Sheila on 7

Dua belas tahun yang lalu usia saya baru sepuluh tahun. Saya baru kelas 4 atau 5 SD. Tidak diragukan lagi saya pasti sangat labil (walau sekarang juga masih agak labil). Seperti kebanyakan anak-anak kecil sebangsa dan sepermainan saya, saya menyukai Spice Girl, Britney Spears dan Backstreet Boys. Itu musik jaman bagi anak-anak mainstream macam saya. Saya pernah menangis gara-gara Ibu saya menolak membelikan kaset Britney dan Backstreet Boys yang rilisnya bersamaan. Saya ingat betul saya menangis di depan Disc Tara Kelapa Gading dan akhirnya memutuskan membeli kaset Backstreet Boys karena Nick Carter sangat tampan. Saya pikir anak kecil memang lebih mudah kagum.

Kekaguman saya pada Sheila on 7 mengalami masa jatuh bangun. Tidak seperti pengidolaan Britney Spears dan Backstreet Boys yang segera cepat memudar begitu saya memasuki SMP (karena mereka mendadak tidak keren lagi), hubungan saya dengan Sheila on 7 sedikit lebih kompleks. Seingat saya, pertama kali saya benar-benar naksir sama band ini bukan pada lagu “Kita” tapi pada lagu “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki”, yang video klipnya si Dian Sastro. Lalu kemudian “Dan” yang video klipnya remang-remang, lantas “J.A.P” yang modelnya Dian Sastro lagi (waktu itu saya sempat cemburu berat sama Dian Sastro). Sebetulnya saya tidak ingat benar yang mana duluan yang keluar, tapi sejak saat itu, saya resmi menjadi fans berat Sheila on 7. Selain lagu-lagunya, tentu saja saya mengidolakan anggota-anggota bandnya. Yang paling saya sukai, tentu saja Duta sang vokalis, yang buat saya paling ganteng to the max. Yang kedua tentu saja Eross si gitaris, pencipta lagu yang saya yakini merupakan otak dibalik kemampuan lagu-lagu Sheila on 7 menyejukkan hati saya. Kira-kira sejak kelas 4 SD sampai 1 SMP, saya mengumpulkan kliping artikel-artikel tentang Sheila on 7 di majalah mulai dari Gadis, Kawanku, Hai, Fantasi.. Seingat saya, saya punya empat bundel kliping yang sekarang tergeletak berdebu di loteng rumah. Begitulah, album ke dua Sheila on 7, Kisah Klasik Untuk Masa Depan juga meledak di pasaran dan membuat mereka tambah terkenal. Dan saya pun makin cinta. Di mobil setiap berangkat sekolah saya terus menerus memutar kaset Sheila on 7 sampai Ayah saya pun mulai hapal lagu-lagu mereka.

Kira-kira kegilaan ini berlangsung sampai saya kelas 2 SMP. Sampai album 07 Des saya masih menyukai Sheila on 7, tapi mulai jarang mengumpulkan kliping. Memudarnya kecintaan saya barangkali ada hubungannya juga dengan pergaulan saya waktu itu, dimana teman-teman saya menganggap Sheila on 7 kurang keren. Kalau tidak salah, di jaman itu Sheila on 7 pernah dilempari botol oleh penonton pensi. Anak-anak gaul jaman segitu lebih suka The Brandals, The Upstairs, dan band-band asik lainnya. Sheila on 7 mungkin terlalu mainstream. Lirik mereka tidak seperti puisi urban.  Dan sebagai remaja labil yang ingin terlihat keren dan beken, saya beralih menghafalkan lagu-lagu yang bisa membuat saya terlihat asik di pensi-pensi (berharap ada anak cowo mengajak saya kenalan), tapi tidak pernah ada satu band pun yang mampu membuat saya mengumpulkan kliping sampai berbundel-bundel sebagaimana Sheila on 7. Begitu pula tidak ada satu cowok pun yang mengajak saya kenalan di pensi.

