Tiga Sudut Pandang dalam Menilai ArtJog

Tulisan ini adalah catatan kecil dan spontan yang mengganjal di kepala saya setelah menonton ArtJog 2012 di Taman Budaya Yogyakarta. 

Sebagai orang yang biasa-biasa saja di dunia seni rupa– artinya bukan orang terkenal, bukan orang penting atau berpengaruh, juga tidak tahu terlalu banyak juga tentang seni rupa– satu-satunya yang saya pikirkan saat berputar-putar di ruang galeri Taman Budaya Yogyakarta adalah bagaimana caranya menilai sebuah karya itu bagus atau tidak? Apa standar yang harus kita gunakan? Kalau saja saya adalah bagian dari orang-orang yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa, tentu saya memiliki modal kultural dan bagasi pengetahuan yang juga lebih banyak untuk mengatakan apakah suatu karya bagus atau jelek atas pandangan pribadi saya yang dibangun atas pengalaman yang saya miliki. Namun sebagai orang yang pengalamannya kacrut, saya mencoba menemukan formula apa yang tepat untuk bisa mengatakan sebuah karya bagus atau jelek. 

Saya mencoba menggunakan beberapa cara pandang dalam melihat karya-karya di sana, karena saya pikir mungkin satu sudut pandang saja akan membuat saya terlalu cepat mengambil kesimpulan, yang bisa jadi salah. Bagaimanapun, semua pendapat saya tentu saja sangat subyektif dan sesuai dengan pemahaman saya yang masih sedangkal kolam renang anak-anak. 

Pertama-tama, cara paling mudah adalah menjadikan bingkai kuratorial sebagai cara melihat karya-karya yang lolos seleksi. Bambang Toko, selaku kurator ArtJog kali ini, memilih tema Looking East yang dimaksudkan sebagai “upaya untuk (kembali) mencari dunia (yang disebut) Timur, sebagaimana dahulu negara-negara Barat berlomba mencari hasil bumi dan bahan mentah sampai kawasan Timur, termasuk Indonesia.” Bagi saya isu yang diangkat Bambang Toko sebagai sebuah isu yang menarik, walau juga tricky — karena alih-alih menjadi kritis bisa-bisa malah eksotis. (Ditambah lagi persolan banyaknya kutipan yang mengacu pada usaha patronisasi Lorenzo Rudolf yang notabene, orang Barat. Looking East from West?) Nah, dengan menggunakan kerangka tema Bambang Toko ini, saya mencoba mencari-cari benang merah apa yang coba dibangun dari keseluruhan ratusan karya yang katanya dipilih berdasarkan tema ini. Standar yang saya gunakan ialah seberapa berhasil sebuah karya menyentuh permasalahan yang ditawarkan dalam tema kuratorial.

Tapi ternyata menggunakan sudut pandang macam ini dalam upaya memahami premis wacana apa yang dibangun ArtJog kali ini, ternyata malah membuat saya semakin bingung. Kerap saya sampai tidak bisa menemukan alasan apa kaitan sebuah karya dengan tema yang dijunjung oleh sang kurator. Barangkali ini juga karena kurangnya produksi teks yang membantu saya untuk memahami karya-karya yang–antara saking konseptualnya sampai sulit dimengerti, atau sebaliknya, penuh omong kosong. 

Seperti saya sebutkan di atas tadi, tema ini bisa jadi isu yang sangat menarik dan menantang karena permasalahan identitas lokal versus budaya global adalah soal yang mengakar dengan keseharian kita. Di tengah percepatan yang dibangun oleh modernitas, kultur masyarakat kita di satu sisi turut mengalami perubahan, tapi di sisi lain juga terus menerus menggelisahkan apa yang disebut sebagai “Timur” sebagai pondasi budayanya. Namun sayangnya saya tidak berhasil menangkap esensi atau minimal kesegaran interpretasi atas isu ini dalam karya-karya yang lolos seleksi ArtJog. Setiap karya di sana saya curigai hubungannya dengan tema kuratorial. Apakah ia berhasil lolos dari jebakan eksotisme, atau justru semakin mengamini pandangan tentang Timur yang dibangun Barat, atau malah bergaya kebarat-baratan tanpa paham dan sadar ideologi macam apa yang dibawa dan memengaruhi kita? 

Dalam pameran ini kita bisa melihat penggunaan material-material lokal dan tropis, seperti bambu dan kelapa misalnya. Ada juga simbol-simbol lokal seperti keris, wayang dan burung garuda. Beberapa penggunaan simbol-simbol ini sangat dangkal dan bertumpu pada bentuk yang besar dan monumental. Sedap dipandang memang. Namun kelokalan tidak dilihat sebagai sesuatu yang inheren dan bergerak dinamis dengan kehidupan sehari-hari yang kontemporer, melainkan sebagai kebudayaan tinggi yang dimistifikasi dan dieksotifikasi. Kalaupun ada usaha kritis terhadap isu-isu besar seperti efek modernisme dan sistem kapitalisme dalam konteks identitas ke-Timur-an, ia muncul dengan gaya yang klise, tidak pernah mencapai substansinya. Karya-karya dengan ukuran besar dan berusaha “monumental” tidak berhasil menggugah saya selain justru membuat saya membayangkan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membuat what-so-called-art ini (saya menyadari kenaifan pikiran saya di sini). 

