menulis

Tentu saja, ini sudah saya perkirakan. Kelakuan saya yang “anget-anget tai ayam” akan membuat blog ini terbelangkai. Di bulan-bulan awal saya senang sekali menulis, rasanya senang sekali melihat laman blog sendiri terisi oleh kata-kata, yang entah dibaca orang atau tidak. Yang penting, rasanya saya sudah menghasilkan sesuatu, setidaknya untuk diri sendiri. Lambat laun, toh kebiaaan itu akan terkikis dengan berbagai macam alasan. Sibuk, malas, lupa, gak ada ide, gak punya laptop, gak ada koneksi internet…. Semua alasan yang saya paksa untuk dapat saya terima.

Tapi, sebetulnya ada satu alasan lain yang membuat saya tersiksa. Saat ini saya sedang mengikuti kelas menulis “AKSARA” yang diadakan oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Tentu saja, saya belajar banyak tentang menulis, gurunya hebat-hebat. Ada budayawan, sastrawan dan peneliti handal. Tapi, saking pintarnya mereka, saya dibuat kagum dan sedikit stress. Saya malu sama tulisan saya yang berantakan, yang tidak berlandaskan teori, yang tidak berargumen dan bisa dipertangungjawabkan. Dalam sebuah presentasi tulisan, saya harus mengakui bahwa tulisan saya masih sangat lemah untuk dapat dipertanggungjawabkan. Goal kelas ini memang untuk menghasilkan tulisan yang ilmiah. Dan saya masih sangat lemah disitu. membuat pertanyaan penelitian saja saya harus jungkir balik. Tatanan berpikir saya dipertanyakan kembali, saya diajak untuk lebih kritis, dan itu sulit. Saya belum sepintar itu :)

Hal inilah yang membuat saya agak ragu untuk menulis. Saya ingin membuat tulisan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan tulisan yang asal  caplok sana sini, seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya. Harus saya akui, saya agak malu melihat betapa sok pintarnya saya dulu. Tulisan saya penuh klaim, stereotiping dan pembenaran-pembenaran tanpa landasan. Membaca 2 lembar pemikiran Karl Marx dari internet, saya sudah merasa benar-benar tahu apa itu kapitalisme. Ternyata saya banyak ketinggalan dengan teman-teman saya yang lain. Mereka rajin membaca, dan saya asik main facebook. Saya baru sadar bahwa sejak masuk kuliah justru semakin sedikit buku yang saya baca. Bagaimana saya mau menulis kalau membaca saja jarang? Saya harus mengisi penuh amunisi sebelum saya berani menembak musuh.

Oleh karena itu, untuk blog ku tersayang, sabarlah sampai aku selesai belajar :)

Advertisements

One Comment on “menulis”

  1. akid says:

    siipp..
    semangat!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s