Safari yang Memanipulasi Imajinasi

3775090238_1cc10827d5

Tulisan ini merupakan catatan pengantar pameran fotografi Agan Harahap di Mes56 tanggal 7-31 Agustus 2009.

Apa yang akan anda lakukan jika tiba-tiba, saat sedang sembunyi-sembuyi membuka situs facebook di kantor, ada seekor komodo yang sedang mencari mangsa, tepat di belakang punggung anda? Atau bagaimana reaksi anda jika saat sedang asik menyantap Big Mac di McDonald, anda melihat seekor dinosaurus yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar? Apa pula yang akan anda katakan, saat sehabis berbelanja seharian di mal dan menuju parkiran, ada seekor beruang yang tengah mendekati mobil anda?

Saya rasa, jika anda tidak berprofesi sebagai penjinak binatang, anda akan mengucek-ngucek mata dengan heran, berteriak atau malah lari terbirit-birit. Bisa juga,  anda malah mengira sedang dikerjain di sebuah acara televisi.

Itulah yang saya bayangkan, seandainya saja foto-foto Agan Harahap dalam seri foto “SAFARI” menjadi kenyataan. Saya—dan mungkin juga anda– sebagai orang yang sudah terbiasa hidup di kota, tentu akan merasa aneh karena sebelumnya hanya terbiasa melihat anjing atau kucing berkeliaran di jalanan. Kalaupun ada binatang lain, paling-paling hanya kecoa, tikus atau laba-laba; binatang-binatang yang ukurannya bisa saya atasi hanya dengan menginjaknya. Apa jadinya kalau tiba-tiba ada gajah, komodo, harimau dan binatang-binatang buas lainnya yang gantian menginjak kita? Aduh, saya jadi ingat film Jumanji dimana kota tempat tinggal Robin Williams jadi amburadul gara-gara kehadiran binatang-binatang buas dari papan permainan ajaib itu.

Foto-foto yang Agan tawarkan memang memacu pikiran  kita untuk berfantasi. Dengan teknik olah imaji (digital imaging), saya pikir kemampuan Agan yang perlu diancungi jempol bukan hanya dalam hal memanfaatkan software Photoshop saja. Melalui medium yang memang dia terbiasa dan kuasai, ia juga mampu mengolah imajinasinya dengan sangat menawan. Pikirannya bisa melanglang buana, memikirkan apa yang tidak sempat orang lain pikirkan. Perhatikan saja beberapa foto yang biasa ia unggah di deviantart atau flickr. Ada perempuan berkepala gurita, sekumpulan manusia yang berlomba menunggangi hewan aneh semacam ulat, atau sepasang kekasih dengan masker ala bomber. Hibrid, satu kata yang bisa saya bayangkan untuk karya-karyanya.

Agan sehari-hari bekerja sebagai fotografer untuk majalah Trax sejak tahun 2006. Dalam halaman-halaman majalah musik ini, kita bisa melihat kepiawaian Agan dalam bidangnya. Latar belakangnya sebagai mahasiswa desain grafis membuat ia memperlakukan medium fotografi secara berbeda. Ia tidak pernah membiarkan hasil fotonya mentah, selalu saja ada “tangan-tangan usil” yang membuat fotonya berwarna unik atau bahkan manipulasi yang sama sekali jauh berbeda dengan realitasnya. Sebagai fotografer majalah musik, Agan memiliki akses untuk dapat memotret artis ternama atau model-model cantik. Ia juga bebas berkreasi dengan kostum-kostum unik dan cahaya artifisial. Dia menjadikan modelnya sebagai boneka yang bisa ia atur seenaknya dengan pemaknaan yang ia inginkan. Dia tidak punya masalah dengan momentum atau cuaca mendung layaknya seorang jurnalis. Tidak puas sampai disana, wajah model-model tersebut tak jarang masih juga ia “ganggu” dengan proses digital imaging. Saya masih ingat karya Agan yang memanipulasi wajah Cathy Sharon, Glen Fredly, dan Eno “Netral” sehingga tampak seperti lansia, sangat lucu dan cerdas.

Menurut saya Agan berhasil memanipulasi imajinasi kita melalui foto-fotonya. Kalau boleh saya analogikan, karya Agan itu seperti film Transformers, kita sadar bahwa film itu fiksi, tapi sepanjang film kita seperti terbawa dalam alur cerita yang semuanya jadi terasa rasional. Bahkan sepulang dari bioskop, kita bisa-bisanya membayangkan motor kita bisa bicara seperti Bumlebee. Naluri kita untuk berimajinasi seperti diajak untuk bermain-main saat melihat karya-karya foto Agan.

Walau begitu, Agan mengaku sempat bosan dengan pekerjaannya. Di sela-sela kejenuhannya memotret model-model cantik (“Apalah arti kecantikan duniawi,” begitu kata Agan J), ia iseng-iseng memotret teman-teman kantornya. Dengan keahliannya menggunakan photoshop, munculah gajah di pintu kantor dan komodo di belakang punggung seorang rekan kerja yang sedang main komputer. Setelah melihat hasilnya, Agan menemukan kesenangan baru dalam mengkolase stok fotonya dengan gambar-gambar binatang. Dari sinilah muncul seri foto “SAFARI” yang kini berada di hadapan anda.

Proses kreatif Agan tidak berhenti sampai disana saja. Dari sekadar menempelkan foto-foto binatang ke dalam stok foto yang dimiliki, ia mulai menyadari bahwa perilakunya ini bisa jadi berarti. Yang dilakukan Agan akhirnya tidak sekadar sebuah proyek iseng-iseng ketika ia menjukstaposisikan gambar binatang ke ruang dan waktu yang berbeda. Kali ini ia telah memproduksi makna baru dengan mengkonstruksi ulang gambar-gambar tersebut. Lantas makna apa yang ada di dalamnya? Saya sarankan untuk membiarkan imajinasi kitalah yang bebas menginterpretasikannya. Kini saatnya kita yang berkreasi. Saya sendiri cukup senang ketika melihat foto-foto Agan, imajinasi saya semakin liar saat sedang duduk termenung di depan laptop. Hey, awas, ada binatang apa di belakangmu?!!***

(Untuk gambar-gambar dari foto Agan yang dipamerkan silahkan klik disini)

Advertisements

One Comment on “Safari yang Memanipulasi Imajinasi”

  1. caesarcaesar says:

    keren deh, seru gini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s