antara aku, lantai dan bayanganku

Lantai itu tersusun dari bentuk-bentuk kotak berukuran sekitar 15×15 cm. Ada garis lurus yang saling membatasi satu sama lain. Jumlahnya banyak, aku enggan juga menghitungnya, walaupun menyalahi aturan “hindari kata sifat”. Warna lantai itu putih, walau tentu tak seputih susu. Warnan putihnya sudah agak kusam, ada debu yang terlanjur menempel disiitu. Tampaknya memang akan cukup sulit untuk membersihkan bercak yang keburu mesra dengan sang lantai. Ada juga lantai yang sudah retak. Mungkin karena gempa dulu, pikirku. Atau bisa juga karena memang lantai tersebut sudah tak kuat diinjak-injak. Padahal memang demikianlah kodratnya lantai.

Lantai itu sekarang licin, ada titik-titik air cipratan dari tempias karena habis hujan. Ada bekas tapak sepatu yang masih basah. Campuran air hujan dan remah-remah tanah mewarnai jejak-jejak sepatu basah di lantai itu berwarna kecoklatan. Ada puntung rokok dibuang sembarangan, abunya juga tersebar di penjuru lantai yang telah menjadi sebuah asbak besar. Ada kuncup bunga yang sudah mengering, paling-paling seukuran kancing baju. Tampaknya ia tersesat terbawa angin sehabis hujan tadi. Semut-semut berseliweran. Lari-lari tak teratur, tak habis pikir aku apa yang mereka pikirkan. Lubang-lubang retakan lantai itu mereka jadikan rumah. Kubangan air mereka jadikan kolam renang atau mungkin posko latihan siaga banjir.

Cahaya lampu dari dalam ruangan menerobos jendela,. Ada bayangan pintu, bayangan jendela dan bayangan orang-orang di dalam. Mereka tampak seperti lukisan, lantai sebagai kanvas dan lampu sebagai tinta. Aku lihat juga bayanganku yang sedang menulis. Pulpenku bergerak-gerak tak karuan, mungkin semut-semut bertanya-tanya apa yang sedang aku pikirkan. Tak sengaja, seseorang lewat, menginjak bayanganku. Aku diam saja, apakah bayanganku merasa kesakitan?

Advertisements

2 Comments on “antara aku, lantai dan bayanganku”

  1. renny says:

    Lagi-lagi tulisan bagus :)
    *four thumbs up!*

  2. lintang says:

    deskripsi tempat yang sangat bagus sampai-sampai tempat itu kayak punya nyawa…mungkin karena pengalaman intensional dengan “si asbak besar itu”…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s