agama dan kawan-kawan

Agama, tadinya saya pikir adalah sebuah isu yang sensitif untuk dibicarakan di luar negri (baca: Barat). Sejak sebelum keberangkatan saya ke Jerman, sudah banyak teman yang mengingatkan perihal cara bergaul yang “baik dan benar” di negeri orang. Mereka sudah mewanti-wanti saya untuk tidak sembarangan tanya-tanya masalah usia, orientasi seksual, status pernikahan, apalagi agama. Akhirnya, setiap mengobrol dengan orang-orang bule, saya selalu menjaga mulut dan pikiran saya dari rasa ingin tahu berlebih ala ibu-ibu arisan itu.

Tapi, tidak saya sangka bahwa setidaknya ada dua orang yang menanyakan apa agama saya secara blak-blakan. Usut punya usut, rasa ingin tahu mereka muncul dari kebingungan mereka melihat teman-teman saya yang muslim begitu taat beribadah, tidak minum alkohol dan tidak makan babi. Mereka merasa aneh, melihat teman saya yang rela bangun subuh untuk menjalankan sholat–sesuatu yang mereka anggap sebagai sekedar sebuah gerakan aerobik. Mereka juga agak takjub, begitu mengetahui betapa teguhnya iman teman saya yang menolak minum alkohol untuk sekedar menghangatkan diri atau merasakan asin-asin gurihnya daging babi.

Pertanyaan, “Apa agamamu?” sering sekali ditujukan pada saya, karena tadinya mereka pikir saya ini Islam yang mangkir karena makan babi dan minum bir. Kesalahpahaman ini–karena saya sebenarnya adalah seorang katolik (yang sebenarnya juga tidak taat), membawa saya dan bule-bule bingung tadi pada percakapan yang memperkaya perspektif saya terhadap agama dan spiritualitas.

Setelah saya menjawab pertanyaan, “Apa agamamu?” dengan jawaban,’Katolik,” maka teman bule saya itu menghela napas dan berkata, “My religion is…nothing.” Lantas, mulailah dia curhat tentang ketidakpercayaannya pada agama. Menurutnya, agama sudah tidak dibutuhkan lagi. Dulu, mungkin kita masih butuh agama karena belum adanya suatu pedoman baik dan buruk dalam hidup bermasyarakat, namun seiring waktu berjalan, nilai-nilai itu sudah diakui dan dipahami secara universal. Akhirnya,  agama menjadi tidak lagi relevan. Kita tetap bisa berbuat baik tanpa harus beragama.Sementara orang beragama pun, saat ini, malah bisa berbuat jahat atas nama imannya.

Ucapan teman saya ini bukan barang baru buat saya.  Di kampus saya yang ceritanya kampus filsafat, sudah banyak teman-teman saya yang menganut paham macam si bule ini. Saya juga tahu bahwa “virus” ateisme atau agnotisme memang sudah layak dan sepantasnya tersebar di Barat yang katanya, rasional.

Pertarungan Barat dan Timur, antara spiritualisme dan rasionalisme, memang tidak akan ada habisnya jika keduanya terus-menerus saling mencari kelemahan. Dalam urusan agama, teman bule saya memandang bahwa alangkah bodohnya jika kita harus menjalankan sholat 5 kali sehari, menahan diri tidak minum alkohol bahkan di cuaca dingin atau tidak makan babi padahal rasanya enak. Apakah dengan menjalankan aturan ini kita pasti akan masuk surga? Memangnya surga itu ada dimana? Teman saya, tiba-tiba mencetuskan sebuah kalimat yang akan membuat FPI meletuskan kepalanya, “Jangan-jangan Tuhanmu itu babi ya, makanya dia melarangmu makan babi. Dan jangan-jangan dia begitu menyukai bir, sampai-sampai dia melarang kalian minum bir agar persediaan bir tidak akan habis.”

