Beberapa cerita yang terselip dalam beberapa buah buku

Saya baru saja menyadari bahwa saya kehilangan 8 buah buku. Buku-buku ini bukan buku biasa. Paling tidak bagi saya. Dan paling tidak begitu saya menyadari betapa banyak ideologi, pengetahuan dan kenangan yang ditanamkan di kepala saya oleh karena buku-buku ini. Maafkan kalau saya berlebihan dan sentimentil. Kehilangan buku memang tidak se-menghebohkan kehilangan laptop atau proyektor, kehilangan buku mungkin nilai ekonominya tidak seberapa. Tapi kita tentu tahu ada nilai-nilai yang jauh lebih penting (atau paling tidak sama pentingnya) daripada nilai ekonomi, dan saya sedang merasakannya saat ini.

Negeri Kabut, Penembak Misterius, Iblis Tak Pernah Mati, Sepotong Senja untuk Pacarku, Kalatidha, Surat dari Palmerah, Biola Tak Berdawai dan Mengapa Kau Culik Anak Kami?. Buku-buku ini adalah sebagian dari koleksi lengkap saya atas buku-buku Seno Gumira Ajidarma. Saya tidak tahu betul kemana buku-buku tersebut bisa hilang, apakah saya ceroboh karena saya meminjamkannya ke seseorang dan saya lupa, atau saya membawanya ke suatu tempat lalu saya meninggalkannya… Saya lupa, tapi saya juga bingung kenapa bisa sekian banyak yang hilang. Saya menyadarinya setelah baru-baru ini saya pindah rumah dan menata ulang rak buku saya. Memang buku-buku tersebut tidak saya baca setiap hari, mereka juga tercampur dengan judul-judul buku lain sehingga saya tidak pernah menyadari betul bahwa buku-buku tersebut bisa hilang. Entah, apakah satu per satu ia hilang karena kecerobohan saya, atau ada kutu buku raksasa yang melumat buku-buku itu, atau ada tuyul intelektual yang mencurinya.

Saya tumbuh bersama cerpen-cerpen SGA. Buku pertama yang saya baca adalah Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, waktu itu saya kelas 1 SMP dan saya meminjamnya di perpustakaan sekolah. Waktu itu saya sedang getol-getolnya membaca chicklit lokal seperti Mira W. atau Marga T., buku-buku yang kisahnya mirip sinetron. Waktu itu saya juga masih suka nonton sinetron. Jujur, waktu itu saya tertarik dengan buku itu karena judulnya yang sangat picisan. Kala itu saya mengharapkan ada formula dan efek yang sama saat akan membaca Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta: menangis termehek-mehek sebagai klimaks cerita dan berakhir dnegan kisah cinta yang bahagia. Namun ternyata ada yang berbeda antara cerpen-cerpen SGA dengan buku-buku roman yang sebelumnya biasa saya baca. Kisah-kisah cinta di kumpulan cerpen itu seringkali berakhir dengan cara yang menyedihkan, tragis atau aneh karena tak memiliki kesimpulan (open ending). Ia juga diwarnai dengan kisah seks dan perselingkuhan sirkular (Empat Adegan Ranjang) dan homoseksualitas (Lelaki yang Terindah). Semuanya begitu baru buat saya yang masih SMP.

Hubungan saya dengan cerpen SGA semakin diakrabkan ketika saya membeli Sepotong Senja Untuk Pacarku. Dan siapa sih, yang tidak bisa tidak jatuh cinta pada buku ini? Sepotong Senja Untuk Pacarku adalah sekumpulan cerpen yang barangkali tidak ditulis untuk saling berhubungan, namun bisa dibaca secara koheren dan menghasilkan impresi sureal yang utuh atas senja, cinta, kesalahpahaman, kehancuran dan kehilangan. Ia begitu indah dan begitu pedih. Tentu sangat cocok menemani remaja galau yang tak punya pacar macam saya. Sejak saat itu saya semakin terobsesi dengan karya-karya SGA. Saya mulai membeli dan membaca semua buku yang ditulis olehnya. Dan oleh karena kisah cinta yang kerap menghadirkan pencarian-pencarian eksistensi manusia urban yang kesepian, kedunguan-kedunguan manusia yang selalu jatuh ke lubang yang sama, saya juga mulai tertarik membaca Sartre atau Kierkegaard. Bisa dibilang oleh karena SGA juga saya mulai tertarik pada permasalahan filsafat dasar.

