paris bawah tanah

Paris, sebagaimana halnya yang biasa kita lihat di film-film adalah sebuah kota yang sangat indah, dengan ikon menara eiffel yang megah dan cupid-cupid berterbangan diantara pasangan-pasangan mesra. Ah, Paris , sudah berapa banyak puisi cinta yang terinsipirasi dari suasana kota ini?

Citra Paris yang biasa saya bayangkan itu ternyata harus agak buyar ketika hidup saya yang selalu penuh kejutan mengantarkan saya ke kota ini. Dari Den Haag, berangkatlah saya ke Paris menaiki kereta Thalys, yang konon katanya kereta paling wahid se-Eropa. Sayangnya, di stasiun kereta Den Haag, saya harus menerima kenyataan bahwa untuk naik kereta wahid tersebut, saya harus melakukan reservasi sebelumnya. Apalagi saat itu sedang libur panjang sehingga tidak adalah tempat untuk orang ndeso macam saya ini di kereta kencana tersebut. Walhasil saya harus naik trem ke Delf, lanjut naik bis ke Antwerpen, lalu baru saya bisa numpang ke Paris naik kereta Thalys. Perjalanan yang seharusnya bisa direct Den Haag-Paris (kalau reservasi) selama 4 jam, saya tempuh selama kurang lebih 6 jam. Harap diingat, waktu itu saya membawa carrier yang super berat (apalagi untuk gadis kurus macam saya yang tidak punya pengalaman jadi mapala). Jadi, dari awal keberangkatan saya saja semuanya sudah serba “disulitkan”. Walau begitu, bayangan keindahan Paris masih sesekali mampir ditengah dengusan nafas saya yang hampir habis menggendong carrier.

Sampai di stasiun Paris Nord, belum ada yang betul-betul spesial atau membuat saya tergugah atau terpana. Stasiun di Frankfurt masih lebih “wah” daripada Paris Nord. Disana, bertemulah saya dengan kedua teman perjalanan saya yang sudah lebih dulu sehari di Paris dan sayangnya, malam itu juga mereka harus pulang ke Frankfurt untuk naik pesawat ke Jakarta. Maka, belum sempat keluar dari stasiun Paris Nord untuk menghirup “udara Paris” saya segera digiring mereka untuk membeli tiket metro (kereta underground super cepatnya Paris) untuk menuju ke terminal bis. Kenapa mereka tidak naik kereta? Karena mereka belum reservasi dan tiket kereta Paris-Frankfurt sudah habis tentunya :)

Setelah membeli tiket metro seharga sekitar 9 euro untuk seharian keliling Paris, saya terperangah memasuki stasiun bawah tanah Paris yang gelap, ramai dan bau pesing. Ya, bau pesing, bau yang biasa saya hirup di pojokan jalan-jalan di Jakarta–bau yang tidak saya sangka-sangka akan ada di Paris si kota cinta itu. Di tangga-tangga stasiun, saya juga melihat gelandangan yang asik tidur dengan sleeping bag di pojokan. Sekali lagi, pemandangan yang tidak saya sangka akan saya lihat di Paris. Berpikirlah saya, inikah Paris? Atau jangan-jangan saya salah turun stasiun?

Setelah sebelumnya terkagum-kagum dengan kebersihan dan kedisplinan di Jerman, saya tentu boleh kaget dengan pengalaman pertama saya di Paris. Apalagi sebelumnya saya hanya dibekali film macam “2 days in Paris” atau “Paris, I Love You” yang mengumbar pesona keindahan kota Paris. Berpikirlah saya, bahwa Paris bawah tanah adalah “sisi gelap” dari citraan Paris yang indah yang dibangun oleh film-film romantis yang biasa dikonsumsi remaja tanggung macam saya. Di dalam metro, iseng-iseng saya sok-sok menghubungkannya dengan keadaan kota Jakarta.

Kota Jakarta di sinetron-sinetron yang menjamur di televisi kita menggambarkan citra modernitas kaum urban. Gedung-gedung tinggi, mobil-mobil mewah, rumah megah di Pondok indah, laki-laki berdasi dan perempuan bersepatu tinggi, semuanya adalah citraan tentang Jakarta sebagai kota Megapolitan. Maka berbondong-bondonglah bujang dan upik dari desa dengan segenggam penuh harapan akan kota yang menjanjikan kebahagiaan itu. Persis seperti saya yang bermimpi-mimpi ke Paris untuk berpose di menara Eiffel. Tapi sesampainya di Jakarta, saudara-saudara kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ternyata Jakarta di layar televisi ternyata jauh berbeda dengan kenyataannya. Jakarta hanyalah sebuah kota penuh polusi (dan ilusi) dengan sekeranjang masalah transportasi yang menyebabkan suara-suara klakson mobil dan motor berkumandang saling beradu, mengalahkan suara desir angin atau kicauan burung. Jangan lupa preman, copet, pengemis dan gelandangan yang juga berkoar-koar meminta “hak”nya.

Begitupula impresi pertama saya terhadap Paris, tidak seindah di film-film. Sesampainya di Paris, pertama-tama saya harus puas bergumul dengan lorong-lorong gelap, kumuh dan bau stasiun metro. Walau demikian, harus saya akui ditengah kotor dan lusuhnya stasiun metro di Paris, mereka tetap memiliki sistem transportasi yang baik. Setidaknya, saya yakin tidak akan tersesat di Paris karena sistem transportasinya sangat mudah dan setiap 5 menit akan selalu ada kereta yang lewat. Tentu berbeda dengan busway di Jakarta yang armadanya masih sedikit sehingga setiap orang harus berjubel-jubel menunggu di halte.

Singkat cerita, setelah menemani teman saya ke terminal bis di Paris, saya berangkat menuju stasiun Trocadero, stasiun terdekat menuju menara Eiffel. Setelah sempat sedikit kecewa dengan bau pesing yang saya hirup di bawah tanah, akhirnya saya memang terpesona dengan keindahan menara Eiffel yang berdiri kokoh di tengah Paris, membuat orang ndeso macam saya berteriak kegirangan dengan norak. Tapi saya tidak peduli, dan kali ini, saya menemukan Paris seperti di film-film.

Advertisements

2 Comments on “paris bawah tanah”

  1. Adi Renaldi says:

    lebih oke kalo dipajang juga foto2 nya git…:P

  2. brigitta isabella says:

    iyaa belom ditransfer fotonya ke komputer :p hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s