Tentang Tema dan Tentang Medium: sebuah catatan kecil pameran “Phodiography”

1.

Catatan ini adalah sebuah pengantar yang merupakan hasil dari perbincangan dan proses belajar bersama yang dilakukan dengan seluruh teman-teman Plastic Funtastic selama proses penyusunan pameran ini. Tulisan ini bukan kuratorial–karena sepertinya tidak dibutuhkan kurator  dalam pameran ini–melainkan hanya bermaksud menyampaikan poin-poin penting yang selalu digarisbawahi pada setiap diskusi-diskusi  dalam penyusunan konsep dan mewujudkan pameran ini yang berlangsung selama 3 bulan.

2.

“Phodiography” bukan sebuah istilah baru atau genre baru dalam fotografi  yang dibuat oleh Plastic Funtastic. Istilah ini merupakan gabungan dari kata “photography” dan “audio”. Reka-rekaan gabungan kata ini tentu sudah sering kita dengar contohnya dalam judul acara-acara pensi SMA. Walaupun terkesan “maksa” di telinga saya, tapi toh pembuat keputusan di Plastic Funtastic tampak menyukainya. Dari segi etimologis dan sub judul “Ketika Cahaya Menenun Nada” cukup jelas bahwa dalam pameran ini ada penggabungan unsur audio dan visual. Dan karena kelompok ini merupakan kelompok pecinta kamera mainan, maka output visualnya adalah karya foto. Ide mengabungkan karya fotografi dengan musik disebabkan karena pegiat kelompok kamera mainan ini merupakan sekelompok anak-anak muda yang—seperti pada umumnya—menyukai musik. Kenapa musik? Menurut pendapat pribadi saya, musik dipilih sebagai salah satu objek untuk dieksplor karena “gaya hidup” (katakanlah kalau bisa disebut gaya hidup) anak-anak muda pada jaman apapun memang akan selalu berhubungan dengan musik.Generasi 70-80an hidup dalam jaman rock and roll. Jaman 90-an bagi saya yang kala itu masih SD merupakan masa kegemilangan boysband. Sementara generasi 90an yang  lebih tua mungkin lebih menyukai Oasis atau Suede. Yang pasti musik selalu menjadi “semangat jaman”.

Mengenai lagu-lagu yang dipilih dalam pameran ini, mungkin tidak bisa dikatakan dengan absolut bahwa lagu-lagu terpilih merupakan lagu semangat jaman di masa ini. Yang pasti lagu-lagu yang dipilih merupakan pilihan bersama atas lagu-lagu favorit dengan diiringi pertimbangan seberapa besar kemungkinan sebuah lagu dieksplor dalam bentuk visual. Namun lebih dari itu, hasil foto dapat menjadi suatu karya mandiri yang tetap bisa dipahami penonton tanpa mengetahui lagunya. Karya foto dalam pameran ini bukanlah sekedar ilustrasi pendukung lagu, melainkan sebuah pembacaan baru dalam bentuk visual terhadap lagu.

3.

Mungkin menjadi penting untuk mengetahui “apa dan siapa” kelompok Plastic Funtastic ini agar dapat lebih memahami dasar-dasar pemikiran mereka dan kenapa mereka menggagas pameran ini. Plastic Funtastic memiliki sejarah panjang tentang keorganisasian. Pada tahun 2007 namanya adalah Lomography® Society Jogjakarta (LSJ). Seperti kita tahu, lomography® merupakan salah satu merek terbesar di industri kamera mainan. Pada akhir 2008, karena masalah administratif pun ideologis, pengurus dan anggota LSJ memutuskan untuk membuat komunitas baru yang tidak dibayangi oleh merek. Nama Plastic Funtastic pun dipilih. Hal ini menyebabkan banyak orang bertanya apa beda komunitas ini dengan misalnya, Lomography® Society Jogjakarta yang kini diambil alih oleh pihak lain atau Klastic (komunitas kamera plastik di Kaskus). Bagi saya yang pernah terlibat langsung dengan komunitas ini, sesungguhnya tidak ada perbedaan yang benar-benar mendasar antara ketiga komunitas ini. Ketiganya merupakan komunitas fotografi, alatnya juga tidak jauh beda, intinya kamera, menangkap cahaya. Perbedaan akan menjadi jelas, ketika Plastic Funtastic misalnya dibandingkan dengan Komunitas Nikon atau Komunitas Leica. Tapi perbedaan tersebut pun, hanya sebatas medium. Kamera plastik atau mainan hanya “memfasilitasi” sang pemakai dengan ciri khas warna, lensa unik atau light leaks. Mengenai apa yang akan difoto, semua kembali ke kepala masing-masing orang, dan bisa jadi tidak berbeda dengan apa yang difoto orang yang memakai Nikon, Canon atau Hasselblad.