Beberapa karya yang menarik bagi saya ialah karya Hafiz yang menggunakan arsip rekaman audio tokoh-tokoh seni rupa Indonesia dan visualisasi diagram yang sederhana untuk menggambarkan pencarian atas identitas seni rupa Indonesia modern. Gagasan karya video Edwin Pradipta juga menarik karena menyoal gaya mooi indie yang erat persoalannya dengan isu Timur-Barat, tapi juga tidak melupakan realitas gaya lukisan jalanan yang kini jadi pinggiran dari medan seni rupa yang eksklusif. Karya Nasirun, meskipun secara penampilan tidak saya sukai, namun memiliki pernyataan yang bagi saya terdengar seperti manifes: soal posisinya sebagai seniman yang kini “purba” dalam arus seni kontemporer dan penyangkalannya atas perubahan. 

Setelah kegagalan saya menemukan apa hubungan karya-karya di ArtJog dengan tema kuratorialnya, maka saya mencoba menggunakan sudut pandang lain. Saya mencoba memerhatikan pencapaian individual seorang seniman dalam karya mereka tanpa peduli dengan tema “Looking East”. Pencapaian ini bisa diartikan sebagai pencapaian artistik, atau pencapaian tematik. Yang satu mengacu pada bentuk, yang satu mengacu pada seberapa menarik isu yang diangkat dari pandangan personal saya. Yang ini juga menjadi soal bagi saya, mungkin karena begitu banyaknya karya yang tersebar, sehingga sulit untuk memahami satu per satu maksud masing-masing karya. Ada masalah dari penilaian saya karena saya cenderung akan melihat nama-nama yang sudah terkenal (atau sudah saya kenal) akan lebih mudah membuat saya tertarik dan lebih mudah saya pahami karena sebelumnya saya sudah tahu isu apa yang diangkat pada karya-karya sebelumnya (misalnya karya Mella Jaarsma, Agung Kurniawan, Tintin Wulia atau Nindityo). Lantas saya terus memikirkan bagaimana dengan karya-karya orang yang tidak saya kenal, dan simbol-simbolnya menjadi sulit saya baca karena saya kehilangan konteksnya? Atau apakah memang begitu cara yang “obyektif” dalam menilai karya, dan ternyata kemampuan saya-lah yang sangat terbatas? Akhirnya harus saya akui dalam standar yang kedua ini saya lebih banyak menggunakan penilaian artistik dan pencapaian seniman atas eksperimen terhadap medium. Pada standar ini saya lebih mengutamakan pengalaman melihat ketimbang pencapaian kognitif dalam sebuah karya. Saya lebih tergugah dengan tema-tema yang intim dan jujur ketimbang membawa isu-isu besar tapi banal.

Karya-karya yang “berhasil lolos” dalam standar kedua yang saya buat ini ialah antara lain, karya Anang Saptoto yang memberikan tawaran baru bagi cara fotografi dalam mengopi objek dan realitas. Isu yang diangkatnya pun memiliki riset yang mendalam dan akan lebih menarik kalau bisa melihat karya ini dalam keseluruhan seri yang dibuatnya. Karya Anggun Priambodo, “Tari Kacang”membuat saya terpana pada kejujuran statemennya yang tidak dibuat-buat, bahkan seperti setengah bermain-main. Wacana besar yang diangkat Anang sangat berbanding terbalik dengan karya Anggun yang seolah-olah tanpa pretensi, dan bagi saya dua metode kesenian ini punya tempatnya masing-masing. Saya juga suka karya Surajiya yang menggambar di atas kartu remi meskipun bagi saya presentasi dan pengaturan kartunya kurang menarik. Karya ini sederhana, jujur dan menggunakan medium yang rendah hati. Karya Claudia Dian, Spiritualitas Rangka, juga berhasil membuat saya terpana dan terus teringat dengan karya ini karena ketekunannya dalam menyusun titik-titik tebal tipis dengan pena di atas kertas yang berukuran cukup besar. Ada beberapa karya lain yang juga menarik dari seniman-seniman yang sudah cukup punya nama, namun sayangnya kebanyakan hanya pengulangan dan tidak memberi kesegaran. 

Akhirnya, saya mengulangi lagi putaran saya di ruangan galeri Taman Budaya Yogyakarta yang kini sangat kinclong. Di sambut dengan lantai kayu yang sangat sophisticated, harus saya akui tim display kali ini sangat baik dan tentu saja didukung dengan pendanaan yang kuat untuk memberi saya pengalaman seperti berada di mal-mal Jakarta. Setelah hanya dapat menemukan sedikit ketertarikan dalam dua standar yang saya gunakan sebelumnya, saya akhirnya menggunakan standar terakhir dalam melihat karya. Standar titik merah. Tentu saja, ini kan art fair. Antara sadar dan tidak sadar, mata saya terus mencari-cari titik merah di sudut kiri atas caption karya. Memang toh ternyata, dalam sebuah artfair, yang melegitimasi “baik atau tidaknya” sebuah karya adalah sesederhana keberadaan sebuah titik merah, apakah karya itu laku atau tidak. Di sini, saya dan seorang teman saya, Dina, berangan-angan: kira-kira akan diletakkan dimanakah karya-karya yang dibeli para kolektor itu? Atau kalau punya duit banyak, karya mana ya yang akan kita beli untuk menghias rumah? Mungkin karya Handiwirman cocok diletakkan di ruang tengah. Karya Anang Saptoto cocok untuk di gudang penyimpanan wine. Karya Eddie Hara pas ditaruh di kamar anak. Yah, akhirnya dalam standar yang ketiga ini saya terpaksa mereduksi semua persoalan eksperimen medium, pencapaian artistik atau kedalaman isu yang diangkat. Dan barangkali mungkin memang lebih mudah menilai karya dengan cara yang ini. Ia lebih pasti, lebih “cantik” dan lebih menguntungkan. Barangkali saya yang berharap terlalu banyak terhadap artfair. Saya tidak menolak pasar, tapi saya telah melihat bahwa kadang uang dapat membutakan.  

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s