I want to write and I have nothing to tell you

Kadang-kadang kita harus memaksa diri untuk menulis, meski sedang tak ingin, atau sedang tak tahu harus menulis apa. Bahkan Iwan Fals memulai sebuah lagu dengan lirik, “Aku tak tahu, harus mulai dari mana.. Aku tak tahu harus menulis apa..”. Dan dia menghasilkan lagu yang sangat bagus. Tapi saya bukan Iwan Fals, sayangnya. Jadi saya tidak bisa menjanjikan apa-apa yang bagus pada tulisan ini.

Susan Sontag, dalam sebuah wawancara pernah bilang, bahwa salah satu yang dapat mendorongnya untuk menulis adalah perasaan bersalah karena tidak menulis. Mungkin, saat ini saya sedang sedikit merasa bersalah karena sudah lama tidak menulis.

Saya pernah menulis sedikit tentang automatic drawing dan automatic writing. Mungkin kalau menggambar dan sedikit melantur, kita bisa kemudian menyebutnya “seni”, sebagai sebuah buah pikir dari alam bawah sadar yang menjelma dalam bentuk-bentuk yang bisa abstrak, surealis, atau bisa juga hanya omong kosong. Seni dan omong kosong memang dibatasi oleh garis yang sangat tipis. Dalam buku kumpulan drawingnya, “Arboretum”, David Bryne mengatakan bahwa mungkin membiarkan tangan untuk “mengatakan” apa yang tidak bisa dikatakan adalah semacam self-therapy, yang membentuk sebuah logika irasional. Tapi buat saya, sepertinya kalau menulis, ada sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Bahkan saat menulis melantur, selalu seperti ada dorongan untuk menghapus dan mengedit. Seperti harus tetap berada pada logika yang baku, yang maunya rasional (saat membaca tulisan ini, saya bahkan berpikir ulang akan pernyataan saya di atas tentang menyebut sesuatu sebagai “seni”). Mungkin karena tulisan ini juga dipublikasikan di blog. Walau mungkin yang membaca hanya 1-2 orang, tapi mempublikasikan ke Internet itu kan seperti melempar umpan ke lautan lepas yang luas, kita tidak pernah tahu siapa yang pernah membacanya. Tapi mengapa saya peduli kepada pembaca, jika saya memang hanya sedang ingin melantur? Mungkin ini hanya pembenaran atas omong kosong yang sedang saya tulis.

Saya baru menyadari bahwa saya menggunakan banyak sekali kata “mungkin”. Mungkin, karena saya takut dianggap mengambil kesimpulan terlalu cepat. Mung-kin. M-u-n-g-k-i-n.

Susan Sontag menulis jurnal harian secara berkala sejak usia 14 tahun. Dia terus menulis sampai tutup usia di tahun 2004. Pada tahun 2008, anak Sontag, David Rieff, memutuskan untuk mengedit dan menerbitkan jurnal ini dalam tiga bagian. Yang pertama, judulnya “Reborn” ditulis pada tahun 1947 – 1963. Yang kedua berjudul “As Consciousness is Harnessed to Flesh” yang ditulis pada tahun 1964-1980. Yang ketiga belum terbit. Rieff dalam pengantar buku “Reborn”, menyatakan bahwa ia sempat ragu ketika akan menerbitkan kumpulan jurnal harian Sontag. Seluruh hidup Sontag ada di dalam jurnal ini, dalam bentuk ratusan notebook yang ia simpan di dalam sebuah lemari. Ada banyak hal yang ditulis Sontag– Pengalaman seks pertamanya. Kutipan buku. Daftar hal-hal yang harus ia lakukan. Kesepiannya. Kesendiriannya. Daftar hal-hal yang ia sukai dan tidak ia sukai. Puisi. Semuanya tidak beraturan alias random. Se-random hidup. Tapi bagi saya semuanya seperti ditulis oleh seseorang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk terus menerus berpikir secara serius. Saat meregang nyawa di rumah sakit, Sontag hanya berkata pada Rieff, “Kamu tahu kan di mana letak notes-notesku.” Sontag meninggal tanpa memberi instruksi apapun tentang tulisan-tulisannya yang belum diterbitkan.

