Menjadi Cina di Indonesia

Barangkali hidup memperlakukan saya dengan sangat sopan. Atau jangan-jangan saya yang terlalu cuek atau mudah melupakan jika hidup sedang menguji.

Selama 22 tahun, seingat saya, saya belum pernah berhadapan dengan masalah diskriminasi ras. Sejak TK sampai SMA, saya bersekolah di sekolah Katolik yang didominasi ras Cina, saya terbiasa menjadi kaum mayoritas, dan barangkali kesadaran saya akan adanya realitas ras lain di luar ras saya sangatlah sempit. Ya, saya memang memiliki beberapa teman Batak atau Manado di sekolah, tapi isu tentang perbedaan atau pembedaan ras memang tidak pernah menyentuh hidup saya. Lingkungan hidup saya steril dari masalah rasisme.

Mungkin masalah perbedaan ras pertama yang sedikit menyenggol saya adalah ketika di kelas 2 SMA saya berpacaran dengan seorang laki-laki Batak yang beragama Islam. Ibu saya tentu saja tidak setuju saya berpacaran dengan laki-laki gak jelas itu, barangkali juga karena saya dianggap terlalu muda dan laki-laki itu sudah lebih dewasa. Tapi waktu itu, masalah cinta monyet ini tidak menggiring saya pada pertanyaan perbedaan ras, tapi lebih kepada perbedaan agama. Sepertinya saya perlu berterimakasih pada cinta monyet saya yang satu itu, sebab pada saat itulah pertanyaan- saya tentang agama dan Tuhan semakin menajam, dan membuat saya sempat sok-sok atheis-agnotis–padahal baru baca Nietzsche satu kali–tapi selain itu untungnya juga telah menggiring saya untuk memilih kuliah Filsafat.

Waktu kuliah di Jogja tahun 2007, saya juga tidak merasa mengalami diskriminasi ras. Saya kuliah di UGM yang notabene universitas negri, dan tentu saja sekarang saya menjadi kaum minoritas. Saya adalah satu-satunya orang Cina di angkatan saya, dan barangkali hanyalah orang Cina ketiga atau keempat yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Tapi saya tidak pernah merasa menjadi minoritas, saya tidak pernah merasa terpinggirkan atau terbedakan. Ya, memang ada teman-teman yang kadang berseloroh, “Dasar Cina!”, bahkan di semester dua seorang kakak kelas kerap memanggil saya “Beijing”. Tapi hal ini tidak pernah saya masukkan hati, sebab waktu SMA, saya dan teman-teman pun sering saling ngata-ngatain “Cina” ke satu sama lain, jika misalnya, ada yang agak pelit, norak atau stereotip-stereotip lainnya.

Pengalaman hidup saya selama inilah yang membuat saya menyangka bahwa rasa sensitif yang berlebihan pada isu-isu rasisme itu berlebihan. Misalnya penyebutan “Cina” menjadi “China” (baca: cai-na) atau “Tionghoa”. Saya malah merasa risih jika seseorang menanyakan apakah saya ras Tionghoa– kata Tionghoa membuat saya merasa berbeda karena mendapat perlakuan “khusus”. Sementara kata “Cina” tidak punya arti apa-apa buat saya, sesuatu yang biasa saja. Contoh lainnya adalah waktu saya menonton screening film “Babi Buta yang Ingin Terbang” buatan Edwin. Filmnya agak absurd, saya pun tidak bisa memahaminya secara keseluruhan. Tapi salah satu isu utama film itu adalah tentang tragedi 98 dan tentang identitas Cina di Indonesia. Sepulang menonton saya bertanya-tanya, apa memang masih banyak orang-orang Cina di Indonesia yang memiliki masalah dengan trauma dan mempertanyakan identitasnya? Pada titik ini saya bertanya, antara apakah hidup yang telah memperlakukan saya dengan terlalu sopan, atau memang saya yang terlalu cuek dan mudah melupakan?

Pikiran ini muncul lagi waktu kemarin dalam sebuah obrolan santai, seorang teman bercerita tentang hidupnya di Medan. Ia cerita bagaimana persahabatannya dengan dua gadis Cina, tentang mereka yang masih fasih berbicara bahasa Cina dan tentang anak laki-laki Cina yang sering dipalak sama preman-preman Medan yang merasa “pribumi”. Dari cerita-cerita ini tiba-tiba saya dihadapkan dengan realitas lain tentang rasisme, diskriminasi dan identitas ke-cina-an. Memang sudah sering saya dengar kisah tentang orang Cina yang sulit diterima jadi pegawai negri, atau yang paling mudah, tentang tragedi 98– tapi semuanya tidak pernah bersentuhan langsung dengan saya. Saya kemudian mencoba mengingat kira-kira apa yang saya pikirkan waktu tragedi mei 98.

