menulis tanpa pretensi

Agung Kurniawan, seorang seniman, pernah bercerita pada saya tentang salah satu proses berkaryanya. Ia menyebutnya “automatic drawing”. Metodenya: menggunakan kertas dan sebuah pena, mulailah menggambar apa saja tanpa pretensi, tanpa agenda. Saya membayangkan ini seperti sesuatu yang saya lakukan saat sedang bosan di kelas waktu SMA dan mulai menggambari pinggiran buku catatan saya. Biasanya saya hanya akan menggambar bunga, hati, orang dengan proporsi tubuh aneh, dan kadang lirik-lirik lagu romantis revolusioner. Berbeda dengan saya, dengan moda “automatic drawing”nya– berhubung tentu saja skill gambarnya lebih jago daripada mahasiswi filsafat seperti saya– ia dapat menggambar banyak hal, mulai dari naga, manusia berkepala komputer, fedofilia, sebuah ruangan… Banyak deh. Tapi yang jelas saat ini, Agung bukanlah fokus pada tulisan saya. Saat ini saya ingin mencoba menerapkan automatic drawing menjadi automatic writing. Hal ini disebabkan karena saya sedang agak mati gaya dalam mengerjakan suatu tulisan yang baru jadi 462 kata dari 1000 kata yang harus saya selesaikan. Maka saya ingin sedikit “memanaskan” mesin otak saya agar bisa sedikit membantu sang empunya ini dalam menjalankan tugasnya.

Jadi, bagi para pembaca (ah ya, jika ada yang membacanya tentu saja), saya peringatkan bahwa tulisan ini ialah tanpa pretensi apa-apa. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada tulisan ini. Katakanlah saya sedang ngalor ngidul, sebab bagi saya ini lebih mencerdaskan (bagi saya lho) daripada mengganti-ganti status di facebook di kala bosan. BIsa juga ini dikatakan sebagai monolog, sebab di yahoo messenger sepertinya tidak ada yang berniat enyapa saya. Atau saya memang tidak ada bahan obrolan penting dengan teman di dunia maya. Maka disinilah saya, dengan musik yang saya serahkan itunes DJ (saat ini itunes sedang memutarkan saya Belle and Sebastian, Piazza, New York Catcher).

Minggu ini saya sedang ujian akhir semester. Sejak dua hari kemarin saya tidak ada jadwal ujian. Sebentar, itunes DJ memutar lagu yang terlalu keras. Saya ganti dulu. Baiklah, she & him. Lanjut. Jadi dari kemarin dan hari ini, saya mencoba membaca beberapa literatur yang berhubungan dengan artikel 1000 kata yang harus saya tulis. Buku-buku itu sebenarnya sudah saya baca sebelumnya. Saya membacanya kembali. Buku-buku itu banyak membantu saya memberi bahan untuk tulisan. Tapi saya sedang agak gamang. Jadi begini, saya ini penulis amatir. Tidak terlalu pintar. Masalahnya, saya agak khawatir kalau tulisan yang saya buat ini tidak mengandung pemikiran. Maksudnya, cuma nyomot sana-sini gitu. Kutip sana-sini. Memang bakal jadi sih tulisannya. Tapi kok kayaknya kurang perenungan ya. Nah, untuk menuju ke tahap itu, tulisan yang bisa memberi suatu pemikiran baru, saat ini saya sedang memikirkan bagaimana caranya. Saya coba merenung-renungkan permasalahan dalam tulisan saya, tentang fotografi studio di era kolonial. Tapi seringkali saat saya sedang merenung saya malah bengong. Sementara kalau nggak merenung, saya merasa tulisan saya kering sekali, ih…

Saat ini televisi menayangkan America’s Next Top Model. Saya hanya melihatnya sesekali, maklum meja kerja saya pun membelakangi arah televisi. Bosan juga, ternyata acara TV kabel banyak yang diulang-ulang melulu. Tapi Tyra Banks cantik. Dan setidaknya dari acara itu saya tahu bahwa  menjadi model tidaklah segampang itu. Apalagi model Amerika. Habis, model di Indonesia memang modalnya cuma cantik dan senyum manis saja. Kalau di acara ini, saya lihat orang yang tidak cantik-cantik amat bisa terlihat sangat berbeda saat difoto, dan buat saya dia melakukan sebuah usaha, bukan cuma taken for granted sama kecantikannya. Wah tapi enak ya jadi orang cantik. Saya seringkali iri sama perempuan cantik. Saya suka memerhatikan perempuan cantik di jalan atau “mengintai” foto-foto mereka di facebook. Tujuannya, selain melihat wajah-wajah mereka, saya juga setengah berharap kalau mereka bodoh dan hobinya dugem. Nah, kalau ternyata orangnya cantik dan pintar, wah, nyerah deh. Langsung minder. Tadinya saya pikir cuma saya yang suka melakukan kegiatan super gak mutu ini, eh tapi ternyata beberapa teman saya juga ada yang suka melakukan ini. Haha. Ini perempuan aja apa laki-laki juga ya?