Periode penting lain dalam hubungan saya dengan karya-karya SGA ialah ketika saya mulai membaca karya-karya lainnya yang lebih politis seperti Penembak Misterius atau Saksi Mata. Dari buku-buku tersebut, keluguan dan ketidakpedulian saya atas kondisi politik yang saat itu sedang berlangsung mulai berubah. Buku-buku tersebut memberi saya pengetahuan yang telah “meracuni” dan mendorong saya keluar dari zona nyaman sebagai anak kala itu sangat apolitis. Sambil mencari informasi sana sini untuk memecahkan kode-kode bahasa walikan yang latar belakang kulturalnya jauh berbeda dari saya dalam kumpulan cerpen Saksi Mata, pelan-pelan saya mulai mengerti bagaimana otoritarianisme, pembunuhan massal dan sensor dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru. Rasa ingin tahu saya terhadap permasalahan politik pun semakin besar. Dari cerpen Clara saya memiliki pemaknaan baru tentang tragedi Mei 1998. Meski saya seorang keturunan Tionghoa, orang tua saya tidak pernah mau membahas apa yang terjadi di tahun 1998; mungkin terlalu menyeramkan, sensitif dan traumatik bagi mereka. Dari cerpen Clara-lah saya bisa memiliki pemahaman yang terang atas pemerkosaan dan penjarahan yang juga membuat sekolah saya sampai dibakar. Pelan-pelan saya juga mulai mengingat dan membaca ulang cerpen-cerpen cinta SGA yang kadang menyelipkan sekelumit ide politis atau berita yang tersensor– yang kadang tidak saya sadari karena saya membacanya sebagai “sekedar kisah cinta” (cerpen Je’Taime dan buku Jazz, Parfum dan Insiden, misalnya). Kumpulan tulisan editorial SGA dalam majalah Jakarta Jakarta yang terangkum dalam Surat dari Palmerah, Affair dan Kentut Kosmopolitan memiliki perkembangan yang ternyata juga memengaruhi bagaimana cara saya belajar dan berpikir. Surat dari Palmerah ditulis pada tahun 1996-1999, tulisannya sarat dengan kritik langsung pada keadaan politik pra dan pasca reformasi. Cara menulisnya lugas, nyinyir, penuh humor gelap dan kadang “seenaknya” (SGA pernah dalam satu edisi editorial hanya menuliskan resep membuat tahu bejeg dalam Hidangan Kaum Oposan). SGA juga tidak mengritik layaknya demonstran dengan mulut berbusa-busa meneriakkan kata-kata pamflet revolusioner, dia mengritik dengan elegan dan “berbudaya”. Beragam subjek kebudayaan ia jadikan sebagai analogi atau metafor untuk mengritik pemerintah, mulai dari kisah wayang, komik Panji Tengkorak, seni perang sun tzu, humor sufi, seni rupa, sastra, filsafat Nietzsche… Semuanya menjadi pintu pertama bagi ketertarikan saya untuk membaca buku-buku lain. Surat dari Palmerah menjadi semacam index yang menuntun saya untuk mempelajari hal-hal baru.

Lain lagi dengan Affair dan Kentut Kosmopolitan, dua kumpulan editorial ini ditulis di tahun 2000-an ketika masyarakat Indonesia merayakan demokrasi dengan carut marut dan kebebasan pers yang kebablasan. Dulu SGA pernah membuat adagium, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Apa yang terjadi ketika jurnalisme tidak lagi dibungkam? SGA menggeser kritiknya dari kritik politik dengan P besar menjadi kritik politik kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, ia tidak mau terjebak untuk menjadi “pahlawan kesiangan” yang merayakan demokrasi dengan mencaci pemerintah tanpa arah dan tujuan yang jelas. Politik pencitraan menjadi subjek utamanya untuk mengritik Homo Jakartensis (sebutannya untuk masyarakat kota Jakarta) dan tentunya dirinya sendiri. Ia mengritik konsumerisme, gaya hidup borjuis dan menguak sekelumit pencerahan-pencerahan kecil yang ia temukan dalam segala kekisruhan dunia urban. Teori-teori Foucault, Saussure dan Sartre diselipkan dengan cerdas namun tetap sederhana dalam tulisan-tulisan ini. Sekali lagi, dua buku ini juga menjadi acuan saya untuk memelajari dan mencari tahu hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah waktu itu.

