Teknologi dan Ibu Saya

Ibu saya yang memaksa minta di foto dengan kamera barunya di depan karya teralis-bombastis Agung Kurniawan di Kedai Kebun Forum, Februari 2010. Malu saya. Hehe.

Ibu saya adalah orang yang gap-tek alias gagap teknologi. Tapi setelah saya pikir-pikir, dia lebih sering berganti HP daripada saya. Jika dihitung-hitung, Ibu saya telah berganti HP sebanyak  lima kali. Sementara saya baru tiga kali. HP pertama Ibu adalah HP Nokia 3500 (nomor tipe ini kalau saya tidak salah kira) atau biasa disebut Nokia pisang milik sejuta umat. HP ini ini memang sangat terkenal pada jamannya, mungkin sekitar tahun 1998 atau 1999. Saya masih ingat, waktu itu teknologi SMS belumlah sepopuler sekarang, pulsa HP pun masih sangat mahal. Kartu perdana Ibu saya adalah kartu Mentari yang masih dia pakai sampai sekarang.

HP kedua ibu saya adalah Nokia 8210. HP ini bentuknya lebih kecil, pas sekali dalam satu genggaman tangan. Saya juga ingat casingnya yang berwarna merah. Kala itu teknologi SMS mulai marak dan saya sering sekali meminjam HP Ibu saya untuk sms-an sama cowok-cowok. Maklum, dulu saya belum juga dibelikan HP. Oh ya, pada masa itu juga sedang nge-trend miscall-miscall-an. Jadi saya juga sering sembunyi-sembunyi bermain “3 detik-an” dengan teman saya, semacam mengobrol dengan Walkie Talkie, karena jika menelpon hanya 3 detik, pulsa kita tidak akan berkurang. Kala itu, seingat saya Ibu saya belum lihai benar memakai teknologi SMS, jari-jarinya sangat kaku dan lamban untuk memencet tuts-tuts HP. Kalau mengirim SMS, dia selalu menggunakan huruf besar sebab tidak tahu cara mengubah huruf besar menjadi huruf kecil di HP.

Sekitar tahun 2005, atau ketika saya SMA, Ibu saya memakai HP Nokia 6600. HP ini juga bisa dibilang sebagai HP sejuta umat pada jamannya. Ini adalah HP Nokia pertama yang memiliki fitur kamera dan juga dilengkapi pemutar MP3, perekam suara, video dan juga bisa memuat aplikasi game-game menarik. Pokoknya HP ini keren sekali. Tapi, seperti sudah saya ceritakan betapa gapteknya Ibu saya, dia masih kesulitan menggunakan fitur kamera. Pada dasarnya Ibu saya senang sekali memotret, tapi dia masih gelagapan dengan fitur-fitur di HP-nya yang keren. Hasil fotonya seringkali buram, bahkan dengan kamera se-handy itu. Kadang-kadang karena kesleboran Ibu saya, kamera HP bisa kepencet-pencet di dalam tasnya dan walhasil ada banyak sekali gambar-gambar hitam di folder Images. Ibu saya, walaupun memiliki HP yang bisa dibilang cukup canggih pada masanya, hanya menggunakan HP tersebut untuk SMS dan telepon saja. Akhirnya sekali lagi, sayalah orang yang selalu memanfaatkan fitur-fitur di HP Ibu saya. Walaupun agak malu, harus saya akui bahwa saya juga salah satu dari remaja yang suka berpose narsis di depan kamera HP dengan angle dari atas dan senyum tiga jari. Terima kasih kepada HP Ibu saya.

Waktu saya kuliah di Jogja, mungkin tahun 2008, Ibu saya kecopetan HP di sebuah mal. Akhirnya, Tante saya memberi Ibu saya HP bekas yang masih cukup bagus juga, Nokia tipe 6100. Kecil, ringan dan memiliki fitur kamera yang belum begitu tinggi resolusinya. Mencoba beradaptasi dengan HP baru, Ibu saya menyerah dengan fitur-fitur yang ada dan hanya menggunakannya untuk telepon dan SMS. Oh ya, saat itu Ibu saya sudah cukup lincah ber-SMS ria. Ibu lantas membeli HP tambahan dengan simcard ESIA yang dibelinya dengan harga promo super murah. Katanya, “Biar lebih hemat pulsa.” Sejak saat itu, dia memiliki dua HP dan selalu gelagapan jika salah satunya berbunyi.

Di awal tahun 2010, Ibu saya mengganti HPnya dan membeli HP cina merek K-Touch, HP yang bentuknya seperti Blackberry. Walaupun Ibu saya gaptek, pengaruh media seperti televisi atau Koran ternyata mampu memengaruhinya untuk membeli HP blackberry-blackberry-an. “Untuk apa?” tanya saya. Ternyata Ibu saya ingin main facebook. Tentu saja saya hanya geleng-geleng kepala. HP-HP Ibu yang lama tidak pernah ia jual. Semua HP itu ia simpan dalam sebuah kotak. Ibu saya juga tidak mengijinkan saya atau Ayah saya menjual HP yang sudah tidak kami pakai lagi jika kami menggantinya dengan HP baru. Alasannya, “Mungkin suatu hari nanti HP ini jadi benda langka dan mahal harganya.” Oke deh.

