photobox: relasi absurd mesin dan manusia

Ber-photobox adalah sebuah hobi hedonis yang saya jalani selama masa SMP dan awal SMA (tahun 2001-2004) saya di Jakarta. Hampir setiap minggu, sebagai bagian dari ritual saya dan teman-teman, kami jalan-jalan ke mal, makan murah di food court dan akhirnya ditutup dengan ber-photobox ria. Saking seringnya saya dan teman-teman ber-photobox, saya sampai punya beberapa album mini yang isinya hasil foto-foto kami yang sampai sekarang masih saya simpan dengan baik.

Ketika saya melewati masa-masa “remaja” itu, dan seiring dengan kehadiran kamera digital yang baru populer di kalangan saya sekitar pertengahan 2007, kebiasaan ber-photobox mulai luntur. Selain harganya cukup mahal, sekitar Rp 20.000 per “session”, kami lebih memilih merekam kejadian-kejadian penting-nggak penting dengan kamera digital yang bisa langsung di-tag di facebook (it’s a guilty pleasure, anyway:)  Mesin Photobox pun kami tinggalkan, walau sesekali, saat reunian, rasa iseng dan rindu akan romantisme bodoh-bodohan bergaya di kotak foto itu masih kami lakukan.

Mengingat kembali masa-masa kejayaan mesin photobox, dan setelah membaca-baca beberapa teori-teori fotografi yang menyangkut relasi antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret, muncul pertanyaan-pertanyaan tentang esensi dari photobox.

Ada banyak wacana mengenai relasi antara subjek-yang memotret dan subjek yang dipotret, seperti misalnya, Tubagus P. Svarajati dalam sebuah artikel lepas berjudul “Fotografi dalam Eksistensialisme Sartre” menyebutkan bahwa hubungan antara keduanya adalah sebuah hubungan yang kompleks. Di satu sisi ia memandang bahwa relasi antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret merupakan sebuah relasi yang tidak setara. Ketika  sang fotografer membidik, memilah dan membingkai subjek-yang difoto sesungguhnya ia telah mengeliminasi realitas untuk menjadikannya sesuai citra yang diinginkannya. Jelas, ini artinya ia telah mengobjektivikasi subjek yang difotonya.

Dalam hubungan subjek-objek yang saling mengalahkan ini, sesungguhnya objek foto pun (dalam hal ini tentu saja, manusia) merupakan persona bebas yang menyadari eksistensinya. Sebagai subjek bagi dirinya sendiri, ia dapat merebut kembali eksistensinya melalui kesadaran. Ketika sebuah objek menyadari bahwa ia sedang difoto, ia tidak lagi dikendalikan oleh sang fotografer melainkan justru ia dapat mengobjektifikasi sang fotografer dengan mengendalikan gerakan/bidikan sang fotografer sesuai gerakan tubuhnya sendiri. Menurut Sartre, relasi kompleks ini didasari oleh hubungan konflikal antar manusia.

Saya pikir relasi tersebut cukup jelas sampai disini. Tapi dalam hal aktivitas ber-photobox, kita tidak bisa mengimplementasikan relasi subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret sebagaimana yang disebut oleh Tubagus. Dalam aktivitas berfoto dengan menggunakan mesin photobox, subjek-yang memotret merupakan sekaligus subjek-yang dipotret. Hal ini mungkin mirip dengan perilaku self portrait dengan menggunakan timer dan tripod. Namun, jika dalam menggunakan timer dan tripod subyek yang memotret dan dipotret masih bisa mengatur pencahayaan, latar belakang dan komposisi foto, maka dalam kasus ber-photobox hal ini sedikit berbeda. Mesin photobox memiliki angle kamera yang sudah diatur dan tidak bisa diubah, demikian pula dengan pencahayaannya yang selalu sama. Ruang di dalam photobox pun selalu sama, sebuah ruang berukuran tidak lebih dari 1×1 m. Latar belakang foto biasanya hanya disediakan dalam beberapa pilihan warna dasar seperti biru dan merah. Mesin photobox memiliki beberapa otoritas yang tidak dapat diganggu gugat, dan ia mengarahkan sang subjek-yang dipotret (memberi batasan) dalam beberapa hal layaknya sang subjek-yang memotret.

Tapi yang menarik, dalam proses berfoto di dalam mesin photobox, subjek-yang dipotret dapat melihat dirinya langsung sebelum dan saat mesin photobox merekam gambar. Ini adalah sebuah proses yang tidak dimiliki dalam hubungan memotret dan dipotret maupun proses self portrait dengan tripod dan timer. Artinya, dalam proses pemotretan dengan mesin photobox, sang subjek-yang dipotret memiliki kontrol penuh terhadap kesadaran raut wajahnya saat dipotret.

Kontrol dan dominasi lebih yang dimiliki manusia terhadap mesin ini menunjukkan keterbalikan dengan relasi yang ditunjukkan Tubagus antara subjek-yang memotret dan subjek-yang dipotret dari kacamata eksistensialisme Sartre. Inilah yang mungkin, bisa jadi merupakan sebuah alasan mengapa saya dan teman-teman saya selama beberapa tahun sempat menjadi “pegiat photobox”. Kami mendapatkan kontrol penuh untuk memuaskan rasa narsisme kami dengan bergaya dalam mesin photobox.

Advertisements

One Comment on “photobox: relasi absurd mesin dan manusia”

  1. dodot says:

    Bagus…!

    “Kami mendapatkan kontrol penuh untuk memuaskan rasa narsisme kami dengan bergaya dalam mesin photobox.”

    Expresif :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s