cinta dari perspektif seorang filsuf gay yang patah hatinya

Roland Barthes; nama ini tentu saja dikenal sebagai salah satu semiolog yang telah membuat ratusan atau ribuan mahasiswa filsafat dan fisipol angkatan 90-an di Yogyakarta berduyun-duyun menulis skripsi dengan buzzword “semiotika”. Sepanjang hidupnya, Barthes mengobservasi teks, simbol, tanda dan mitos untuk membongkar bagaimana hal-hal tersebut dikonstruksi untuk membentuk suatu makna yang diterima bersama.Ia menolak obviousness dari pengetahuan yang terberi. “Most of my injuries come from the stereotype”, katanya.

Baru dua karya Barthes yang sudah sempat saya bolak-balik halamannya; Eiffel Tower and Other Mythologies, sebuah kumpulan esai Barthes yang membongkar bagaimana gaya hidup borjuis Perancis dikonstruksi menjadi mitos-mitos dan Camera Lucida; dimana Barthes dalam teorinya yang kini sering dikutip para fotografer menyebut ada dua makna realitas dalam fotografi–studium dan punctum. Studium adalah zona yang mudah dilihat dan dicerna, sesuatu yang dapat ditangkap langsung secara general. Sementara punctum adalah detail yang nyaris tak terlihat dan tak penting, sekelebat kecelakaan yang mampu memberikan reaksi tak terduga dalam suatu imej.

Seperti cinta pada pandangan pertama? Barangkali. Bisa jadi.

Draft kasar buku yang sedang saya baca saat ini, “A Lover’s Discourse” ditulis Barthes saat ia belum terkenal sebagai akademisi, dan sedang menderita penyakit TBC. Penyakit ini membuatnya harus terjebak di sanatorium, dimana ia kemudian jatuh cinta pada seorang laki-laki, Robert David, yang sayangnya tidak memiliki perasaan yang sama dan bukan seorang homoseks. Setiap hari Barthes menulis surat untuknya, selama 6 bulan, kadang sehari dua kali. Tentang kisah cintanya yang kerap bertepuk sebelah tangan, Barthes berkata, “How clearly I saw that I would have to give up boys, because none of them felt any desire for me… Nothing will be left for me but hustlers.” Perkataanya memang terdengar sangat menyedihkan dan penuh nada putus asa, tapi barangkali kita tidak perlu mengasihaninya–karena tanpa kesedihan, kesepian dan luka di hatinya, tidak akan lahir buku yang paling puitis dalam sejarah penulisan Roland Barthes. Saya jadi ingat ada ungkapan bahwa “the best companion for a writer is loneliness” :)

Saya sendiri masih mencoba menerka-nerka angle akademis dalam buku ini. Dalam level praktis, buku ini merupakan pembacaan Barthes atas novel Sorrows of Young Werther karya Goethe sebagai master teks, dimana ia menggunakan peristiwa-peristiwa dalam buku tersebut untuk mengumpulkan gestur-gestur cinta. A Lover’s Discourse dari fragmen-fragmen yang mengumpulkan “figure” atau yang disebut Barthes sebagai gestur subjek (lover) yang merefleksikan cinta dalam kesendirian. Misalnya, rasa cemburu (jealousy), penantian (waiting), diam (silence), menangis (crying), drama (drama), dan berbagai gestur lainnya yang biasa ditunjukan saat seseorang sedang berurusan dengan cinta. Sampai saat ini, saya baru bisa menikmati buku ini sebagai semata sebuah novel, meskipun ia tidak semudah itu untuk dicerna. Kata-kata yang bermunculan di buku ini terdengar begitu sensitif dan hati-hati, nyaris seperti puisi patah hati dari seorang laki-laki kesepian yang berusaha merasionalkan perasaannya. Dalam buku ini Barthes mengambil peran sebagai subjek yang terluka (wounded) dalam hubungan cinta; sebagai orang yang menunggu (“Am I in love? — Yes, since I’m waiting.”) Wayne Kostenbaum, dalam pengantar buku ini mengatakan, “consider  this book as a jar of nuances: trapped fireflies.” Kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Saya pikir itu istilah yang sangat tepat. Cahaya-cahaya kecil berhamburan dalam fragmen-fragmen ini. Aneh, mengganggu sekaligus menyinari.

Kunang-kunang yang ditangkap Barthes, dan kemudian dikumpulkannya ke dalam toples bagi saya seperti percikan-percikan sinar kesadaran yang muncul saat seseorang berusaha merasionalisasikan cinta. Mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hal apatah gerangan yang membuatnya menjadi begitu gila, mendadak bodoh, mudah galau, malas makan….? Buku ini seperti sebuah bentuk pergumulan Barthes dengan kesadarannya. Di satu sisi kesadaran menjadi candu, tapi di sisi lain menjadi terus menerus sadar adalah menyakitkan.

Bayangkanlah, jika kita menjadi orang “biasa” yang “tidak sadar”, kata “i-love-you” yang muncul dari mulut kekasih akan terdengar sangat merdu dan romantis. Tapi apa kata Barthes tentang kata “i-love’you”?

“I-love-you has no usage. Like a child’s word, it enters no social constraint; it can be sublime, solemn, trivial word, it can be erotic, pornographic word. It is a socially irresponsible word.”

“I-love-you is not a sentence: it does not transmit a meaning, but fastens onto limit situation: the one where the subject is suspended in a specular relation to the other.” (p. 148)

Melalui tulisan seorang teman, saya mengetahui bahwa Dostoyevski pernah berkata, “Tapi percayalah, Tuan-tuan, adalah penyakit bagi kita kalau kita jadi terlalu sadar—penyakit yang betul-betul parah.”

Bagi anda yang menikmati rasa sakit dalam kesadaran maupun ketidaksadaran, berikut saya kutipkan beberapa fragmen favorit saya dalam buku “A Lover’s Discourse.”

On embrace (in the loving calm of your arms):

“Besides intercourse, there is that other embrace, which is a motionless cradling: we are enchanted, bewitched: we are in the realm of sleep, without sleeping; we are within voluptuous infantilism (perasaan sensual seorang anak kecil) of sleepiness: this is the moment for telling stories, the moment of the voice which takes me, siderates me, this is the return to the mother, in loving calm of your arms. In this companionable incest, everything is suspended: time, law, prohibition: nothing is exhausted, nothing is wanted: all desires are abolished, for they seem definitively fulfilled.” (p.104)

On jealousy:

“As a jealous man, I suffer four times over: because I am jealous, because I blame myself for being so, because I fear that my jealousy will wound the other, because I allow myself to be subject to a banality: I suffer from being excluded, from being aggressive, from being crazy, and from being common.” (p. 146)

On waiting: 

“‘Am I in love? –Yes, since I’m waiting.’ The other never waits. Sometimes I want to play the part of the one who doesn’t wait; I try to busy myself elsewhere, to arrive late; but I always lose at this game: whatever I do, I find myself there, with nothing to do, punctual, even ahead of time. The lover’s fatal identity is precisely: I am the one who waits.“ (p. 39-40)

On crying (in praise of tears): 

By weeping, I want to impress someone, to bring pressure to bear upon someone (“Look what you have done to me”).

… I make myself cry, in order to prove myself that my grief is not an illusion: tears are signs, not expressions. By my tears, I tell story, I produce myth of grief, and henceforth I adjust myself to it: I can live with it, because, by weeping, I give myself an emphatic interlocutor who receives the “truest” of messages, that of my body, not of my speech: “Words, what are they? One tear will say more that all of them.” (p. 182)

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s