Menolak kesimpulan

murakami cover

Manusia adalah mahluk yang terus-menerus mencari makna dalam hidupnya. Barangkali dorongan ini muncul karena kesadaran bahwa suatu hari nanti, cepat atau lambat, kita semua menunggu giliran mati. Manusia ingin hidupnya punya makna, punya alasan dan tujuan. Kematian menjelma seperti batas waktu yang menghantui manusia untuk segera menemukan arti dalam hidupnya. Tiap-tiap orang punya cara dan interpretasi berbeda untuk meraih sang makna: ada yang mencapainya dengan tolak ukur kemapanan dalam masyarakat, ada yang menempuh jalan spiritual/religius, ada yang melakukan kerja kemanusiaan agar “berarti bagi orang lain”, ada juga yang memandangnya dengan cibiran yang sinis. Pandangan kita terhadap makna hidup adalah hal yang kemudian mendefinisikan eksistensi kita. Akal budi yang konon dianugerahkan pada manusia, menjadi jebakan yang mendorong kita–seperti legenda Sisiphus, jatuh, bangun dan jatuh lagi mencari untuk mencari sesuatu bernama “makna”.

Tapi apa sebetulnya arti makna? Apa arti menjadi berarti?

Toru Okada, tokoh utama dalam novel Wind Up Bird Chronicle karya Haruki Murakami, adalah seorang laki-laki di usia pertengahan tiga puluhan yang sedang mencari makna dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun bekerja di sebuah firma hukum, ia tiba-tiba memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk memikirkan apa yang benar-benar ia inginkan dalam hidup. Toru adalah laki-laki sederhana yang tidak memiliki ambisi apapun dalam hidup. Setelah sekian lama terbiasa tidak pernah menginginkan sesuatu, keputusan ini justru membuat Toru tersesat dalam keinginan (dan ketidakinginannya). Ia tahu apa yang tidak ia inginkan, tapi ia tidak dapat menemukan apa yang benar-benar ia inginkan.

Setelah Toru berhenti bekerja, serangkaian peristiwa misterius menghampiri hidupnya. Diawali dari hilangnya kucing peliharaan Toru, seolah-olah peristiwa tersebut menjadi penanda dari keputusan istrinya, Kumiko, yang tiba-tiba pergi tanpa sebab dan tanpa meninggalkan secuil pesan. Sejak itu, dimulailah pertemuan Toru dengan tokoh-tokoh eksentrik yang memicu peristiwa-peristiwa ajaib dalam hidupnya– seolah-olah mendorong untuk menemukan makna yang selama ini ia cari. Tokoh-tokoh ini datang dan pergi, berkelindan dalam mimpi dan kenyataan, mereka hadir seolah hanya untuk memperumit keadaan. Tiap-tiap tokoh– seorang perempuan penelpon misterius, duo kakak beradik cenayang Malta Kano dan Creta Kano, tetangga Toru, May Kasahara si remaja 16 tahun yang terobsesi dengan kematian, Letnan Mamiya, seorang tentara di era Perang Dunia II yang hidup dalam trauma dan pasangan ibu-anak Nutmeg dan Cinammon yang menjalankan bisnis pengobatan spiritual berkedok perusahaan fashion design– hadir dengan cara yang ganjil, masing-masing menawarkan cerita beranatomi kesedihan.

Cara Murakami membangun cerita dalam novel ini sangat detail, kita seperti mendapat gambaran mikroskopik suatu peristiwa. Deskripsi-deskripsi terkecil, seperti warna, jenis dan aroma pakaian seorang tokoh digambarkan dengan sangat (atau terlalu) realis, sampai justru terasa surealis. Saya merasa seperti hidup di sebuah dunia animasi yang telah dirancang dengan sangat ketat, sampai yang palsu terasa sangat nyata dan meyakinkan. Plot cerita disusun melompat-lompat, tiap tokoh seperti menuntut mendapat porsi besar dalam cerita, masing-masing punya kisah yang tidak mau kalah penting dengan si tokoh utama. Dalam jalinan cerita yang rumit, pembaca terjebak di tengah pusaran hidup Toru Okada yang seolah berjalan di treadmill, terus bergerak tapi tidak kemana-mana.

Toru, dengan cara yang juga tidak kalah absurd dengan tokoh-tokoh lainnya, menemukan sebuah sumur kering di dekat rumahnya dan masuk ke dalam sumur untuk berkontemplasi dalam kegelapan. Di dalam sumur, Toru memasuki sebuah dunia subterranian di mana ia memanggil kembali memori masa lalunya, mencoba mencari tahu apa penyebab kepergian Kumiko dengan keluar masuk dalam mimpi dan kenyataan yang semakin tipis batasnya. Ia tidak melakukan apa-apa, kecuali berpikir. Ia membiarkan pikirannya berpikir. Bagi saya, tokoh Toru dalam novel ini adalah sebuah kepribadian yang mengesankan. Ia sedikit naif, pendengar yang baik, setia pada kesepiannya, dan teguh. Nasihat dari seorang kakek tua (Mr. Honda), sedikit terdengar seperti filsafat Zen yang klise, namun merupakan salah satu pangkal penting dalam kisah Toru Okada:

“The point is, not to resist the flow. You go up when you’re supposed to go up and down when you’re supposed to go down. When you’re supposed to go up, find the highest tower and climb to the top. When you’re supposed to go down, find the deepest well and go down to the bottom. When there’s no flow, stay still. If you resist the flow, everything dries up. If everything dries up, the world is darkness.”

Dari kepribadian Toru saya belajar paradoks-paradoks dalam hidup. Diam, berhenti dan tidak melakukan apapun ternyata adalah tindakan yang paling sulit dalam dunia yang terus menerus memaksa orang melakukan sesuatu untuk menemukan makna dan tujuan. Kadang, tidak punya tujuan adalah tujuan itu sendiri.

Jika kita membayangkan ada sebuah kesimpulan (atau sebuah tujuan) yang bisa didapat setelah membaca karya Murakami, barangkali kita akan kecewa. Ketika akhirnya halaman terakhir buku ini habis, ada perasaan tercerabut– kesadaran saya yang asyik berada dalam dunia rekaan Murakami harus berakhir dan saya harus berhadap-hadapan dengan realitas lain, realitas yang kini terasa mencurigakan. Jika realitas rekaan yang dibangun Murakami bisa terasa begitu nyata, bagaimana jika ternyata realitas yang saat ini saya alami di dunia tempat saya hidup ternyata juga tak lain hanyalah sebuah rekaan? Yang disebut sebagai “akhir” cerita, seolah-olah hanya peristiwa yang terhentikan karena Murakami kehabisan tinta untuk melanjutkan tulisannya. Tapi barangkali memang dengan cara inilah kita harus “memaknai” kisah Toru Okada– kalau memang ada yang disebut makna, atau kalau memang harus dicari maknanya.

Barangkali ide tentang “mencari makna” adalah hal yang terlalu dilebih-lebihkan. Terkadang ada hal-hal yang memang tidak dapat terjelaskan, atau tidak perlu dijelaskan. Kepastian yang jelas atau keinginan untuk menyimpulkan bisa jadi hanya kedok dari ketakutan kita atas anomali realitas, kenyataan bahwa akal budi manusia tidaklah cukup untuk mencerna dengan logis segala realitas di dunia.

Sepertinya, Murakami sendiri menolak konsep kesimpulan dalam novelnya. Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, ia mengatakan, “Experience itself is meaning. The protagonist has changed in the course of his experiences—that’s the main thing. Not what he found, but how he changed.”

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s