Aduh, besok saya ada dua ujian. Filsafat Hukum dan Logika II. Saya gak bakal belajar. Habis, FIlsafat Hukum ujiannya open book (tapi saya gak punya book-nya) dan Logika II terlalu sulit. Wah, saya kok jadi mudah menyerah ya? Sepertinya nilai saya bakal jelek semester ini. Saya mulai bosan kuliah, sama sekali tidak menantang. Lagipula kemarin kuliah saya ini banyak disambi sama KKN. Jadi sering gak masuk dan akhirnya gak tahu apa-apa semester ini. Males banget kan? Saya mau ulang aja semuanya semester depan. Saya mulai gak peduli deh mau kelar kapan. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Saya pikir kehidupan saya tidak boleh dan tidak bisa diatur oleh beberapa standar yang dibuat beberapa orang yang merasa dirinya lebih pintar. Aduh, kok terdengar sok idealis gini ya? Tapi bukankah setiap manusia itu memang harus idealis? Sebetulnya saya lebih pilih jadi oportunis sih. Banyak enaknya. Tapi pasti banyak yang benci. Ih, hipokrit! Suka ngurusin urusan orang aja.

Hmm mata saya yang pegal tiba-tiba jatuh ke sekantung roti yang saya beli semalam. Roti itu saya beli dari seorang ibu-ibu tua yang membawa roti-rotinya di dalam keranjang plastik dan digendong dengan selendang. Saya sering lihat ibu tua itu. Waktu sedang makan di mozes gatotkaca, makan di pempek gejayan, dan kemarin makan di kolombo. Jauh juga ibu itu jalan kaki. Makanya saya selalu beli. Padahal rasa rotinya sama sekali gak enak (maaf ya, bu). Harga 5000 memang terlalu mahal, tapi kasian banget Ibu itu.

Eh, sepertinya saya mulai bosan dengan automatic writing ini. Bukan tidak tahu mau nulis apa, tapi tangan ini mulai pegal juga. saya literally menulis tanpa henti lho ini. Oh ya, saya sudah lama gak update blog, makanya ini sekalian, biar blog saya ada isinya. Habis suka iri sama orang-orang yang rajin mengupdate blognya. Oh ya, ini juga update blog pertama saya di tahun 2011. Saya senang dengan perayaan tahun abru kemarin, sangat sederhana. Cuma di rumah tante saya yang paling kaya, makan-makan barbekyu dan di malam pergantian tahun baru, nebeng ngeliat kembang api yang heboh banget dari pesta di mall. Setelah itu, saya melakukan kegiatan seperti biasa lagi, baca buku di kamar sepupu saya yang asik twitteran. Ternyata pesta gak pesta tahun baru sama saja. Oh ya, saya sedang baca buku Museum of Innocence nya Orhan Pamuk, tapi abru samapi halaman 113 dari 500-an halaman. Kayaknay kelar bacanya lama deh, habis kalau lagi ada kerjaan lain rasanya bersalah kalau membaca buku lain.

Nah, saya juga mulai merasa bersalah menulis-nulis gak penting ini. Sepertinya harus kembali ke kerjaan yang sebenarnya. Sudah dulu ah.

 

 

Advertisements

7 Comments on “menulis tanpa pretensi”

  1. tentu saja ada pembacanya git:D
    menarik juga istilahmu, automatic writing. kukira aku kerap melakukannya, setidaknya beberapa kali, seperti ketika pengen update blog yang ga apdet itu, tiba2 nemu tema. piye jal?

    • brigitta isabella says:

      aku pikir automatic writing yang aku lakukan apda tulisan ini, setelah aku membacanya kembali, terlihat seperti sebuah kolom curhat atau diary. nah, aku juga melakukan suatu metode automatic writing yang serupa, jadi aku punya satu tema, dan aku menulis yang setahuku saja, benar2 apa yang meloncat2 dari pikiranku. hasilnya, tulisan itu akan jadi seperti coret2an yang berantakan, tapi jika aku baca kembali,ternyata ia bisa menjadi dasar untuk menulis ulang dan membuatnya menjadi lebih sistematis.

  2. renny Silfia says:

    selalu menyenangkan membaca tulisanmu. enak dibaca.
    hey, aku rindu kamu de’

  3. Vdetta says:

    misio, git..
    meloncat2 kalo sistematis juga nggak papa, ngasal logis nggak curang!

  4. RoNa says:

    Go Gita Go! ;)

  5. adit says:

    bisa sebut menulis spontan kali ya. dan tulisan anda di fur tentang fotogrfi kolonial masih saya anggap masterpiece. ;)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s