Dalam pameran ini, kelompok Plastic Funtastic tidak lagi mau berkutat dengan permasalahan medium, melainkan melangkah ke bagaimana membuat karya fotografi yang dapat dipertanggungjawabkan maksud dan tujuannya. Kamera dalam hal ini–kebetulan kamera mainan–hanyalah sebuah awal yang mempertemukan anggota-anggotanya dalam kelompok Plastic Funtastic. Sebuah kelompok yang tumbuh secara organik, dimana orang datang dan pergi seenaknya dan selalu saja kesulitan mencari dana untuk pameran. Walaupun bukan sebuah kelompok yang mapan dan di tengah segala kekurangannya, kita perlu menghargai usaha teman-teman Plastic Funtastic yang tidak sekedar menjadi korban kamera-plastik-lucu-yang-kalo-susah-pakenya-dibuang-aja, melainkan memproduksi karya-karya fotografi secara serius dan intens. Tentang bagus atau tidaknya karya itu, silahkan anda saja yang menilai!

Selamat menikmati. Untuk teman-teman Plastic Funtastic, semoga sukses! :-)

1.

Catatan ini adalah sebuah pengantar yang merupakan hasil dari perbincangan dan proses belajar bersama yang dilakukan dengan seluruh teman-teman Plastic Funtastic selama proses penyusunan pameran ini. Tulisan ini bukan kuratorial–karena sepertinya tidak dibutuhkan kurator  dalam pameran ini–melainkan hanya bermaksud menyampaikan poin-poin penting yang selalu digarisbawahi pada setiap diskusi-diskusi  dalam penyusunan konsep dan mewujudkan pameran ini yang berlangsung selama 3 bulan.

2.

“Phodiography” bukan sebuah istilah baru atau genre baru dalam fotografi  yang dibuat oleh Plastic Funtastic. Istilah ini merupakan gabungan dari kata “photography” dan “audio”. Reka-rekaan gabungan kata ini tentu sudah sering kita dengar contohnya dalam judul acara-acara pensi SMA. Walaupun terkesan “maksa” di telinga saya, tapi toh pembuat keputusan di Plastic Funtastic tampak menyukainya. Dari segi etimologis dan sub judul “Ketika Cahaya Menenun Nada” cukup jelas bahwa dalam pameran ini ada penggabungan unsur audio dan visual. Dan karena kelompok ini merupakan kelompok pecinta kamera mainan, maka output visualnya adalah karya foto. Ide mengabungkan karya fotografi dengan musik disebabkan karena pegiat kelompok kamera mainan ini merupakan sekelompok anak-anak muda yang—seperti pada umumnya—menyukai musik. Kenapa musik? Menurut pendapat pribadi saya, musik dipilih sebagai salah satu objek untuk dieksplor karena “gaya hidup” (katakanlah kalau bisa disebut gaya hidup) anak-anak muda pada jaman apapun memang akan selalu berhubungan dengan musik.Generasi 70-80an hidup dalam jaman rock and roll. Jaman 90-an bagi saya yang kala itu masih SD merupakan masa kegemilangan boysband. Sementara generasi 90an yang  lebih tua mungkin lebih menyukai Oasis atau Suede. Yang pasti musik selalu menjadi “semangat jaman”.

