Selayang Pandang Graffiti di Jakarta

Tulisan ini dimuat pada majalah Visual Arts #35,  Februari 2010 sebagai tulisan pendukung “Kanon Baru dari Dinding Jalanan” oleh Alia Swastika.

Bagi anda yang tinggal di Jakarta dan biasa terjebak macet di kala pulang kantor, mungkin tidak asing dengan gambar atau coret-coretan yang menghiasi tembok-tembok kota. Dalam keadaan macet, mengamati gambar-gambar itu bisa cukup menghibur  untuk menghilangkan stress. Tapi pernahkah anda terpikir, kira-kira siapakah gerangan orang yang begitu iseng dan begitu niat menggambari  tembok-tembok tersebut? Pertanyaan tersebut membawa saya bertemu dengan Darbotz, Tutu dan Kims—tiga dari sekian puluh orang-orang di Jakarta yang menyebut dirinya sebagai graffiti artists. Dari perbincangan kami, mungkin kita bisa mendapat sedikit gambaran tentang perkembangan graffiti di kota Jakarta.

Darbotz, seorang lelaki santun yang sehari-hari bekerja sebagai seorang desainer grafis sudah mulai menggambar di jalanan sejak akhir 90-an. Latar belakangnya sebagai mahasiswa desain yang hobi menggambar membuatnya tertantang untuk menggambar di media yang besar yakni di tembok. Darbotz dikenal dengan karakter “cumi”-nya yang menghiasi tembok kota Jakarta dengan warna hitam putih. “Warna hitam dan putih saya pilih agar kelihatan outstanding diantara graffiti lain yang memakai banyak warna,” begitu katanya.

Lain lagi dengan Tutu, lulusan ITB desain grafis ini memilih untuk mengeksplor karakter tupai dalam karya-karyanya di jalanan. Karakter tupai buatannya kadang terlihat imut tapi bisa juga terlihat sangat sangar dengan gigi-gigi bertaring. “Semuanya tergantung mood saat membuat,” kata Tutu yang bekerja sebagai seorang animator. Berbeda dengan Darbotz yang memilih warna hitam putih, karya Tutu menggunakan teknik pewarnaan yang halus dan mendetail.

Eksplorasi visual para graffiti artists memang berbeda-beda. Jika gambar karakter tupai Tutu selalu tampak detail maka karya Kims lebih simpel dan mengutamakan kuantitas. Artinya, ia lebih memilih untuk mencoret-coret di banyak tempat dibanding membuat sebuah karya besar di satu tembok. Kims mengakui bahwa alasannya membuat graffiti adalah karena ia ingin lebih dikenal dan diakui eksistensinya. “Mungkin sedikit narsis sih, tapi kami memang cuma ingin orang notice akan keberadaan kami,” katanya sambil tertawa.

Karya Kims dalam ranah graffiti biasa disebut tagging atau semacam membuat tanda tangan dengan font style yang unik dan ukurannya tidak terlalu besar. Di atas tagging, ada throw up, yaitu masih membuat font namun dalam ukuran yang lebih besar namun tidak terlalu rumit. Sementara yang terakhir adalah piece. Piece adalah sebuah karya graffiti yang dibuat dalam ukuran besar, mendetail dan dapat berupa karakter seperti Darbotz dan Tutu atau juga berupa font namun dalam bentuk yang lebih rumit.

Dari tiga tipe karya graffiti di atas, menurut Kims kebanyakan yang muncul di Jakarta adalah tagging dan throw up. Alasannya karena tagging dan throw up dapat dibuat dengan cepat, mungkin hanya sekitar 10 menit jika sang graffiti artists sudah ahli. Kecepatan memang menjadi sangat penting karena tak jarang mereka harus bekejar-kejaran dengan satpol PP yang ingin “menertibkan” para graffiti artist yang dianggap mengotori tembok kota. Hal ini pulalah yang membuat karya graffiti di Jakarta biasanya rough (kasar) dan tidak bisa terlalu mendetail kecuali dalam beberapa kasus seperti Tutu yang menjadikan detail sebagai ciri khas karyanya.

Selain itu, karya-karya graffiti di Jakarta pun tidak pernah bertahan lama di tembok. Tembok di jakarta memang memiliki politik ruang dan saling silang kuasa yang rumit dengan pemerintah kota ataupun antar graffiti artists sendiri. Tak jarang karya yang sudah dibuat dengan susah payah ternyata keesokan harinya dihapus oleh petugas pemerintah atau bahkan ditiban oleh teman sendiri. “Respect adalah kata kunci yang penting dalam dunia graffti,” begitu kata Tutu yang menyesalkan adanya orang-orang yang tidak menghargai kerja keras temannya sendiri. Tapi begitulah graffiti, ia berada di ruang publik yang konon milik siapa saja.

Masih menurut Tutu, graffiti di Jakarta pada tahun 90-an belum ramai seperti sekarang. Dinding-dinding kota masih sepi dari karya graffiti, paling banter coret-coretan di dinding adalah ulah geng-geng SMA. Para graffiti artist pun masih bergerak gerilya sendiri-sendiri dan belum mengenal satu sama lain, mereka baru berkenalan ketika tak sengaja bertemu saat menggambari dinding di malam hari. Dari perkenalan itu mereka saling berbagi informasi yang akhirnya mengembangkan teknik dan wacana mereka tentang graffiti.

Pada tahun 2005, ketika semakin banyak bermunculan karya graffiti di jalanan Jakarta, Darbotz dan beberapa temannya menggagas situs tembokbomber.com, dimana situs ini menjadi wadah dokumentasi karya-karya graffiti dan media komunikasi para graffiti artists di Indonesia.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s