Saya membayangkan, setelah Sontag meninggal– Rieff dan ratusan notes ibunya. Hal-hal yang mungkin tidak ia ketahui, atau tidak ingin ia ketahui. Saya jadi ingat pidato Orhan Pamuk saat menerima nobel di tahun 2006 yang sangat menyentuh, judulnya “Koper Ayah Saya”. Suatu hari ayah Pamuk memberikannya sebuah koper yang berisikan tulisan-tulisannya, dan meminta Pamuk untuk membukanya hanya jika ia telah meninggal. Tahun 2002, setelah ayahnya meninggal, Pamuk menatap koper itu seperti sebuah kotak pandora. Ia begitu takut untuk membukanya. Pertama, ia takut jika ternyata ia tidak menyukai tulisan ayahnya. Bagaimana jika ayahnya bukan penulis yang baik? Tapi di sisi lain, yang sebetulnya membuat Pamuk cemas ialah bagaimana jika ternyata ayahnya adalah seorang penulis yang baik? Bagaimana jika dari dalam koper itu ada tulisan yang sangat baik, dan itu berarti Pamuk harus mengakui bahwa ada sisi lain dalam diri ayahnya, yang tidak pernah ia ketahui? Bahwa ayahnya adalah orang yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal? Ia hanya ingin mengenang ayahnya sebagai seorang ayah, bukan sebagai seorang penulis.

Membaca, saya kira, sama sulitnya dengan menulis. Kita harus menyerahkan sebagian kesadaran kita dan menukarnya dengan kesadaran orang lain.

Tanggal 31 Desember 1957, Sontag menulis sesuatu di jurnalnya dengan judul “On Keeping a Journal”,

Superficial to understand the journal as just a receptacle for one’s private, secret thoughts—like a confidante who is deaf, dumb, and illiterate. In the journal I do not just express myself more openly than I could to any person; I create myself. The journal is a vehicle for my sense of selfhood. It represents me as emotionally and spiritually independent. Therefore (alas) it does not simply record my actual, daily life but rather—in many cases—offers an alternative to it. . . . Why is writing important? Mainly, out of egotism, I suppose. Because I want to be that persona, a writer, and not because there is something I must say.

Seorang teman pernah mengirimi saya sebuah notes dari Perancis. Ukuran notesnya agak terlalu besar untuk dibawa-bawa. Warna dasarnya putih dan halamannya tidak terlalu tebal. Penjilidannya agak mudah rusak, tapi desainnya bagus. Saya memakainya untuk mencatat pekerjaan-pekerjaan saya. Di sampulnya tertulis sebuah kutipan dari Voltaire, “J’ai envie de vous ecrire et je n’ai rien a vous dire..” — I want to write and I have nothing to tell you. Saya pikir saya harus mulai berlatih untuk menulis for the sake of menulis itu sendiri.

Bagi saya, menulis itu juga seperti menyensor, memilah-milah pikiran. Menulis bukan hanya menyimpan, tapi juga melepaskan. Kadang ini bisa demikian menyakitkan karena kita belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada gagasan kita dan melemparnya ke lautan lepas, atau menyerahkan tongkat estafet pada para pembaca. Tapi siapa sih yang pernah siap dengan perpisahan?

 

Advertisements

One Comment on “I want to write and I have nothing to tell you”

  1. Diman says:

    saya juga terkadang bingung ketika mau menulis di blog, dan ujung2nya saya malah update status di facebook dan mengabaikan blog sampai berbulan-bulan. hahaha
    tapi setelah membaca tulisan ini saya ada sedikit semangat lagi untuk menulis walaupun tidak sedang ingin menulis :) #regard


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s