Dia juga kemudian menambahkan bahwa Tuhannya, dan mungkin Tuhan kebanyakan orang Jerman adalah bir. Mengapa begitu? Jika tiba-tiba semua orang Jerman menjadi Islam dan berhenti minum bir, maka niscaya roda perekonomian Jerman akan sedikit tersendat. Pasalnya, bangsa yang terkenal gemar mengkonsumsi bir adalah Jerman. Bayangkan saja, di sana ada 6.000 lebih merk bir dan 1.200 pabrik pembuatnya. Belum lagi bir-bir buatan industri rumahan dalam skala kecil. Konsumsi bir di sana pada tahun 2005 rata-rata 111,6 liter per kepala, atau setara dengan 82 juta warga Jerman minum 0,31 liter bir setiap harinya. Mungkin konsumsi bir di Jerman sana sama halnya dengan konsumsi air putih bagi orang Indonesia. Terdengar rasional sekali jika teman saya akhirnya menjadikan bir sebagai Tuhannya.

Rasionalitas itu, saya pikir muncul karena kesejahteraan yang sudah merata di Jerman. Semua orang bisa hidup dengan nyaman bahkan jika hanya bekerja sebagai seorang pelayan kafe. Bahkan, sebetulnya gaji seorang pelayan kafe dengan seorang manajer perusahaan tidaklah berbeda jauh karena aturan pajak yang sangat tinggi disana. Akhirnya, orang-orang memilih pekerjaan bukan karena besar gajinya tapi karena apa yang ia sukai. Kemapanan dan kesejahteraan secara ekonomi membuat mereka tidak lagi membutuhkan sosok Tuhan sebagai tempat berdoa dan mengeluh akan kesulitan-kesulitan hidupnya. Mereka lebih percaya pada kekuatan dirinya sendiri dibanding kekuatan Tuhan yang tak tampak. Apa yang tak terlihat, buat mereka tak ada. Ini juga yang menyebabkan gereja-gereja disana tampak sepi dari pengunjung dan malah jadi sekedar tempat wisata.

Sementara, seperti kita semua tahu, kehidupan di Indonesia tidaklah semudah itu. Tidak perlulah saya menyampaikan data-data United Nations tentang berapa persen rakyat Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Bisa jadi, sekali lagi saya katakan–bisa jadi, taraf hidup yang masih sangat rendah ini menjadikan agama sebagai pelarian yang paling ampuh bagi jiwa-jiwa yang dilanda kemelaratan. Benih-benih spiritual macam ilmu perdukunan juga berkembang pesat, infotaiment dipenuhi ramalan-ramalan paranormal gaek tentang kehidupan artis, pohon masangin di Jogja selalu ramai tiap malam minggu, dan kita, sesekali masih sering ketakutan dengan pocong atau popok wewe jika sedang  jalan sendirian. Apakah ini salah? Apakah kelakuan kita ini berarti kita lebih inferior dari bangsa Barat yang rasional? Tidak juga, saya kira.

Setelah teman bule saya asik membangga-banggakan rasionalitasnya, saya mencoba menceritakan beberapa pandangan saya kepadanya. Dan dalam percakapan kali ini, saya lebih banyak sok tahu daripada benar-benar tahu. Tapi, tak apalah sekali-kali membodohi bule :) Saya ceritakan bahwa pendapatnya tentang keiirasionalitasan teman-teman saya saat sholat sebenarnya sebuah masalah lama, khususnya dalam wacana filsafat. Sejak Descrates menjadi pelopor rasionalisme dengan “cogito ergo sum”-nya, Barat memang lebih cenderung menggunakan akal daripada perasaannya. Memang, tidak semua filsuf Barat modern adalah seorang rasionalis. Ada Kant dan saat yang meperkenalkan idealisme dan menunjukkan bahwa rasio pun memiliki batas-batasnya.

Tapi, ideologi rasionalisme ternyata lebih berkembang seiring munculnya positivisme dan materialisme belakangan. Buktinya, ada teman bule saya yang asyik mencemooh hobi sholat teman-teman saya. Walau begitu, kalau saya perhatikan, sebetulnya Barat mulai merasakan kekeringan dan kehampaan dalam rasionalitasnya. Mereka mulai melirik filsafat Timur yang lebih mementingkan spiritualitas. Mereka mulai sadar kalau sebenarnya modernisme hanya menjadikan mereka sebagai robot-robot industri yang tidak memiliki perasaan. Teknologi yang berkembang pesat memang telah mempermudah hidup manusia tapi tidak lantas membuat mereka jadi mahluk yang berbahagia.

Oleh karena itu, saya katakan teman bule saya untuk tidak terlalu bangga dengan rasionalitasnya. Ideologi Timur dan Barat yang nampaknya selalu bertentangan sebetulnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita harus saling menghargai, klise ya? :)

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s