Oh ya, Ibu saya juga baru membeli sebuah netbook NEC berwarna biru yang cukup ringan. Saat ini hobinya adalah main internet gratis dengan wi-fi di mal. Ralat: Main facebook gratis dengan wi-fi di mal. Untuk melengkapi perangkat teknologinya, Ibu saya juga membeli sebuah kamera pocket digital merek Canon. Alasan Ibu saya membelinya adalah karena Ibu saya iri melihat teman-temannya potret sana-sini saat reuni SMA. Dia ingin berfoto-foto ria lalu meng-uploadnya di facebook, persis seperti perilaku-perilaku remaja jaman sekrang. Sejak membeli kamera digital, Ibu saya selalu berfoto di berbagai kesempatan. Bahkan kesempatan yang tidak penting, macam pergi ke mal atau makan di restoran. Saya sering malu dengan hobi barunya yang menurut saya norak.

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, Ibu saya adalah orang yang gaptek. Walaupun ia sering berganti-ganti HP dengan alasan ingin mengikuti perkembangan jaman, membeli kamera dan laptop baru, ternyata sebetulnya ia benar-benar tidak menguasai teknologi tersebut. Contohnya adalah, setiap saya pulang ke Jakarta, Ibu saya selalu minta tolong diajarkan untuk “main internet”. Yang ada di pikiran Ibu saya, internet berarti cuma facebook dan e-mail. Tentang e-mail ini, saya punya sebuah cerita lucu. Saat saya di Jogja, Ibu saya menelpon, mengeluh bahwa ia tidak bisa membuka e-mailnya. Katanya, “Jangan-jangan di-hack, Git.” Saya pikir, ah mana mungkin, siapa pula Ibu saya sampai seseorang niat nge-hack e-mailnya. Di kemudian hari, barulah saya tahu bahwa Ibu tidak tahu bahwa jika mau membuka email, kita harus masuk ke halaman Yahoo!, lalu baru log in. Ibu pikir, cara membuka e-mail ialah dengan menulis alamat e-mail kita di address tab. Sampe lebaran monyet juga kagak bakal kebuka deh tu e-mail! Ah, saya gemaaaaasss sekali sama Ibu saya. Walaupun, harus diakui keinginannya untuk menggunakan internet bukanlah sekedar untuk ikut-ikutan. Ibu saya adalah seorang sales asuransi. Menurutnya, jika ia bisa terkoneksi dengan teman-teman lamanya di Facebook, mungkin dia bisa mem”prospek” mereka. Ah kasihan Ibu saya, suatu kali saya mendengar dia sedang bicara di telepon, mengeluh bahwa di usianya sekarang (56 tahun), dia masih harus bersaing dengan anak-anak muda yang bisa memanfaatkan Facebook, Twitter, dll untuk mencari klien.

Saat ini saya sedang memandangi Ibu saya yang tertidur pulas. Dia baru saja membelikan saya dua pasang sepatu baru. Ya ampun, betapa tidak tahu dirinya saya. Saya jadi ingat bagaimana tadi saya membentak Ibu saya gara-gara dia sangat lemot saat saya ajari membuka e-mail. Saya juga memarahinya waktu Ibu saya minta diajarin memakai flash disk. Ya, dia baru membeli flash disk tapi tidak tahu cara menggunakannya. Saya juga geregetan waktu dia dengan polosnya bertanya pada saya bagaimana cara “memasukkan” lagu ke dalam netbooknya, atau betapa girangnya dia saat saya mempraktikan penggunaan Bluetooth dengan mengirim lagu dari laptop saya ke HP-nya. Satu lagi, dia juga tidak tahu cara menransfer  foto dari kamera digital ke netbooknya. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika memori kameranya sudah penuh, barangkali membeli kamera baru? Entahlah, sering habis kesabaran saya ketika berhadapan dengan sosok Ibu saya yang gaptek.

Ah, Ibu saya hanya seseorang yang sedang berlari dengan napas terengah-engah, mengejar jaman yang tidak akan memberi tempat bagi orang yang tidak mampu beradaptasi. Dan saya hanyalah seorang anak yang telah melupakan jasa Ibunya, yang dulu mengajarinya membaca dengan tekun, menyuapinya makan dengan sabar, dan selalu setia memeluknya sebelum tidur. Maaf ya Mi….. :’)

Advertisements

6 Comments on “Teknologi dan Ibu Saya”

  1. ind says:

    bukan nya mau nyama-nyamain, tapi beneran saya juga sering seperti itu kepada Alm. Ibu saya. Padahal hal seperti itu wajar ya dan kenapa sebagai anak ga bisa lebih sabar ya..

    Thnks for remembering..:)

  2. terlalurisky says:

    yeah, hampir semua ibu-ibu seperti ini yah. Ibu saya juga.. Hape jauh lebih keren dari saya, tapi untuk mencari nomor telpon (baca: phonebook) pun masih butuh waktu lebih dari lima menit..

  3. Renny says:

    Hi Tante….

  4. icha says:

    sumpah, kelakuan nyokap lo sama banget sama nyokap gw.
    cuma bedanya nyokap gw belom sampe merambah netbook saking masih gapteknya.
    hahahaha

  5. sunu says:

    knapa aku jadi terharu.. beberapa taun ga ketemu ibu.. hicks.. :(


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s