Salah satu cerpen SGA yang menyentuh, dan mengubah pandangan saya terhadap sesuatu yang paling personal ialah dari cerpen Selamat Pagi bagi Sang Penganggur. Cerpen itu bercerita tentang seorang laki-laki yang juga adalah seorang suami dan ayah satu orang anak. Seorang yang sikapnya sinis dan pesimis. Laki-laki itu tidak bekerja, dan menikmati hidupnya sebagai seorang pengangguran. Waktu itu Ayah saya baru saja di-PHK dari pekerjaannya. Dia tidak berusaha mencari pekerjaan baru dan saya sempat marah padanya, karena akhirnya Ibu saya lah yang harus susah payah bekerja keras. tadinya saya pikir, ayah saya tidak bertanggungjawab. Namun setelah membaca cerpen Selamat Pagi bagi Sang Penganggur, saya mendapat cara pandang baru dalam melihat pilihan yang dibuat Ayah saya. Tokoh dalam cerpen tersebut memilih untuk menganggur; saya kutip di sini, “Di jaman modern ini, tidak bolehkan aku menjadi diriku sendiri? Banyak orang sudah hidup seperti mesin, seperti boneka atau patung. Banyak orang hanya menjadi pemburu makanan seolah-olah hidup adalah melulu urusan mulut dan perut. terlalu banyak orang hanya jadi pengemis. Terlalu banyak korban. Terlalu banyak orang hidup terpasung. Dipasung status, dipasung gengsi, dipasung adat. Aku tidak mau. Aku mau jadi penganggur dan tidak seorang pun di dunia yang berhak melarangku. Presiden pun tidak. Tuhan bersama para penganggur.”  Dari cerpen ini saya memandang pilihan-pilihan yang dibuat Ayah dengan cara yang berbeda, saya menyadari bahwa ia pasti punya alasan-alasan tertentu yang bukan berarti ia tidak bertanggung jawab atas keluarganya. Ia telah bekerja keras selama 30 tahun lebih, berangkat dari rumah di pagi hari dan pulang malam karena jarak kantornya yang jauh (dan jangan lupa kemacetan jahanam di Jakarta yang pasti membuatnya gila). Saya melihatnya sebagai sosok yang tentu bisa dan boleh jenuh, bisa bosan dan bisa muak pada hidup ini. Dan dari membaca cerpen tersebut, saya memahami hak-hak dasar Ayah saya sebagai manusia, yang boleh rehat sejenak dari rutinitasnya dan memilih untuk sedikit bersantai (atau berpikir) tentang bagaimana menjalani hidup dengan tidak sia-sia. Pikiran saya telah berdamai dengan keadaan Ayah waktu itu. Hanya berkat rangkaian kata-kata.

Akhirnya, di sinilah saya berhadapan dengan rak buku, bolak-balik mengecek tumpukan buku-buku, masih berusaha mencari-cari sesuatu yang sudah pasti tidak ada di sana. Buku-buku yang raib entah kemana, telah memunculkan kenangan-kenangan saya atas bagaimana saya tumbuh bersama buku-buku tersebut. Kehilangan laptop atau proyektor membuat saya kehilangan fungsi benda-benda tersebut, namun kehilangan buku tidak akan pernah menghilangkan bagaimana ideologi, pengetahuan, ilmu dan kenangan ditanamkan dalam kepala saya yang kecil, sempit dan berdebu ini.

Wahai buku-buku, kembalilah ke pelukanku dengan segera..

Advertisements

One Comment on “Beberapa cerita yang terselip dalam beberapa buah buku”

  1. percayalah, kamu akan lebih sering merasa kehilangan banyak hal mulai dari sekarang. nikmati saja rindunya :) *pengalamanpribadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s