Waktu itu saya kelas 4 SD. Saya ingat sekali karena waktu kerusuhan di Jakarta, saya sedang akan menerima komuni pertama. Upacara penerimaan komuni terpaksa dibatalkan sebab sekolah kami dilempari massa, kaca pecah dan bagian depan sekolah terbakar. Saya ingat waktu itu sekolah diliburkan selama sebulan. Jalanan di kompleks Kelapa Gading sepi. Tapi saya tidak memiliki pemahaman bahwa yang terjadi adalah sebuah pembantaian terhadap ras Cina. Barangkali waktu kelas 4 SD saya sama sekali tidak kritis, dan Ibu saya juga bukan pencerita yang baik. Tidak ada yang membicarakan hal ini, tidak di rumah, tidak di sekolah. Pengetahuan saya tentang tragedi 98 saya dapat justru waktu membaca cerpen SGA yang berjudul “Clara”.

Saya kemudian juga memikirkan akar keluarga saya. Ternyata saya tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang silsilah keluarga saya. Ya saya tahu bahwa Ibu saya lahir di Sibolga, Medan, dan Ayah saya berasal dari Palembang dan keduanya adalah keturunan Cina. Tapi saya tidak pernah tahu saya ini keturunan Cina nomor berapa di Indonesia, siapa buyut saya, apa marga saya, dan saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali.

Salah satu sisa tradisi Cina yang masih ada, tapi juga hampir sekarat di keluarga kami adalah perayaan Tea Pai. Tea Pai adalah semacam upacara minum teh sebelum resepsi pernikahan. Pada acara tea pai, keluarga dekat memberikan kedua mempelai ang pao dan meminum teh bersama-sama. Tapi sejauh saya amati, setidaknya pada tiga pernikahan sepupu-sepupu saya, upacara ini jadi formalitas yang sama sekali tidak mengandung nilai-nilai, selain semata hanya untuk difoto dan direkam. Upacara ini sama sekali dijalankan dengan sangat tidak sakral dan betul-betul asal.

Tiba-tiba saya memikirkan identitas saya. Bahwa saya keturunan Cina di Indonesia adalah benar, tapi kepribadian saya sama sekali tidak terikat dengan unsur Cina sama sekali. Ayah Ibu saya juga tidak bisa bahasa Cina atau bahkan sekedar merayakan Imlek. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan iklim politik di era Orde Baru, dan barangkali hal ini pula yang membuat Ibu saya tidak pernah secara eksplisit membicarakan persoalan ras, mungkin agar tidak membuat saya merasa “berbeda”. Identitas Cina hanya menjadi semacam pagar pikiran tak terlihat yang memisahkan kami dari “pribumi-pribumi pemalas”. (Ya, ibu saya dan beberapa tante saya menganggap bahwa semua orang pribumi tukang bohong dan pemalas). Oleh karena itu kami anak-anaknya wajib bersekolah di sekolah Katolik swasta dan bergaul dengan orang-orang Cina. Saya juga tinggal di Kelapa Gading yang notabene mayoritasnya adalah orang Cina. Yang menarik, pagar pikiran ini tidak terlihat di permukaan. Jika anda bertanya pada Ibu saya tentang multikulturalisme dan pluralisme, Ibu saya tentu akan segera menyetujui segala konsep-konsep mulia ini. Tapi jika andai Ibu saya memiliki perusahaan dan harus memilih pegawai antara yang Cina atau katakanlah Jawa, Ibu saya pasti akan memilih yang Cina, tidak peduli jika yang Jawa lebih pintar. Mungkin bukan Ibu saya saja yang akan bersikap seperti ini, sebab identitas kesukuan adalah hal yang penting di Indonesia. Multikulturalisme adalah sebuah konsep yang berada di permukaan, ia hanyalah jargon yang sama sakralnya dengan Pancasila dan hanya mencoba menutupi fakta bahwa rasa curiga dan ketidakpercayaan itu masih ada, dan struktur masyarakat kita pun masih melanggengkan hal ini.

Maka menjadi Cina di Indonesia merupakan sebuah pertanyaan yang tiba-tiba dihadapkan pada saya hari ini, tentang identitas yang tidak pernah sebelumnya memaksa saya berpikir karena kenyamanan hidup di lingkungan saya. Menjadi Indonesia pun sebenarnya adalah pertanyaan yang rumit, sebab yang disebut sebagai suku “asli” Indonesia pun masih bisa diperdebatkan. Saat ini yang penting untuk saya pribadi bukanlah masalah apakah saya ini Indonesia atau bukan. Agenda saya ke depan, saya ingin menggali cerita dari Nenek saya tentang bagaimana sejarah kehidupan klan keluarga kami. Sedikit cerita darinya barangkali dapat mengisi puzzle eksistensi identitas saya. Doakan nenek saya panjang umur, ya.

