Puisi

Disclaimer: ini merupakan posting numpang lewat

Entah mengapa saya percaya, bahwa puisi yang baik akan lahir dari kesepian dan mampu menemani kesepian. Kata-kata berserakan di udara dan kesepian memungutinya, lalu menggubahnya menjadi puisi.

Apa itu puisi?

Akhr-akhir ini saya sedang akrab dengan buku puisi. Mungkin karena puisi liris selalu mampu membuat saya setengah tersenyum dan mengingat segelintir nama dan peristiwa yang manis maupun getir, atau kadang membaca buku puisi bagi saya seperti beristirahat sejenak dari kata-kata njelimet yang sering terpaksa harus saya baca. Saat membaca puisi, saya membiarkan diri saya merasakan. Kata “merasakan” memang abstrak, dan saya pun kesulitan untuk menjelaskannya. Kerap, dalam halaman-halaman buku puisi, ada kata-kata tidak terasa bermakna dan lewat begitu saja. Tapi tak jarang pula, ada baris-baris puisi yang menohok, atau mengutip istilah Acep Zamzam Noor, “mendirikan bulu kuduk.” Kalau ada puisi yang berhasil mendirikan bulu kuduk, saya bisa membacanya berulang kali. Saya selalu tergoda membaca puisi liris, tentang cinta dan kesepian, dengan sedikit sentuhan luka dan melankolia. Bagi saya membaca puisi itu seperti mendengarkan lagu. Kadang saya juga menganggap puisi yang baik setara dengan doa. Atau doa yang baik semestinya setara dengan puisi.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s