Aura Sepasang Sepatu Merah

Saya masih ingat, suatu kali di usia saya yang ke 17 (sekitar 4 tahun lalu), mata saya terhenti pada sepasang sepatu merah yang terpampang pada sebuah halaman di majalah Bazaar milik tante saya. Sepatu itu begitu sederhana, namun sekaligus sangat indah. Dari fotonya, saya mengira-ngira bahan sepatu itu terbuat dari kanvas. Ujung sepatu itu berbentuk bulat dengan pita kecil berwarna merah senada. Manis sekali. Dalam ranah fashion, jenis sepatu yang menjadi impian saya itu biasa disebut ballet shoes atau flat shoes. Saya langsung membayangkan diri saya, memakai setelan hitam-hitam dan bersepatu merah. Saya juga membayangkan saat sedang berjalan dan orang-orang menatap iri pada sepatu saya dan berbisik, “Look, the girl with the red shoes!” Oh, pasti saya keren sekali! Gambar sepatu merah dari majalah itu langsung saya gunting dan saya tempelkan di kaca kamar saya. Setiap kali memacak diri, hasrat saya selalu menggebu-gebu agar di kemudian hari saya dapat memiliki sepatu seindah itu.

Pada tahun-tahun berikutnya, pencarian saya terhadap sepatu merah ini selalu penuh kekecewaan. Entah kenapa, saya tidak pernah berhasil menemukan sepatu yang persis dengan yang ada dalam impian saya. Entah warnanya yang terlalu menor; tidak pernah merah semerah apa yang saya lihat di majalah kala itu, atau  bentuk bulatnya yang kaku seperti sepatu-sepatu murah di Blok M; membuat sela-sela jari kaki saya terlihat, atau—yang paling sering– tambahan pernak-pernik gak penting yang membuat sepatu idaman saya tampak norak. Saya tidak tahu, apakah saya yang terlalu kuper di dunia belanja atau sepatu itu memang jarang yang jual. Saya bahkan belum pernah melihat satu orang pun menggunakan sepatu seperti yang ada dalam bayangan saya. Ketika suatu kali saya berhasil menemukan sepatu merah yang agak sesuai dengan impian saya di Zara, saya cuma bisa mengelus dada karena harganya mencapai Rp. 699.000. FYI, sepatu di Zara terkenal tidak enak dipakai dan tidak tahan lama (ingat itu!). Tentu saja, saya tidak berniat menggunakan tabungan saya untuk membeli sepatu mahal yang tidak terlalu “sreg” di hati saya.

Akhirnya, di usia saya yang ke 21, atau bisa dibilang setelah kurang lebih 4-5 tahun pencarian saya, saya membeli sebuah sepatu merah. Sepatu ini saya beli di suatu online shop, mereknya Ruby. Sepatu ini diimpor dari Australia dari sebuah toko bernama Cotton On. Harga sepatu ini Rp. 167.000, dan tanpa pikir panjang saya langsung memesannya. Dari fotonya, saya lihat bentuk bulat ujung sepatu tampak cukup sempurna, tidak murahan. Pitanya agak besar, terbuat dari bahan yang sama dengan sepatu itu, kanvas. Memang tidak terlalu mirip dengan sepatu idaman berpita kecil manis yang saya lihat di majalah, namun dengan harga yang cukup murah agaknya sepatu ini layak dibeli. Sekitar 1 minggu kemudian, datanglah si sepatu merah. Tidak buruk. Namun waktu saya memakainya, entah mengapa saya tidak sebahagia itu, saya merasa masih belum berhasil menemukan apa yang selama ini saya cari. Sepatu itu pas di kaki saya, tapi saya belum merasa seberuntung Putri Cinderella ketika mencoba sepatu kaca.

Hari ini saya berjalan-jalan dengan Ibu saya ke Senayan City. Seperti biasa, kami ke bagian sepatu dan saya masih berharap suatu ketika akan menemukan sepatu merah idaman. Namun saya agak gelagapan, ketika melihat sebuah toko bernama “For the Love of Shoe” yang menjual sepatu flat dengan berbagai macam warna, mulai dari hijau, biru, hitam, ungu, motif ular, motif tartan…..dan tentu saja…..merah! Saya tercengang melihat berpuluh-puluh pasang sepatu merah, mirip dengan sepatu Ruby yang saya IMPOR dari luar negeri, dijual dengan promo BUY ONE GET ONE FREE, atau jika dihitung-hitung, sepasang sepatu cuma berharga Rp. 125.000. Bagi orang Jakarta, khususnya pengunjung Senayan City, Rp. 125.000 bukanlah harga yang mahal untuk sepasang sepatu flat lucu berwarna-warni. Meskipun sepatu itu belum sesuai dengan bentuk sepatu idaman saya, namun saya tetap sedih, membayangkan betapa tidak spesialnya saya di antara orang-orang yang juga memiliki sepatu merah yang hampir mirip dengan sepatu idaman saya.

Jejeran sepatu warna-warni merek “For The Love of Shoe” dengan promo Buy 1 Get 1 Free (di sebelah kanan adalah sepatu merah yang hampir mirip dengan sepatu idaman saya, namun warna aslinya tidak seperti yang tampak dalam foto ini)

Tiba-tiba saja, saya teringat esai Walter Benjamin yang berjudul “The Work of Art in the Mechanical Age of Reproduction”. Saya baru saja mengerjakan tugas hermeneutika yang berhubungan dengan esai itu. Dalam tulisannya, Benjamin mempermasalahkan karya seni yang dengan mudahnya direkayasa secara singkat dan diproduksi secara massal sehingga menghilangkan unsur “keunikan” akan karya ‘aslinya’ itu. Artinya karya seni telah kehilangan autensitasnya dan keunikannya. Keprihatinan Benjamin ini muncul setelah dirinya merenungkan gejala atas fakta empiris di zaman industri modern ketika media massa, seperti pers, dan televisi muncul.

Saya tidak ingin menyimpulkan apakah yang dimaksud dengan memudarnya aura dalam karya seni merupakan berita buruk atau berita baik bagi dunia seni rupa. Di satu sisi teknologi reproduksi mampu membuat karya Van Gogh menjadi kartu pos dan dimiliki serta dinikmati banyak orang. Di sisi lain, toh kartu pos itu tetap tidak bisa menggantikan aura “keotentikan” lukisan aslinya, aura yang diciptakan oleh sejarah dan patron-patron dalam dunia seni rupa. Tampaknya saya bicara terlalu banyak tentang Benjamin.

Barangkali dalam konteks cerita saya, bolehlah secara asal saja sepatu merah idaman saya ini dianggap sebagai sebuah karya seni yang beraura. Aura tersebut muncul dari pengkultusan atau pemfetisan saya akan sepasang sepatu merah yang saya lihat di majalah, dan selalu muncul dalam mimpi-mimpi indah saya untuk menjadi “The Girl With The Red Shoes”. Dan ketika sepatu itu telah diproduksi secara massal dan dapat dimilik banyak orang, pengkultusan saya terhadap sepatu merah tersebut pun memudar.

Saya tidak ingin bicara tentang komoditas seni, konsumtivisme apalagi kapitalisme. Saya hanya ingin bercerita, tentang impian saya yang hancur berantakan seturut memudarnya aura sepasang sepatu merah idaman saya.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s