Saya berhutang pada dua tautan di bawah ini yang memberi inspirasi untuk menuliskan cerita ini.

http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/chinese-indonesians-is-a-once-forbidden-identity-fading/448717

http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/tracking-chinese-roots-in-indonesia/431397

Advertisements

One Comment on “Menjadi Cina di Indonesia”

  1. arfian28 says:

    Menarik tulisannya, dan mungkin ini juga yang selama ini berputar-putar di pikiran saya juga. Dan mungkin selama ini juga menjadi pencarian saya. Masyarakat kita memang masih terkotak-kotak dengan belenggu apa yang disebut ras, agama ataupun masalah primordial.
    Saya masih ingat juga ketika meledak kerusuhan 1998, ketika itu saya masih SD. Dan saya tidak paham apa korelasinya Suharto lengser, kerusuhan dan intimidasi terhadap keturunan Cina. Saya masih ingat pada waktu itu sampai ruko-ruko atau rumah sampai ditulisin “pribumi asli”. Disini juga semakin membuat saya bingung yang dimaksud pribumi itu siapa?

    Tapi kondisi ini jadi bisa menjadi paham bagaimana alur pikiran Gus Dur ketika jadi presiden Indonesia, bagaimana upaya beliau untuk mempersatukan rakyat Indonesia. Mengangkat mental terhadap keturunan Cina, pasca kerusuhan 1998. Semangat beliau bagaimana sangat mengedapankan pluralisme begitu kuat. Disini pun saya juga ada pertanyaan, kenapa semangat pluralisme yang sangat baik pun untuk pemersatu bangsa masih banyak pihak yang tidak setuju bahkan mencemoohnya. :(

    Lagi-lagi ada kejadian, ketika pasca lulus kuliah kebetulan saya dapat kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Disitu pun gap masalah itu sangat terlihat. Kebetulan perusahaannya mayoritas yang berkerja keturunan Cina. Saya menjadi minoritas dan orang yang bicaranya paling “medhog”. Disitu ada rasa ketidaknyamanan saya, saya tidak tahu itu hanya perasaan saya saja atau memang lingkungan yang membentuk itu.

    Agak tercerahkan ketika saya datang ke acara Kenduri Cinta nya Emha Ainun Najib, di Taman Ismai Marzuki. Disitu Cak Nun sering menyebut Jawa, tapi yang dimaksud dengan Jawa itu Jawa Nusantara (dari Sabang sampai Merauke), bukan Jawa yang terbentuk di mindset kita bahwa itu ya Jawa Tengah, Jogja atau Jawa Timur. Dasar pemikiran beliau tidak salah karena kiblat beliau ialah masa Majapahit ketika itu memang kekuasaannya bahkan sampai ke Malaysia, Thailand ataupun Vietnam. Sumatra ketika itu disebut Jawa karena memang pusatnya ada di Jawa, tepatnya di Mojokerto. Disini makin berkembang lagi dan semakin penasaran lagi. Hehe..

    Sampai akhirnya membaca buku karangan Agus Sunyoto, tentang Atlas Wali Songo. Saya semakin kaget bahwa zaman Kaisar Wang Ming (1-6 SM), Tiongkok sudah mengenal Nusantara. Pengaruh Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan Cheng-Ho, sampai saat ini peninggalannya bisa dilihat di Semarang. Wali Songo pun, hanya 3 orang yang asli Jawa, selebihnya adalah keturunan Cina maupun keturunan Arab. Bahkan raja Majapahit, setelah Hayam Wuruk pun juga memperistri keturunan Cina. Tak terbayangkan ketika itu Majapahit yang mempunyai sejarah Hindu Syiwa dan Buddha, berbaur mesra dengan Islam. Masyarakat pribumi, berbaur mesra dengan keturunan Cina dan Arab.

    Beberapa waktu yang lalu juga jadi sedikit tahu tentang ada yang membelokkan sedikit cerita, atau lebih tepatnya melebih-lebihkan cerita. Yang efeknya terasa sampai sekarang, yaitu bagaimana adanya suatu kebencian antara orang Sunda dan Jawa. Bahkan nama jalan di Bandung pun tidak ada yang bernama Gadjah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit. Cerita yang berkembang sampai saat ini pun, ya cerita yg didramatisir itu yang memang ketika itu tujuannya ialah politik devide et impera.

    Mengutip dari Sujiwo Tejo, kembalilah berpedoman kepada matematika. Dalam matematika, yang ada hanyalah mencari persamaan. Kalaupun ada pertidaksamaan itu adalah pengecualian saja. Disini sudah ada Pura, Vihara, Gereja, Masjid ataupun Klenteng. Pulau pun juga dari Aceh hingga Papua, yang di dalamnya pun ada ratusan suku pedalaman juga. Marilah mencari persamaan dalam keberagaman ini.

    *) Mohon maaf kalau ada yang salah atau menyinggung dalam tulisan saya, cuma ingin sekedar sharing pikiran saja. Thanks. Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s