Resensi buku : Chicken with Plums

chickengif

Judul buku : Chicken with Plums

Pengarang : Marjane Satrapi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ke : 1, Agustus 2008

Jumlah halaman : 88 halaman

Nama Marjane Satrapi tentu sudah tak asing bagi pembaca Indonesia yang telah akrab dengan komik-komiknya yang terdahulu, yakni “Persepolis” dan “Bordir”. Komik-komik Satrapi sebelumnya bercerita seputar kehidupan perempuan Iran menyangkut wacana politik, seks dan gender yang digambarkan dengan sederhana namun cerdas. Dalam bahasa yang tampak lugu dan gambar hitam putih yang sangat sederhana, Satrapi menceritakan kisah-kisahnya secara personal, membuat pembaca merasa dekat dan mudah memahami peristiwa demi peristiwa. Ceritanya mengenai perempuan Iran yang “membordir” vaginanya agar seperti perawan lagi untuk menipu para laki-laki atau kisah masa kecilnya yang sembunyi-sembunyi mendengarkan kaset Iron Maiden menyingkap secara gamblang kehidupan sosial para perempuan di Iran.

Dalam Chicken With Plums, Satrapi mengangkat kisah hidup pamannya, Nasser Ali, yang merupakan seorang pemain tar ternama di Iran. Nasser Ali memutuskan untuk mati terbaring di kasur, menunggu malaikat pencabut nyawa menjemputnya karena ia telah mengalami puncak kesedihan dalam hidupnya ketika tar kesayangannya dipatahkan oleh istrinya sendiri. Di halaman-halaman berikutnya, tersingkaplah bahwa keputusan Nasser Ali untuk bunuh diri tidak sekedar hanya karena tar-nya patah. Hal tersebut hanya merupakan puncak dari gunung es tragedi yang menimpa hidupnya. Nasser Ali akhirnya meninggal di kamarnya setelah 8 hari mengurung diri tanpa makan dan minum. Satrapi menggunakan plot campuran maju mundur untuk menceritakan kembali keseluruhan kisah hidup Nasser Ali. Selama 8 hari, kisah masa lalu Nasser Ali saling sengkarut bermunculan di benaknya.

Sejak kecil, Nasser Ali merasa dipojokkan karena adiknya yang lebih pintar dan disayang guru maupun ibunya sendiri. Beranjak dewasa, kisah cinta Nasser Ali yang gagal akhirnya menjadi titik sentral kesedihan hidupnya. Karena pilihannya untuk menjadi seorang pemusik, orang tua gadis yang ia cintai menolak ketika Nasser Ali berniat melamar gadis impiannya. Di tengah rasa patah hatinya, muncullah gadis lain yang kemudian menjadi istri Nasser Ali karena dijodohkan oleh ibunya. Pernikahan yang memang tidak didasari rasa cinta akhirnya menjadi berantakan. Walaupun sudah memiliki tiga anak buah pernikahan mereka, setiap hari Nasser Ali selalu bertengkar dengan istrinya yang akhirnya memuncak saat istrinya mematahkan tar kesayangannya. Pada hari ketiga mogok makannya, sang istri mencoba memperbaiki keadaan dengan memasakkan makanan kesukaan Nasser Ali, yaitu ayam dengan buah plum. Namun, perasaan sedih, benci dan putus asa yang telah lama terpendam tak dapat tertahankan lagi sehingga dengan kasar Nasser Ali menolak makan favoritnya itu. Pada titik itulah ia menyadari bahwa pernikahannya adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupnya.

Tema yang kali ini diangkat Satrapi dalam komiknya memang sedikit berbeda dengan komik-komik sebelumnya. Masalah esensi kehidupan dan kematian kembali dipertanyakan disini. Masihkah pantas hidup yang sudah tanpa gairah dipertahankan? Apakah pilihan untuk bunuh diri sejatinya adalah sebuah pilihan yang bermartabat terhadap penghargaan atas hidup itu sendiri? Terperciklah sabda penyair Khayyam bahwa, “Hidup tak sekedar bernafas”.

Tema besar yang dikisahkan dalam narasi kecil kehidupan seorang Nasser Ali, seperti biasa digambarkan dengan lugas, sederhana dan humoris khas Satrapi. Yang menarik adalah, dalam setiap komik-komiknya Satrapi tampak selalu bereksperimen dengan cara menggambar panel-panel komik. Dalam “Persepolis” Satrapi menggambar panel komik dengan tertib layaknya komik strip pada umumnya. Gambar-gambar secara berurut dan teratur terlukis dalam panel kotak. Sementara dalam “Bordir”, kata-kata tampaknya lebih dominan daripada gambar. Gambar-gambar di “Bordir” kebanyakan berukuran setengah atau satu halaman tanpa dibatasi panel yang teratur dan pola yang jelas. Plot yang maju mundur dalam “Bordir”, menunjukkan kedinamisan percakapan “ringan” di sela-sela minum teh keluarganya. Sementara, dalam “Chicken with Plums”, Satrapi menggabungkan dua formula dalam komik-komik sebelumnya. Panel komik yang teratur seperti “Persepolis” kerap diselingi oleh gambar-gambar besar yang tidak terbatasi oleh garis panel. Kebebasan dalam menggambar ini seolah berbanding lurus dengan tema-tema “pinggiran” yang selalu diangkat oleh Satrapi.

Komik masih sering dianggap sebagai media pinggiran kini mulai menunjukkan kemampuan ajaibnya yang mampu menyentuh semua kalangan dalam menyampaikan pesan. Komik-komik bertema “berat” seringkali disebut sebagai novel grafis untuk menunjukkan levelnya yang dianggap lebih bermutu dibanding komik-komik superhero. Hal ini disebabkan karena konotasi negatif yang terlanjur melekat pada komik. Membaca komik-komik Satrapi bisa jadi sama bermanfaatnya seperti membaca karya-karya sastra yang berisikan kata-kata sok sulit.

Advertisements

3 Comments on “Resensi buku : Chicken with Plums”

  1. renny says:

    Belum baca karya satrapi yg ini.
    Thanks for the review.

  2. arya says:

    sudah terlihat menarik dari reviewnya.
    secepatnya membaca karya tersebut.

  3. Jamal Kutubi says:

    aku baru baca novel grafik ini mbak, sumpah keren banget!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s