Perasaan Melankoli dan Sentimental yang Belum Terselesaikan

Pernahkah anda begitu mencintai sebuah buku, sehingga anda tidak ingin menyelesaikan buku itu sampai akhir karena takut entah karena nanti tidak lagi ada yang bisa dibaca atau karena akhir yang akan mengecewakan?

Saya sedang mengalaminya. Saat ini saya sedang membaca Museum Of Innocence karya Orhan Pamuk. Buku ini bercerita tentang Kemal, seorang laki-laki kaya, tampan dan pandai (sebut saja semua kriteria keberuntungan hidup) namun memiliki kisah cinta yang–sejauh saya baca sampai halaman 307 dari 531 halaman — cukup tragis. Awalnya kehidupan cinta Kemal sangatlah sempurna, ia memiliki kekasih yang cantik, kaya dan pintar bernama Sibel yang juga sangat mencintainya. Semuanya terlihat baik-baik saja sampai Kemal bertemu Fusun, seorang gadis miskin penjaga toko tas yang cantiknya minta ampun. Kemal pun segera jatuh cinta pada Fusun yang juga merupakan kerabat jauh keluarganya. Namun, mencintai Fusun bukanlah sesuatu yang benar secara politis. Fusun, meskipun cantik, tidak berasal dari keluarga kaya atau terpandang, usianya pun terpaut 12 tahun dari Kemal. Tentu saja pertimbangan ini membuat dilema dalam diri Kemal semakin membingungkan. Di satu sisi, secara logis tentu ia akan memilih Sibel yang cantik, pintar dan baik hatinya pula. Namun di sisi lain, Fusun sebagai selingkuhannya telah memberinya gairah kehidupan.

Kemal akhirnya bertunangan dengan Sibel, meskipun ia berkata pada Fusun bahwa keadaan akan tetap seperti dulu. Namun Fusun tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Kemal. Tak disangka, kepergian Fusun membuat Kemal menyadari betapa ia sangat mencintai dan membutuhkan kehadiran Fusun di sampingnya. Ketiadaan Fusun di sampingnya membuat Kemal sakit, baik secara psikis maupun secara fisik. Rasa cintanya pada Fusun telah membuatnya menjadi seorang kolektor obsesif. Ia mulai mengumpulkan benda-benda kenangan yang berhubungan dengan Fusun sebagai obat patah hatinya. Benda-benda itu beragam mulai dari puntung rokok yang pernah dihisap Fusun, gagang toilet di bekas apartemen Fusun, gelas yang pernah dipakai Fusun…dan benda-benda lain yang ia kumpulkan menjadi sebuah museum yang memetakan kenangan dan perasaan hatinya.

Dari benda-benda koleksi Kemal, kita juga bisa melihat bagaimana modernitas diterima di Turki pada tahun 70-an serta melihat dari dekat bagaimana kehidupan kaum borjuis yang mengalami tarik menarik antara kebudayaan Barat dan Timur, bagaimana masyarakat mempertentangkan agama dengan keperawanan dan minuman keras.

Tentu saja ini bukan kisah cinta biasa. Saya terlena membaca bagaimana Pamuk menceritakan kisah patah hati Kemal dengan cara yang akhirnya juga turut menghancurkan hati saya. Saya turut menangis bersama Kemal. Saya merasakan hatinya yang hancur, dan akhirnya menerima ketika ia tidak bisa melanjutkan pertunangannya dengan Sibel sebab hati dan pikirannya telah ia dedikasikan pada kenangan akan Fusun. Labour of Memory of Love. It’s soo beyond love.

Namun, hati saya tercekat dan agak deg-degan, ketika di sekitar halaman 290-an Kemal tiba-tiba memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Fusun lagi. Fusun ternyata sudah menikah dengan seorang sutradara film idealis yang miskin. Begitu pula dengan Kemal yang awalnya sedih, namun juga sesungguhnya bahagia sebab bisa bertemu lagi dengan Fusun. Kemal pun akhirnya menawarkan diri untuk menjadi produser untuk film suami Fusun, yang nanti juga akan dibintangi oleh Fusun, agar ia tetap bisa dekat dengan Fusun. Saya tidak tahu apakah ini sebuah konsep “cinta tidak harus memiliki”? Agak naif saya pikir, namun judul salah satu bab buku ini bisa menjelaskan perasaan Kemal: Happiness Means Being Close to the One You Love, That’s All.

Demikiankah? Saya benar-benar khawatir untuk melanjutkan akhir buku ini. Apakah Kemal akan kembali dengan Fusun? Entahlah. Buku ini benar-benar bikin perasaan galau.

P.S Ternyata bukan cuma saya yang jatuh cinta pada buku ini. Saya bersama banyak orang. Rasa cinta dan obsesi pada pembaca buku ini ternyata sampai membuat adanya tur keliling tempat-tempat yang ada dalam buku ini, misalnya Merhamet Apartment tempat Fusun dan Kemal berselingkuh, apartemen orang tua Fusun, toko tempat Fusun bekerja, dan lain-lain. Selain itu, Orhan Pamuk akhirnya membuat Museum of Innocence “beneran” yang berisikan replika benda-benda koleksi Kemal. Artikel lebih lengkap tentang museum ini bisa dibaca di sini. Artikelnya sangat bagus dan semakin mengagumi kejeniusan Pamuk. Semoga saya tidak berlebihan.

Advertisements

2 Comments on “Perasaan Melankoli dan Sentimental yang Belum Terselesaikan”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s