Pangeran yang Selalu Bahagia dan Sembilan Kisah yang Tidak Berakhir Bahagia

Pangeran yang Selalu Bahagia merupakan judul kumpulan cerita pendek yang ditulis Oscar Wilde untuk dua putranya, Vyvyan dan Cecil. Jika anda adalah orang tua yang sejak dini ingin mengajarkan anak-anak anda tentang makna penderitaan, kesendirian, kesombongan yang memabukkan, kemiskinan atau sakitnya patah hati, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk dibacakan sebagai dongeng sebelum tidur.

Kisah-kisah yang ditulis Wilde dalam buku ini terlalu menyedihkan sehingga kadang terasa janggal, penuh ironi dan membuat saya terombang-ambing mempertanyakan ulang makna kebahagiaan. Apa memang hidup sedemikian menyedihkan? Ditulis dengan gaya klasik dan bahasa yang sederhana namun puitis, Wilde mengeksploitasi kesedihan sampai ke sumsum tulangnya.

Dalam kisah Pangeran yang Selalu Bahagia, diceritakan seorang Pangeran yang seumur hidupnya tinggal di Istana dan selalu bahagia bergelimang harta. Ketika ia mati, sebuah patung dari emas, batu rubi dan safir dibuat untuk mengenang dirinya. Patung tersebut berdiri tinggi menjulang ke angkasa, hingga alkisah suatu hari seekor burung layang-layang yang akan berimigrasi ke Mesir hinggap di kakinya untuk beristirahat. Ketika sang burung hampir tertidur, ia merasakan tetesan air jatuh ke tubuhnya. Ternyata itu adalah tetes air mata sang pangeran. Pangeran kemudian bercerita pada sang burung tentang apa yang ia lihat selama menjadi patung tinggi di tengah kota. Di sudut kampung ia melihat perempuan penjahit yang tidak mampu memberi anaknya makan, ia melihat seorang penulis drama yang meringkuk kedinginan di loteng mencari ilham, juga seorang gadis penjual korek api yang jualannya tidak laku termenung di trotoar. Sang pangeran kemudian meminta burung layang-layang untuk mencomoti batu-batu berharga di tubuhnya dan memberikannya pada mereka. Pengorbanan sang pangeran membuat Pak Walikota menganggap patung pangeran menjadi ‘kumuh dan tidak berselera seni tinggi’, sehingga patung pangeran kemudian digusur.  “Karena ia adalah tidak indah lagi, maka ia tidak lagi bermanfaat,” kata Profesor Seni dari sebuah universitas yang mendampingi Pak Walikota untuk menilai kelayakan patung Pangeran. Sang burung layang-layang juga mati karena cuaca di kota itu yang terlalu dingin untuknya.

Kisah yang tidak bahagia ini “belum ada apa-apanya” dibanding sembilan kisah lain yang juga tidak berakhir bahagia. Beberapa cerita diakhiri Wilde dengan nada sedikit moralis dan Katolik-humanis. Seperti kisah Raksasa yang Egois, tentang seorang raksasa kesepian yang kelak menemukan kehangatan dalam jiwa anak-anak yang bermain di halaman rumahnya. Atau Raja Muda yang berkisah tentang seorang anak yatim piatu yang tiba-tiba diangkat menjadi seorang raja dan tidak tega menggunakan sebuah jubah mewah karena dijahit oleh seorang ibu miskin. Namun pada kisah-kisah lainnya, seperti Bunga Mawar dan Burung Bul Bul, Teman yang Setia, Ulang Tahun Infanta, Anak Bintang dan Nelayan dan Jiwanya, seolah diakhiri dengan niatan khusus Wilde untuk menyayat hati para pembacanya.

Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul diawali dengan kisah seekor burung bul-bul yang mendengar tangisan seorang laki-laki karena tidak memiliki sekuntum mawar merah untuk diberikan pada perempuan idamannya. Padahal, perempuan tersebut hanya bersedia untuk berdansa dengannya jika diberikan sekuntum mawar merah. Tersentuh oleh perasaan cinta yang amat mendalam dari sang laki-laki, sang burung bul-bul pun terbang mengitari seluruh penjuru kota, sampai ke sudut-sudut padang ilalang untuk mencari sekuntum mawar merah. Namun ia tak berhasil menemukannya. Sebagaimana rambutan atau durian, tampaknya bunga mawar merah sedang tidak musim. Dalam pencariannya, ia bertemu dengan sekuntum mawar putih yang mengatakan bahwa ada satu cara, namun cara yang amat mengerikan untuk bisa mendapatkan mawar merah. Caranya ialah dengan menusukkan dada ke duri sebatang pohon mawar saat bulan purnama, sehingga darah yang mengalir deras akan menghasilkan mawar merah yang merekah indah. Dengan heroik, sang burung bersedia menukar hidupnya demi mendapatkan sekuntum mawar merah untuk si laki-laki yang dimabuk cinta, sebab, katanya, “Apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?”

Maka malam itu, tepat saat bulan purnama, layaknya Yesus yang mati di kayu salib, begitu pula sang burung bul-bul menusukkan duri pohon mawar ke dadanya, sehingga darah mengalir deras, dan di pagi hari tumbuhlah sekuntum mawar merah tepat di bawah jendela si laki-laki. Saat bangun pagi dengan perasaan yang masih galau, sang laki-laki menemukan bunga mawar yang tumbuh dan mekar dengan indah. Ia kegirangan dan segera memetiknya, lalu berlari ke rumah perempuan idamannya.

Sampai di rumah sang perempuan, si laki-laki menyerahkan bunga mawar dan menagih janji perempuan tersebut untuk berdansa dengannya. Namun, sang perempuan justru menatapnya dengan raut wajah setengah jijik, katanya, “Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan.” Si laki-laki marah dan berkata bahwa perempuan itu tak tahu terima kasih, ia melempar bunga itu ke kubangan sambil menggerutu. ” Ah betapa konyolnya cinta itu ” kata laki-laki itu saat ia melangkah pergi, “Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, di jaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada filsafat dan mempelajari metafisika.”

Kisah Bunga Mawar dan Burung Bul-Bul benar-benar sialan. Sama sialannya dengan beberapa kisah sedih lain di kumpulan cerpen ini yang benar-benar membuat saya tertohok oleh kisah yang katanya dibuat untuk anak-anak. Di satu sisi Wilde ingin menunjukkan bahwa kesetiaan dan ketulusan itu masih ada, namun di sisi lain ia justru mengatakan betapa naifnya mempercayai hal-hal yang kita sebut sebagai kebahagiaan. Ia mempertentangkan antara bagaimana sulitnya memperoleh kebahagiaan, namun juga betapa mudahnya menyepelekan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh, ia sulit didapat namun begitu mudah hilang begitu saja.

Dalam Catatan dari Bawah Tanah, Dostoyevsky mengutip kisah Cleopatra yang menusukkan peniti ke dada para dayang-dayangnya hanya untuk mendengar mereka berteriak kesakitan. Ia gembira, bahkan terangsang mendengar teriak-teriakan kesakitan. Harus saya akui, kali ini saya pun begitu menikmati penderitaan-penderitaan yang dikisahkan Oscar Wilde.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s