Maka begitulah, setelah album 07 Des, album Sheila on 7 berikutnya, Pejantan Tangguh, luput dari perhatian saya. Seingat saya album ini juga tidak begitu meledak di pasaran, kalau tidak salah karena Anton sang drummer, keluar dari band, kemudian disusul Sakti yang tiba-tiba menemukan pencerahan dalam agamanya. Pada masa itu saya pun menemukan pencerahan-pencerahan baru. Saya mulai menganggap Sheila on 7 norak, dan menganggap masa lalu saya sangat memalukan, setara dengan kenorakkan anak SD yang tergila-gila pada Backstreet Boys, atau F4. Waktu berjalan, lalala. Masa SMA saya diceriakan oleh musik-musik melodic punk yang juga lagi in di antara teman-teman saya. Semua album Sheila on 7 berikutnya saya lewatkan begitu saja. Tahu-tahu saya sudah kuliah.

Tahun 2007 saya kuliah di Yogyakarta, kota asal Sheila on 7. Cinta saya kepada Sheila on 7 muncul lagi dengan cara yang cukup maksa. Sekitar pertengahan 2008, Ibu saya memberi saya sebuah mobil sederhana untuk berkendara di Jogja (soalnya saya tidak bisa naik motor.) Mobil saya tidak memiliki CD player. Hanya ada pemutar kaset. Menyetir tanpa mendengar lagu dapat membuat anda ngantuk dan mati bosan, khususnya jika sedang tersesat di jalanan yang banyak polisi tidurnya. Itu teori saya setelah 3 tahun terakhir ini menyetir. Saya pun membeli kaset. Pada tahun 2008 produksi kaset sudah sangat minim karena teknologi MP3 yang bisa unduh sana-sini dengan gratis. Tapi kaset Sheila on 7 masih ada, maka saya membelinya. Maka entah didorong oleh energi kosmos macam apa, sejak kaset itu diputar di pemutar kaset mobil saya, semua kenangan indah dan kisah cinta satu arah saya dengan Sheila on 7 muncul dan berbunga kembali (diceritakan dengan sedkit dramatisasi). Saya menyesal telah melewatkan album Pejantan Tangguh dan Menentukan Arah, yang ternyata memiliki progress bermusik yang sangat ciamik (saya agak sotoy, maaf bukan pengamat musik). Musik Sheila on 7 pada dua album terakhir ini tidak sesederhana album Sheila sebelumnya yang lagu-lagunya bisa dinyanyikan dengan mudah oleh pengamen jalanan asal genjreng. Apalagi lagu Pemuja Rahasia yang mendadak jadi lagu favorit saya. Tiap malam saya berdoa ada lelaki tampan yang menyanyikan lagu ini buat saya. Akhirnya, setiap kali melakukan perjalanan dengan mobil saya terus menerus mendengarkan kaset Sheila on 7. Saya kembali resmi menjadi Sheila Gank, mungkin karena lagu-lagu mereka kembali akrab di telinga saya. Saya kembali berteriak histeris kalau ada Sheila on 7 di TV. Pipi saya kembali memerah saat mendengar lagu-lagu romantis dari album Sheila on 7, sembari membayangkan kalau Duta yang sedang menyanyikan langsung lagunya ke telinga saya. Semudah itu, saya kembali mencintai Sheila on 7. Dan kali ini, saya hampir tidak peduli kalau orang-orang ngatain saya kampungan karena suka sama Sheila on 7, bukan Sigur Ros.

Tanggal 16 Mei 2011, saya dan beberapa teman saya datang ke ulang tahun Sheila on 7 yang ke 15 di Liquid cafe. Sebuah kafe yang biasanya dijadikan tempat clubbing mbak-mbak asik dan om-om girang. Saya tidak begitu suka tempat itu. Saya memakai baju terbaik saya, berharap siapa tahu Duta melihat saya dari panggung dan merasa menemukan cinta sejatinya. Sesampainya disana, di parkiran Liquid sudah ada dua buah bis besar dengan spanduk “Sheila Gank Bekasi”. Sinting. Di depan pintu masuk Liquid ada gerombolan orang-orang yang memakai kaos seragam Sheila on 7. Terdengar suara seseorang, barangkali satpam Liquid, menggunakan toa, berteriak, “Sheila Gank Jember, masuk ya.. Ayo jangan desek-desekan”. Dan begitu pula dengan Sheila Gank Solo, Sheila Gank Tanjung Priuk, Sheila Gank Cipanas, dsb. Gila, ternyata acara ini adalah acara gathering Sheila Gank dari seluruh penjuru dunia: Oh ya, ada Sheila Gank Malayasia juga soalnya! Tiba-tiba saya merasa gak ada apa-apanya. Gila, orang-orang ini datang naik bis dari berbagai daerah, untuk datang ke acara ulang tahun Sheila on 7 di Jogja.

