dialektika ontologis dari apa-yang-biasa-kita-sebut “cinta”

Manusia telah mengatasnamakan “cinta” untuk menciptakan banyak hal: bayi-bayi yang mempersempit bumi, novel erotik, novel sains fiksi, sajak, puisi, pantun, musik, lirik, matematika, penelitian ilmiah, kitab suci, sinetron, film, karya seni dan entah apa lagi. Ada yang bagus, tapi banyak juga yang sekedar sampah numpang liwat.

Saya tidak tahu pasti sejak kapan konsep cinta itu muncul. Apa Adam dan Hawa saling mencintai? Bukankah mereka hanya dua manusia yang terjebak hidup berdua di Taman Firdaus? Mungkin mereka mencintai karena tidak ada pilihan lain. Random thoughts. 

Pertanyaan tentang apa itu cinta, sama menyebalkannya seperti pertanyaan tentang apakah Tuhan itu ada. Sialnya, pertanyaan tentang cinta juga sama esensialnya sepertinya jika kita mempertanyakan apa itu hidup.  Membicarakan cinta itu melelahkan. Melelahkan dan menyedihkan. Ia penting dan sekaligus tidak penting.

Pertama-pertama, memikirkan esensi cinta akan membuat kita perlu mem-break down apa saja kategorisasi cinta. Cinta bisa berarti belas kasih, kepuasan, desire, emosi, pornografi, erotisisme, persahabatan, kasih sayang orang tua, passion. Semua adalah bentuk nyata dari abstraksi cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan tanpa dilekatkan dengan kategori-kategori di atas. Cinta sebagai cinta itu tidak ada. Memikirkan cinta berarti berada dalam jumlah kuantitas yang tak berbatas yang memiliki kontradiksi di dalamnya dan tidak bersifat hirarkis. Cinta bersifat singular. Ia penuh konflik– dibutuhkan tapi sekaligus tidak mungkin dimiliki secara utuh, manis sekaligus pahit, bebas sekaligus mengikat, menghidupkan sekaligus mematikan, spiritual sekaligus sensual, altruistik sekaligus egoistik. Cinta adalah bentuk nyata dari dialektika (hegelian), ia adalah inti dari kontradiksi. Secara ontologis, cinta adalah inti untuk “mengada” atau the heart of being.

Salah satu cara mengekspresikan cinta ialah dengan kata-kata. Model dialektika yang kontradiktif tampak dalam konsep kalimat “Aku cinta kamu” (I love you); dimana dalam kalimat ini membuat subjek “aku” mengada karena adanya “kamu”. Kalimat ini tidak bisa berdiri tanpa adanya subjek lain. Kalimat “aku cinta” tidak memiliki makna, dimana inti kalimat “aku cinta kamu” bukan di “aku”, atau “cinta” atau “kamu” tapi di “aku” dan “kamu”. Ia kontradiktif sekaligus non kontradiktif.

Permasalahan dari kalimat “aku cinta kamu” adalah bahwa ia memuat janji. Tanpa janji, ia hanya sebuah tuturan tanpa arti. Tidak ada bedanya dengan desahan saat orgasme, bersuara tapi tidak bermakna. Kalimat “aku cinta kamu” dikutuk sebagai sebuah janji, karena tanpa janji maka ia tidak akan memiliki makna (meaningless). Masalahnya janji dalam kalimat “aku cinta kamu” pun tidak memiliki definisi yang pasti atau tetap, dan secara paradoks pula, ia tidak bisa menjamin apa-apa di masa depan. Ada kemungkinan bahwa seseorang kelak tidak mencintai orang yang pernah ia ucap kalimat “aku cinta kamu”. Cinta, secara hukum dialektis mengandung ketidakmungkinan untuk menepati janji yang dibuat oleh cinta itu sendiri. Cinta mengandung pengingkaran di dalamnya.

———

Tulisan aneh ini adalah interpretasi sederhana (dan barangkali ngawur) atas teks Jean Luc Nancy, “Shattered Love”.

Nancy dikenal sebagai seorang filsuf kerap menulis tema metafisika dan ontologis tentang permasalahan “being” atau “ada”. Dari seorang teman saya tahu bahwa Nancy membangun filsafatnya dengan argumen bahwa seluruh pondasi filsafat Barat yang mencoba mencari “being” dalam “aku” adalah sesat pikir, sebab menurutnya “mengada” hanya mungkin terjadi dalam bentuk “mengada dengan” (being with). Saya sendiri belum membaca dengan teliti teks nancy dalam buku “Being Singular Plural”. Saya justru tertarik mempelajari beberapa esai digita-nyal yang berserakan, dimana kebetulan kali ini tema yang ditulis Nancy cukup menarik sekaligus misterius: cinta.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s