Wimo Film and Video Festival

www

Tulisan ini merupakan pengantar untuk acara Wimo Film and Video Festival di Kedai Kebun Forum tanggal 28-30 Oktober 2009.

Mungkin agak terlambat, ketika Kedai Kebun mengadakan acara Wimo Film and Video Festival sebagai salah satu manifes program do it yourself festival-nya. Pasalnya, Wimo sendiri sebetulnya aktif membuat karya-karya videonya pada tahun 2000-2007. Saat ini Wimo sedang asyik bermain-main kembali ke roots-nya yaitu fotografi. Ketika di tahun 2000-an ia menggunakan medium video pun, itu disebabkan karena kondisi ekonomi yang lebih efisien dan ekonomis bagi seorang mahasiswa yang tak kunjung jua lulus di ISI. Fotografi sebagai sebuah hobi maupun profesi memang membutuhkan dana yang lebih besar. Sementara dengan medium video, bermodal handycam dan satu buah kaset mini DV, ia bisa merealisasikan lebih banyak ide yang carut marut di kepalanya.

Dengan dasar pendidikan fotografinya, Wimo membuat karya-karya video yang tidak jauh berbeda karakternya dengan karya-karya fotonya. Ciri khas karyanya selalu humoris, metaforik dan mengangkat hal-hal yang mikroskopik dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja dengan kamera video, Wimo banyak mengeksplor teknik editing dan berinteraksi dengan subjek-subjek yang ia rekam.

Kedekatan Wimo dengan kamera video tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perkembangan video sendiri di Indonesia. Menurut data sejarah, perkenalan bangsa Indonesia dengan video bermula pada tahun 1962 ketika stasiun televisi pertama TVRI didirikan bersamaan dengan proyek Asean Games IV. Namun, berbeda dengan kemunculan televisi di Eropa dan Amerika yang menyebabkan munculnya gerakan seni pop art, fluxus dan video art sebagai kritik terhadap dominasi media, selama berpuluh-puluh tahun TVRI tetap mendominasi dan menciptakan persepsi kekuasan tunggal pada era Orde Baru. Bahkan pada masa itu, video sempat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kestabilan nasional karena efeknya yang dianggap mampu merusak moral bangsa dan menimbulkan konsumerisme (lebih lanjut lihat penelitian Forum Lenteng dalam VIDEOBASE, 2009.) Barulah pada tahun 1999-2000, tak lama setelah keruntuhan Orde Baru, arus informasi global menderas disertai dengan perkembangan teknologi seperti internet, SMS dan video. Wimo menjadi salah satu seniman muda yang mulai menggunakan video sebagai alat berekspresinya seperti misalnya, Prilla Tania dan Ariani Darmawan di Bandung atau kawan-kawan ruangrupa di Jakarta.

Dengan demikian walau di awal tulisan ini saya katakan agak terlambat ketika mengadakan Wimo Film and Video Festival, sebagai layaknya karya seni yang baik, video-video yang diproduksi Wimo masih sangat kontekstual untuk dibicarakan saat ini.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s