Yang terpenting adalah merasa bahagia

“Let everyone know, I lived a very happy live.”

Kutipan tersebut adalah kata terakhir Kemal untuk menutup novel Museum of Innocence. Fusun akhirnya mati. Insting saya memang mengatakan bahwa mobil Chevrolet merah itu akan terguling ketika Fusun dalam saat-saat terakhir hidupnya, akhirnya menjadi subjek yang berbicara. Selama lebih dari 10 tahun kisah penantian cinta mereka, Kemal-lah yang selalu menjadi subjek utama yang menceritakan betapa ia begitu mencintai Fusun sampai ke sumsum tulang. Pada 80% isi novel, kita akan mengharu biru dan bersimpati pada Kemal yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi cintanya pada Fusun si perempuan cantik yang mata, hidung, bibir, dan lekuk tubuhnya begitu dipuja Kemal dengan sangat obsesif.

Namun, mengapa Fusun akhirnya memilih untuk membanting setirnya ke pohon di tepi jalan dan mencelakai dirinya, ketika akhirnya ia dapat bersatu dengan Kemal dan semua orang telah merestui mereka untuk menikah setelah 8 tahun penantian panjang? Saya baru mulai menyadari bahwa peran Fusun dalam kisah ini, terus menerus sebagai objek. Saya pikir Fusun lelah menjadi wanita cantik yang hanya cantik. Dicintai banyak orang bukanlah hal yang istimewa bagi gadis secantik Fusun. Fusun memiliki obsesi untuk menjadi seorang bintang film, obsesi yang menurutnya salah satu cara untuk mengekspresikan eksistensi dirinya. Keinginan Fusun ini dianggap Kemal sebagai sesuatu yang berbahaya. Bagaimana jika Fusun main film dan jatuh cinta pada lawan mainnya? Kemal selain obsesif tentu saja juga posesif. Selama 8 tahun penantian Kemal, ia mendekati Fusun dengan berjanji akan mewujudkan mimpinya untuk menjadi bintang film terkenal. Namun janji Kemal justru hanyalah kedok untuk tetap dapat dekat dengan Fusun dan “melindungi”nya dari industri film yang “kotor”. Suara Fusun tidak pernah terdengar, cinta Kemal yang murni hanyalah obsesi yang besar kepala. Ia pikir Fusun akan bahagia bila bisa bersatu dengannya, laki-laki tampan yang juga kaya dari keluarga ternama di Turki. Ia pikir hanya itu yang dibutuhkan Fusun, namun ternyata “cinta” bukanlah segalanya.

**

Dalam perjalanan membaca novel ini, saya berulang kali mencoba mendefinisikan makna cinta antara Kemal dan Fusun.

Pada masa penantiannya selama 8 tahun, dimana ia secara rutin mendatangi rumah keluarga Keskins untuk makan malam, hanya untuk dapat melihat Fusun, Kemal mengatakan bahwa “Happiness means being close to the one you love.” Hanya dengan melihat dan berdekatan dengan Fusun, tanpa harus memilikinya, Kemal sudah merasakan kebahagiaan. Ia sakit baik fisik maupun jiwa jika tidak bertemu dengan Fusun. Satu-satunya cara untuk mengobatinya ialah dengan mengumpulkan, “mencuri” barang-barang yang berhubungan dengan Fusun. Mulai dari kancing baju, pegangan toilet, puntung rokok, cangkir, atau apa saja yang disentuh berkali-kali oleh Fusun.

Kemal mengatakan bahwa barangkali aneh bagi para pembaca untuk memahami bagaimana mungkin seseorang rela kehilangan hidupnya dan menanti selama bertahun-tahun melakukan rutinitas yang sama demi orang yang dicintainya. Disini kita perlu memahami makna “Waktu” yang berbeda dengan konvensi waktu yang biasa kita jalani dalam rutinitas. Pamuk menggunakan konsep waktu Aristoteles untuk membedakan “waktu” sebagai penanda untuk mempermudah hubungan sosial (sebagaimana jam dan kalender) dengan “Waktu” sebagai konsep garis yang menghubungkan kejadian “present” (sekarang) yang terbagi dalam atom-atom. Bagi saya, konsep ini dapat disandingkan juga dengan konsep relativitas Einstein. Delapan tahun terlewati oleh Kemal tanpa perasaan sia-sia, sebab ia selalu berdekatan dengan Fusun meski dalam situasi yang stagnan. Pada bab-bab ini, saya menyimpulkan bahwa cinta Kemal kepada Fusun adalah contoh nyata dari cinta platonik yang mencintai dengan pasif.

**

In the country where men and women can’t be together socially, where they can’t see each other or even have a conversation, there’s no such thing as love.”.. “By any chance do you know why? I’ll tell you: because the moment men see a woman showing some interest, they don’t even bother themselves with whether she’s good or wicked, beautiful or ugly– they just pounce her like a starving animal. This simply their conditioning. And then they think they’re in love. Can there be such a thing as love in a place like this?”

Nasihat menohok dari ibu Kemal kepada anaknya bagi saya cukup menjelaskan pula bentuk berbeda yang tampak lebih sinis tentang makna cinta Kemal pada Fusun. Apakah cinta Kemal hanyalah sebuah obsesi kebinatangan lelaki karena Fusun adalah perempuan cantik yang akan membuat semua mata lelaki mengikuti kemana saja Fusun melangkah? Entahlah, saya tidak ingin menganggapnya demikian sebab saya sempat jatuh cinta pada kegigihan Kemal demi mendapatkan Fusun. Bagi saya obsesi Kemal bukanlah sekedar obsesi seks, tapi obsesi cinta, yang memang akan sulit didefinisikan. Cinta memang absurd, dia bisa membuat seseorang menunggu 8 tahun, mengoleksi benda-benda ajaib kekasihnya hanya demi mencium bau dan merasakan bekas sentuhan kekasihnya pada benda itu. Akhirnya saya jatuh ke lubang yang sama, bertanya-tanya, apakah ini cinta? Atau memang hanya sebuah penyakit psikologis yang tak ada obatnya?

Toh, pada akhirnya, setelah berlama-lama berkutat memikirkan apakah obsesi Kemal pada Fusun adalah cinta, saya akhirnya lega, membaca kalimat terakhir dalam novel ini, “Let everyone know, I lived a very happy live.”

Karena, terlepas dari segala pendapat dan teori orang, apakah hal yang lebih penting, selain merasa bahagia?

Saya harus berterimakasih pada Orhan Pamuk karena memberikan saya pengalaman membaca yang penuh sensasi, membuat dada saya berdebar tiap membalik halaman dan juga sekaligus memberi saya pengetahuan dan kebijaksanaan baru tentang hidup, cinta dan kebahagiaan.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s