Mitos-Mitos Turis Paris

eiffel
foto saya paling mending dalam menangkap keindahan Eiffel

Sendirian di Paris ternyata tidak mengurangi romantisme kota Paris sebagai city of love. Setidaknya saya bisa lebih intim dengan kamera saya menyusuri bangunan-bangunan indah di Menara Eiffel, Pere La Chaise, Champ Ellyse dan Museum Louvre yang megah itu.

Tanpa teman bicara, saya berdialog dengan diri sendiri, bertanya-tanya: mengapa Jim Morisson dimakamkan di Paris? Dimanakah kira-kira Audrey Tatou tinggal? Dan sesekali, saya senandungkan dalam hati lagu “Champ Ellyse” yang pernah dicover NOFX. Karena tidak punya uang untuk berbelanja, mata saya memang “terpaksa” saya gunakan hanya untuk memotret.

Memotret menara Eiffel, saya teringat pada Monas di Jakarta. Eiffel memang pada akhirnya sekadar jadi simbol, sama seperti Monas melambangkan Jakarat di kartu pos. Sejarah menara Eiffel sudah tidak lagi menarik, karena kita akan disibukkan dengan membeli gantungan kunci dan memotret diri sendiri dengan backgound menara Eiffel dalam berbagai gaya. Seperti itulah yang akan terjadi ketika kita memperlakukan menara ini sebagai sebuah objek wisata. Kedigdayaan Eiffel ini justru mereduksi makna sebenarnya dan menciptakan mitos atas Eiffel. Ah lagi-lagi saya sotoy. Tapi inilah yang saya rasakan, ketika sampai di rumah dan menyadari bahwa saya tidak betul-betul tahu tentang menara Eiffel karena saya terlalu sibuk berfoto disana :)

Hal yang sama saya rasakan di Pere LaChaise, sebuah kompleks makam yang sangat luas, tempat dimana jenazah-jenazah orang terkenal dimakamkan. Sebut saja, Blaise Pascal, Jim Morisson, Oscar Wilde, Piere Bordieu, Chopin, Isadora Duncan, Modligiani…..Terlalu banyak sampai anda harus memilih makam siapa saja yang ingin anda lihat. Tentu saja semua orang akan mengarah pada makam Jim Morisson yang terkenal itu. Saya bahkan bukan penggemar The Doors, tapi mitos itu muncul kembali, kalau ke Paris, ya harus lihat makam vokalisnya The Doors. Setelah berputar-putar di area makam untuk mencari makam Mas Morrison, tidak banyak perasaan yang muncul. Disana semua orang memotret makam Jim yang dibatasi pagar setinggi perut. Curi-curi dengar dari seorang turis bule yang berbahasa Inggris, sebelumnya di makam itu ada patung torso Jim yang ternyata dicuri oleh penggemar beratnya. Sejak saat itu, makam Jim dipasangi pagar.

Melihat makam-makam lain di Pere Lachaise, makam Oscar Wilde misalnya, saya tidak menemukan alasan yang tepat untuk keirasionalitasan Barat, yang tadinya saya pikir sangat atau terlalu rasional (tentu, tentu ini stereotipe). Makam Oscar Wilde adalah sebuah makam besar yang bentuknya seperti menhir yang kalau tidak salah, dirancang olh seorang pematung hebat, yang tentu saja saya lupa namanya. Di makam yang tidak dipagari layaknya makam Jim Morrison ini terdapat banyak bekas kecupan bibir menggunakan lipstik dan coretan-coretan seperti “Gita was here”, misalnya. Tampaknya penyair romantis ini memang memiliki banyak penggemar fanatik yang menjadikan makamnya sebagai tempat pemujaan. Disinilah kembali proses pemitosan terjadi lagi. Setidaknya bagi yang berkunjung ke Pere Lachaise akan merasa bahwa mencium makam Oscar Wilde, walaupun tidak pernah membaca satupun karya sastrawan ini, adalah sesuatu yang wajib dilakukan, sebagai tanda bahwa “saya pernah berada disana”

makam jim morrison
makam Jim Morrison
makam Oscar Wilde dengan keupan-kecupan para penggemarnya
makam Oscar Wilde dengan kecupan-kecupan para penggemarnya

Tapi toh, saya sebagai turis biasa yang belum khatam baca Mitos-Mitos Kebudayaannya Barthes, akhirnya ikut mengamini saja mitos-mitos tersebut. Menara Eiffel atau Makam Pere Lachaise memang hanya saya maknai sebagai objek wisata yang cuma perlu difoto; biar orang-orang pada tau (pake sirik lebih bagus malah), bahwa saya pernah ke Paris! :P

Advertisements

2 Comments on “Mitos-Mitos Turis Paris”

  1. ical dsmtn says:

    yang makam oscar wilde keren deh, kaya dimesir mesir gitu patungnya.

    eh git blog lo gw link ya diblog gw

    • brigitta isabella says:

      oke ical disemutin yang manis hihi
      btw patungnya tuh diciumin sampe nge cap pake lipstik. niat banget deh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s