No damn cat and no damn cradle

Paradoks pahit dari kehidupan adalah kenyataan menyakitkan bahwa kita tidak akan bisa menjelaskan realitas tanpa berbohong– namun ketidakmungkinan untuk membohongi diri sendiri; membuatnya menjadi semakin menyakitkan.

Cat’s Cradle adalah buku tentang paradoks kebohongan yang ditampilkan dengan humor gelap penuh bualan-bualan satir namun arif bijaksana. Novel ini diceritakan dari sudut pandang seorang narator bernama John, yang sedang melakukan penelitian untuk menulis buku tentang pembuat bom Hiroshima Nagasaki. Investigasi John membawanya ke kota Ilium untuk mencari jejak-jejak sejarah hidup Felix Hoenikker, ilmuwan dibalik pembuatan bom tersebut. Hoenikker telah lama meninggal dan meninggalkan ketiga anaknya yang kini terpencar, Frank, Angela dan Newt. Ketiga anak ini memiliki masing-masing kepingan ice-nine, penemuan terakhir Felix yang kelak dapat menghancurkan dunia dengan membuatnya menjadi beku.

Cat’s cradle sendiri dalam bahasa Inggris berarti sebuah permainan dengan karet menggunakan tangan (cat’s cradle mengalami perubahan kata dari “scratch cradle”, lihat link ini untuk lebih jelasnya— karena saya tidak menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia). Tidak ada hubungan antara “cat’s cradle” (terjemahan harafiahnya: tempat lahir/buaian kucing) dengan bentuk permainan karet yang pada dasarnya membuat bentuk seperti dua huruf X. Newt, anak bungsu Hoenikker yang bertubuh kerdil, dalam sebuah percakapan dengan John mengatakan:

“no wonder kids grow up crazy. A cat’s cradle is nothing but a bunch of X’s between somebody’s hand, and little kids look and look and look at all those X’s…”

 “and?”

“no damn cat and no damn cradle.” (p. 118)

Konon, ketika bom atom di Hiroshima Nagasaki meledak, Hoenikker sedang memainkan cat’s cradle.

Dalam perjalanan cerita–bagai takdir yang tak terhindarkan– John bertemu dengan ketiga anak Hoenikker di sebuah negara fiktif di kawasan Karibia, San Lorenzo. San Lorenzo dipimpin oleh seorang diktator yang bernama ‘Papa’ Lorenzo, dan Frank, anak tertua Hoenikker dipercaya menjadi tangan kanannya. San Lorenzo dideskripsikan sebagai negara paling miskin di dunia yang penduduknya sangat primitif dan memegang teguh kepercayaan Bokonisme secara diam-diam. Agama resmi di San Lorenzo adalah Kristen, dan agama lain di luar itu dilarang dengan hukuman yang kejam (ditusuk dengan tombak yang ujungnya tajam). Bokonisme diambil dari nama sang pencipta agama ini, Bokonon. Cerita singkatnya, Bokonon dan Earl McCabe adalah dua orang pelaut yang terdampar di San Lorenzo dan kemudian mencoba “memerintah” San Lorenzo dengan cara menciptakan agama fiktif. Bokonisme adalah kepercayaan yang acuh tak acuh, bersifat nihilis, dan sinis terhadap hidup dan kepercayaannya terhadap Tuhan. Dalam bab pertama kitab suci Bokonisme, Bokonon menulis: “All of the true things I am about to tell you are shameless lie.”

Maka agar orang-orang percaya pada Bokonisme, Bokonon membuat kitab suci dan menyebarkan ajaran dan ritualnya (salah satu ritual dalam Bokonisme ialah bokomaru– sebuah aksi intim antar sesama penganut Bokonisme yaitu dengan menempelkan telapak kaki yang telanjang ke telapak kaki pasangannya.) Dengan strategi konspirasi yang cerdas, ajaran Bokonisme dilarang oleh McCabe agar terdengar mistis. Bokonon “menghilangkan diri” ke hutan dan McCabe berpura-pura mengerahkan tentara untuk mencarinya. Kebohongan ini membuat Bokonon seperti seorang martir suci dan membuat orang-orang menjadi pengikut taat ajarannya. Selanjutnya, dalam sejarah San Lorenzo yang aneh, McCabe memimpin San Lorenzo dan melanjutkan kebohongan Bokonisme. Ia memanfaatkan ajaran agama Bokonisme yang eskapis untuk lebih mudah mengontrol penduduk San Lorenzo. Waktu berjalan dan diktator demi diktator bergantian melanggengkan kebohongan demi kebohongan.

Kemudian, dengan jalan cerita yang absurd, ‘Papa’ Lorenzo bunuh diri dengan menelan ice nine, membuat tubuhnya beku seperti kristal. Frank sebagai tangan kanannya meminta John untuk menjadi presiden San Lorenzo (aneh sekali bukan?). Pada upacara penghormatan kematian ‘Papa’, sebuah pesawat tempur yang mengangkut jenazah ‘Papa’ mengalami kecelakaan dengan menabrak pada istana pemerintahan– jenazah ‘Papa’ jatuh ke laut dan menginfeksi lautan dengan efek dari ice nine. Hampir tidak ada orang yang selamat dari ‘kiamat kecil di San Lorenzo’, kecuali beberapa tokoh utama di novel ini, termasuk John. Cerita belum selesai begitu saja. Anda harus membacanya sendiri, untuk merasakan tawa satir yang menyeruak tiap membalik halaman buku ini.

Maka pada halaman terakhir buku ini, saya mencoba menghayati semua kesinisan dan nada-nada satir yang ditulis Vonnegut. Tentang paradoks- paradoks di dalamnya. Apakah memang pada akhirnya yang ada hanyalah kosong? Apakah kita manusia memang ditakdirkan untuk menjadi Sisipus yang terus menerus mencari tahu apa itu makna kehidupan, dan pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semuanya hanyalah kumpulan kebohongan? Apa pula makna kebebasan, ketika kita tidak benar-benar mengontrol setiap akibat dari pilihan-pilihan kita. Apa makna takdir dan apa makna kebetulan?

Dalam ranah filsafat, pemikiran nihilisme eksistensialis menganggap bahwa hidup memang tidak memiliki suatu makna atau tujuan tertentu. Semuanya absurd, dan yang ada hanyalah ketiadaan. Beberapa tokoh yang lumayan terkenal dengan tulisan-tulisan galaunya antara lain Kierkegaard dan Sartre. Dalam ranah epistemologi, metafisika atau ontologis, pemikiran nihilisme menganggap bahwa manusia tidak mungkin mendapat pengetahuan yang sempurna akan realitas– atau bahkan, realitas sesungguhnya tidak eksis (skeptisime) Ah, kadang saya merasa bahwasanya memikirkan hal-hal semacam ini tidak ada gunanya :)

Akhirnya, saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari Kitab Bokonon tentang sejarah penciptaan manusia. Diceritakan Tuhan yang merasa bosan dan kesepian menciptakan manusia dari lumpur. Ketika manusia pertama tercipta, ia bertanya pada Tuhan:

“what is the purpose of all this?” he asked politely

 “everything must have a purpose?” asked God

 “certainly,” said man

 “then i leave it to you to think of one for all this,” said God, and He went away.  (p. 190)

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s