Mengenai lagu-lagu yang dipilih dalam pameran ini, mungkin tidak bisa dikatakan dengan absolut bahwa lagu-lagu terpilih merupakan lagu semangat jaman di masa ini. Yang pasti lagu-lagu yang dipilih merupakan pilihan bersama atas lagu-lagu favorit dengan diiringi pertimbangan seberapa besar kemungkinan sebuah lagu dieksplor dalam bentuk visual. Namun lebih dari itu, hasil foto dapat menjadi suatu karya mandiri yang tetap bisa dipahami penonton tanpa mengetahui lagunya. Karya foto dalam pameran ini bukanlah sekedar ilustrasi pendukung lagu, melainkan sebuah pembacaan baru dalam bentuk visual terhadap lagu.

3.

Mungkin menjadi penting untuk mengetahui “apa dan siapa” kelompok Plastic Funtastic ini agar dapat lebih memahami dasar-dasar pemikiran mereka dan kenapa mereka menggagas pameran ini. Plastic Funtastic memiliki sejarah panjang tentang keorganisasian. Pada tahun 2007 namanya adalah Lomography® Society Jogjakarta (LSJ). Seperti kita tahu, lomography® merupakan salah satu merek terbesar di industri kamera mainan. Pada akhir 2008, karena masalah administratif pun ideologis, pengurus dan anggota LSJ memutuskan untuk membuat komunitas baru yang tidak dibayangi oleh merek. Nama Plastic Funtastic pun dipilih. Hal ini menyebabkan banyak orang bertanya apa beda komunitas ini dengan misalnya, Lomography® Society Jogjakarta yang kini diambil alih oleh pihak lain atau Klastic (komunitas kamera plastik di Kaskus). Bagi saya yang pernah terlibat langsung dengan komunitas ini, sesungguhnya tidak ada perbedaan yang benar-benar mendasar antara ketiga komunitas ini. Ketiganya merupakan komunitas fotografi, alatnya juga tidak jauh beda, intinya kamera, menangkap cahaya. Perbedaan akan menjadi jelas, ketika Plastic Funtastic misalnya dibandingkan dengan Komunitas Nikon atau Komunitas Leica. Tapi perbedaan tersebut pun, hanya sebatas medium. Kamera plastik atau mainan hanya “memfasilitasi” sang pemakai dengan ciri khas warna, lensa unik atau light leaks. Mengenai apa yang akan difoto, semua kembali ke kepala masing-masing orang, dan bisa jadi tidak berbeda dengan apa yang difoto orang yang memakai Nikon, Canon atau Hasselblad.

Dalam pameran ini, kelompok Plastic Funtastic tidak lagi mau berkutat dengan permasalahan medium, melainkan melangkah ke bagaimana membuat karya fotografi yang dapat dipertanggungjawabkan maksud dan tujuannya. Kamera dalam hal ini–kebetulan kamera mainan–hanyalah sebuah awal yang mempertemukan anggota-anggotanya dalam kelompok Plastic Funtastic. Sebuah kelompok yang tumbuh secara organik, dimana orang datang dan pergi seenaknya dan selalu saja kesulitan mencari dana untuk pameran. Walaupun bukan sebuah kelompok yang mapan dan di tengah segala kekurangannya, kita perlu menghargai usaha teman-teman Plastic Funtastic yang tidak sekedar menjadi korban kamera-plastik-lucu-yang-kalo-susah-pakenya-dibuang-aja, melainkan memproduksi karya-karya fotografi secara serius dan intens. Tentang bagus atau tidaknya karya itu, silahkan anda saja yang menilai!

Selamat menikmati. Untuk teman-teman Plastic Funtastic, semoga sukses! J

Advertisements

2 Comments on “Tentang Tema dan Tentang Medium: sebuah catatan kecil pameran “Phodiography””

  1. latam says:

    sumpah gw suka bgt tulisan ini git.
    makasih ya gita cantik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s