar-benar tahu apa yang anjing pikirkan dan rasakan? Saya kira, kadang hubungan semacam ini juga terjadi pada relasi antar manusia. Bukankah kita kerap serampangan membaca tanda, dan menerjemahkan tanda tersebut sesuai proyeksi atas apa yang kita inginkan semata? Dalam komunikasi, ruang skeptik, atau kesadaran bahwa kita tahu bahwa kita tidak tahu adalah satu ruang yang niscaya. Untuk “mengerti” kita harus memahami keterbatasan “pengertian”. Retakan dalam ide yang sempurna atas “pengertian” atau “pemahaman” utuh, adalah misteri yang menurut saya, menjadikan hidup lebih menarik. Setiap teka-teki menawarkan petualangan baru, menuntun kita pada terkaan-terkaan yang barangkali salah dan mengecewakan, namun memberi pelajaran. Keterbatasan komunikasi adalah isyarat untuk bersikap empati dan tidak mudah membuat asumsi-asumsi.

Hubungan saya dengan Hegel, sedikit banyak memberi saya inspirasi pada hal-hal kecil dalam relasi saya dengan manusia lain. Meskipun tindakan mendomestifikasi anjing adalah tindakan yang antroposentris, memelihara dan berelasi dengan anjing adalah sebuah hubungan dua arah. Hegel membuat saya sebagai mahluk manusia merasa semakin kecil di dunia ini karena ia membuat saya sadar ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya pahami. Dalam hal ini, jika Joko Pinurbo bilang bahwa bukan kita yang membaca buku melainkan buku yang membaca kita, maka bukan saya yang mengajarkan Hegel, tapi Hegel yang mengajarkan saya.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s