Tas

Barangkali sekitar beberapa bulan terakhir, saat sedang asik browsing barang-barang lucu di online shop (ya, hobi baru saya yang sangat konsumtif, menyedot hampir separuh dari gaji kecil saya :), saya menemukan sebuah benda yang menurut saya merupakan penemuan mutakhir bagi perempuan-perempuan jaman sekarang, BAG ORGANIZER. Benda apakah itu?

Bag organizer yang harganya kurang lebih 65-75 ribu

Bag organizer yang diletakkan di dalam tas.

Seperti namanya, benda ini merupakan sebuah tas kecil yang diciptakan khusus bagi perempuan yang sering berganti-ganti tas dan selalu kerepotan memindahkan barang-barang printilannya dari tas satu ke tas lainnya. Saya sendiri bukan orang yang sering mengganti tas. Saya memang memiliki beberapa tas, tapi saya membeli tas baru ketika saya sudah bosan atau merasa bahwa tas saya sudah jebol. Saya juga sering merasa kerepotan kalau harus sering mengganti tas, oleh sebab itu, saat ini tas yang saya sedang selalu saya pakai adalah sebuah tas jinjing besar berwarna coklat yang warnanya netral untuk semua baju saya dan cukup untuk menyimpan laptop saya.

Nah, apa isi tas saya? Jujur, saya sering–atau selalu kerepotan saat harus mencari handphone, kunci mobil, kunci kamar…..Saya harus selaluuu mengubek-ngubek tas saya sebelum dapat mendapatkan apa yang saya inginkan. Sekedar asumsi, barangkali hampir semua perempuan punya kerepotan ini (setidaknya ibu saya dan beberapa teman saya). Dan hampir semua lelaki akan geregetan dan bertanya, “Apa saja sih isi tas seorang perempuan?”

Saya bukan orang yang sering menggunakan make up, jadi kita hapus make up dari daftar isi tas saya. Saya punya sebuah dompet kecil berwarna coklat juga, warisan ibu saya. Laptop sesekali saya bawa kalau diperlukan. Lalu saya membawa notes untuk mencatat atau menulis sesuatu ketika kuliah atau rapat. Ada dua kunci, kunci mobil dan kunci kamar. Sebuah rol rambut untuk poni. Beberapa permen. Beberapa bon belanja. Deodoran. Kacamata hitam. Pulpen. Itu saja.n Saya pikir cukup fungsional.  Dan barangkali memang cuma itu isi tas perempuan, tapi kenapa ya kami–atau setidaknya saya–sering sekali kerepotan mengubek-ngubek isi tas, sampai-sampai diciptakanlah benda bernama bag organizer. Dan kenapa laki-laki jarang membawa tas?

Hmm..tulisan ini tidak akan nyerempet-nyerempet feminisme. Atau politik citra, atau budaya konsumtif. Ini hanya sebuah refleksi iseng saja, tentang perempuan-perempuan yang hobi ganti tas. Suatu kali di koran Kompas, Bre Redana dengan nada sinis menulis tentang tas Birkin yang harganya bisa sampai 100 Juta, yang dijinjing-jinjing oleh ibu-ibu pejabat saat makan pagi di Ritz, atau jalan-jalan di Grand Indonesia. Tapi tulisan ini menarik, ia menyinggung soal kaitan barang konsumsi dengan identitas, sempertanyakan “etika konsumsi di Indonesia” dengan memberi contoh ketidaketisan Artalytha Suryani yang menenteng tas Hermes saat sedang disidang. Tapi, cerita tentang tas seharga 100 juta terlalu mengawang-ngawang buat saya, saya tidak pernah bisa membayangkan akan menenteng tas seharga mobil saya saat ini.

Saya sedang bercerita, dari sisi perempuan yang hobi belanja, tentang konsumsi masyarakat menengah yang terengah-engah (tidak terlalu kaya, tapi juga nggak miskin-miskin banget). Hampir setengah dari gaji dan uang jajansaya saya dialokasikan untuk membeli pakaian. Saya senang dan percaya diri ketika memakai baju bagus. Buat saya, belanja itu adalah reward atas kerja saya.  Oke mungkin anda bilang ini ilusi. Barangkali. Katakanlah saya terseret arus kapitalisme dan budaya konsumtif. Aduh, hal ini sudah sering saya dengar. Dan tentu saja saya sadar. Lantas bagaimanakah posisi saya, yang berada dalam sadar, tapi toh tetap, tak kuasa menahan hobi saya ini? Saya tidak membeli pakaian mahal untuk mengangkat gengsi, saya membeli pakaian yang menurut saya bagus. Saya tidak sedang bersolek agar disukai laki-laki, saya membeli pakaian karena saya ingin memanjakan diri sendiri, saya ingin bangun pagi dan bersemangat memilih pakai baju apa ya hari ini?

Tapi dipikir-pikir, ya barangkali, saya membeli pakaian agar saya bisa bersaing dengan perempuan-perempuan berbaju bagus lain. Ah, pasti kapitalisme punya jawaban untuk hal ini, dan saya tampaknya tetap tidak akan peduli. Saya sadar dan saya menyukainya. Habisnya, hidup tampak membosankan tanpa model-model baju terkini…Hehehe

Jadi, apakah saya perlu membeli bag organizer?

Disclaimer: Saya tahu tulisan ini banyak nyelonong kemana-mana dan tidak fokus. Saya menulisnya dengan spontan, semacam apa yang sedang terlintas saja. Saya sedang belajar menulis santai tapi tetap oke. Kalau sekarang sih baru sampai tahap santai tapi belum oke…hahaha :)

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s