Tapi memang, harus diakui, jika anda Sheila Gank, acara kemarin itu sangat worth it. Sheila menyanyikan lagu-lagu yang jarang mereka mainkan di konser biasa. Terus…Duta entah kenapa lagi ganteng bangeeet kemarin. Hati saya terus menerus berdegup setiap Duta melihat ke arah saya (saya yakin semua perempuan di sana merasa kalau Duta melihat ke arah mereka). Jika kebanyakan orang menonton konser sambil menyanyi dan berjingkrak-jingkrak, saya memilih untuk diam saja dan senyum-senyum jaim ngeliatin Duta. Saya ingin mendengar lagu-lagu mereka live. Kalau cuma  nyanyi bareng mah, di mobil juga bisa.

Seusai konser ini, saya jadi sedikit merenung-renungkan kisah cinta satu arah saya dengan Sheila on 7. Saya memikirkan kenapa sampai ada orang dari luar kota bahkan luar negri yang rela datang ke acara ulang tahun band favoritnya. Saya memikirkan makna die hard fans. Saya bukan die hard fans. Saya tidak akan datang, bahkan kalau hanya ke Solo, untuk nonton konser Sheila on 7. Saya kagum dengan Sheila Gank, dan bagaimana Sheila on 7 bisa tampak begitu dekat dengan Sheila Gank itu. Di tengah konser Duta sempat bertanya, semacam “mengabsen” Sheila Gank Cirebon, Sheila Gank Solo, Sheila Gank Jember, dsb. Mereka seperti, ah, ini akan terdengar klise, tapi mereka seperti keluarga. Tapi saya tidak mau jadi keluarganya Sheila, saya mau jadi pacarnya Duta!

Kembali ke die hard fans, apa ya penyebab orang bisa jadi fans fanatik? Saya pikir waktu saya masih ABG, kemungkinan untuk menjadi fanatik memang lebih tinggi. Apa benar itu yang sekarang orang sebut sebagai, remaja labil? Ya ampun, saya benar-benar tidak ingin mencari jawabannya saat ini.

Dina, seorang teman saya yang juga ikut nonton konser dan juga seorang blogger asik, menulis “laporannya” tentang konser ulang tahun Sheila on 7.  Sebagai orang yang bukan fans Sheila on 7, Dina menulis dengan cukup objektif dan menyebut cinta para Sheila Gank sebagai cinta tanpa syarat, walau belum bisa menjawab pertanyaan saya dari mana datangnya si cinta tanpa syarat ini. Barangkali Giddens, Horkheimer, Bourdieu atau McLuhan bisa menjawabnya. Tapi saya sedang tidak ingin peduli.

Ah, akhirnya, saya pikir-pikir sepertinya cinta saya pada Sheila on 7 masih bersyarat, atau bahkan masih terlalu banyak syarat. Saya bahkan pernah ikut-ikut menganggap Sheila on 7 norak walau kemudian kembali tak berdaya mendengar Duta menyanyikan, “mungkin kau takkan pernah tahu, betapa mudahnya kau untuk dicintai….” (men, manusia macam apa yang bisa menciptakan lirik se-hard core ini?) Sepanjang konser, saya terus menerus berpikir gimana caranya supaya bisa jadi pacarnya Duta.. Atau paling enggak bikin Duta agak naksir sama saya.. Ini adalah salah satu syarat utama untuk mencintai Sheila on 7. Harapan. Meski super semu.

Duh, semoga Duta tidak akan pernah baca posting-an ini. Malu.

Advertisements

4 Comments on “Sheila on 7”

  1. dina says:

    Men, aku gak nyesel lho nonton sheila.. Suer!

  2. renny Silfia says:

    Suatu saat kamu akan akrab dengan duta, tapi sebagai adik dan sahabat :)

  3. njul says:

    wadah salut salut…. tulisan ini ,,, gw bgt lah pokoknya !!!! hahaha

  4. adisantdolon says:

    saya seorang Sheila Gank, anak Temanggung..
    tulisan anda membuat aku terharu.,
    mungkin saya adalah seorang die hard fans…
    semua albumnya Alhamdulillah terbeli sampai “Berlayar”……

    salutttt
    Hariku bersamanya(sheila on 7).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s