Tidak Ada Pawang Hujan di Ilmenau

Ilmenau adalah sebuah kota super kecil di Jerman bagian Timur. Bahkan, mungkin Ilmenau tidak bisa disebut sebagai kota melainkan desa. Masalahnya, kata ”desa” di Indonesia sudah dikonotasikan dengan sawah, rumah jerami dan kemiskinan. Padahal, infrastruktur yang berkembang di Ilmenau sangatlah modern, apalagi jika hanya dibandingkan dengan Jakarta. Ilmenau adalah sebuah kota yang jantung kehidupannya ada di sebuah kampus teknik dengan nama Technische Universitat of Ilmenau. Sebuah kampus yang cukup bergengsi, mungkin semacam ITB.

Sebetulnya, bukan masalah itu juga yang ingin saya ceritakan di tulisan ini. Ilmenau, selain juga kotanya kecil, dikelilingi oleh pegunungan sehingga udara disana dua kali lebih dingin daripada kota-kota lain. Ilmenau adalah kota yang sudah terbiasa dengan hujan, mungkin bisa kita analogikan dengan Bogor, kalau di Indonesia. Selama 9 hari saya disana, rasa-rasanya seingat saya setiap hari selalu ada hujan, entah itu deras atau sekedar gerimis. Padahal, berkaitan dengan kedatangan saya ke Ilmenau, ada beberapa acara yang diadakan di luar ruangan. Walhasil, suatu hari, sebuah acara terpaksa dipindahtempatkan ke dalam ruangan dan tentu saja, dalam serba keterbatasan tempat yang dadakan, acaranya jadi agak garing.

Bukan kegaringan acaranya juga yang ingin saya ceritakan di tulisan ini, sih. Suatu ketika, iseng-iseng saya bertanya kepada salah satu mahasiswa Jerman yang kuliah disana. “Kenapa sih kalian nggak pakai pawang hujan kalau mau bikin acara?” Dalam percakapan yang pakai bahasa Inggris itu, saya menerjemahkan kata pawang hujan menjadi “rain stopper”. Maka terheran-heranlah teman saya itu, dan dengan wajah pilon dia bertanya, “What is rain stopper?”

Makin sombonglah saya, sepertinya asik juga nih ngibul-ngibulin bule. Dengan nada agak menghina, saya katakan, “Wah, payah sekali kamu. Katanya negara maju, masa mengontrol hujan aja gak bisa?” Maklum, sebelum-sebelumnya saya sempat merasa sedikit inferior jika membandingkan teknologi di Jerman dengan di negara sendiri. Ketika saya bisa membuat seorang bule tampak ndeso, senang sekali rasanya J

Saya ceritakan bahwa di negara kita, jika ada acara besar seperti resepsi pernikahan, konser atau kampanye dan cuacanya tidak mendukung, maka kita bisa menyewa seorang pawang hujan untuk mengontrol hujan. Sebetulnya, saya tidak paham benar juga bagaimana cara pawang hujan bekerja. Setahu saya–dan ini juga dari cerita teman-teman dalam obrolan santai, pawang hujan bekerja dengan mengeluarkan ion-ion positif dalam tubuhnya untuk mempengaruhi cuaca. Hujan mengandung ion-ion negatif dan sang pawang hujan melakukan semedi untuk menetralkan cuaca dengan ion-ion postifi dalam tubuhnya. Ini adalah alasan paling rasional yang saya dapatkan perihal pawang-pawangan. Walaupun, saya sebenarnya juga kurang mengerti semedi macam apa yang bisa membuat tubuh mengeluarkan ion positif.

Teman saya masih bingung, setengah tidak percaya. Dan saya juga sebenarnya agak bingung, kenapa negara maju semacam Jerman tidak memiliki teknologi untuk mengontrol cuaca. Saya teringat cerita teman saya bahwa Barat selalu mengambil hal-hal tradisional di Timur dan membungkusnya dalam teknologi. Misalkan saja, terapi akupuntur di Cina ditransformasikan menjadi sebuah alat yang lebih praktis dan dapat digunakan sendiri. Atau kebiasaan sauna air panas di Jepang ditransformasikan menjadi bathtub dengan air-air yang bergelembung (sumpah, saya lupa namanya). Mungkin setelah percakapan saya dengan teman bule saya yang kuliah teknik ini, suatu ketika ia akan menciptakan sebuah alat yang dapat mengontrol hujan dengan sekali pencet. Dan akhirnya, keberadaan pawang hujan yang perlu pakai semedi segala akan hilang.

Entahlah, ini cuma sekedar pikiran ngawur saya yang kadang terlampau imajinatif. Tapi, lantas saya juga berpikir bahwa terkadang kita memandang Timur dengan kacamata Barat. Teknologi-teknologi yang dibuat Barat seringkali akarnya dari tradisi Timur. Tapi ketika teknologi tersebut sampai ke hadapan kita, kita terkagum-kagum dan mengatakan bahwa bangsa Barat memang yang paling pintar dan maju. Padahal, ternyata tak jarang teknologi yang mereka buat sebetulnya berasal dari bangsa kita sendiri. Sama saja halnya seperti kasus sepatu Nike yang kita ekspor ke penjuru dunia. Ketika sepatu Nike yang sama kita beli di Pasar Uler, ia akan tampak lebih jelek dibanding sepatu oleh-oleh dari Jerman yang padahal buatan buruh Indonesia juga.  Begitulah kita, bangsa yang pemalu. :-)

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s