Galeri di Mal #2


Waktu saya sedang berjalan-jalan di Senayan City, tak sengaja saya melewati “kios” Linda Gallery di sana. Kala itu Linda Gallery sedang memamerkan karya-karya seniman kontemporer dari Cina seperti Jiang Shuo, Huang Gang, dan….beberapa nama serupa lainnya : ) Saya pun masuk dan melihat-lihat.

Saya tidak mengerti wacana seni rupa kontemporer Cina. Saya juga tidak ingin membicarakan bagus/tidknya karya di sana. Yang menarik bagi saya, ialah ketika mengamati perilaku beberapa orang yang masuk ke dalam galeri dan berfoto-foto dengan karya patung Huang Gang yang memang bentuknya cukup menarik perhatian. Salah satunya adalah patung ikon Mao Tze Tung pemimpin besar di Cina seukuran dua meter berwarna merah dan putih. Saya mendengar celetukan seorang om-om, sehabis memotret anaknya di depan patung tersebut  berkata, “Wah, foto ama patung Mao kayak lagi jalan-jalan di Cina aja nih.”

Saya jadi ingat, perdebatan dalam diskusi Bienalle 2009 yang mengatakan bahwa seni di ruang publik dalam perhelatan Bienalle hanya menjadi background foto bagi orang-orang yang berkunjung atau sekedar melintas di kawasan Malioboro. Ada yang menganggap bahwa ini adalah bentuk demokratisasi seni, tapi ada juga yang menganggap bahwa hal tersebut telah menyimpang dari tujuan Bienalle, karena karya seninya tidak mampu menyampaikan pesan apa-apa, selain menjadi background foto.

Hal yang sama saya pikir ternyata juga terjadi bahkan ketika kesenian diletakan dalam galeri yang dapat diakses oleh publik, di mal, di mana sebetulnya publik sudah mengalami “penyaringan kelas” (tentu saja asumsi bahwa orankaya berarti lebih cerdas sangatlah brutal, namun saya memertimbangkan pendidikan mereka, setidaknya). Dari kelas sosial manapun, orang-orang yang “awam” terhadap dunia seni rupa barangkali memang hanya akan melihat karya seni sebagai anjungan lain yang menarik untuk menjadi bahan berfoto ria, sebab toh di galeri tersebut tidak ada teks yang mendampingi pameran tersebut, bahkan untuk pengetahuan sekilas saja. Paling-paling, di sudut galeri ada sebuah katalog yang mudah sekali untuk menjadi tidak terlihat, apalagi dibaca.

Yang mendampingi karya-karya seni tersebut, hanyalah sebuah kertas putih kecil yang bertuliskan angka dengan jumlah nol yang banyak sekali. Membuat saya tersedak saat sedang menikmati es krim murah McDonalds. Krik.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s