facebook! facebook! facebook!

Oke, sebelumnya jangan keburu sinis dengan saya yang biasanya selalu (cuma bisa) mengomentari kelakuan-kelakuan orang di tulisan-tulisan saya yang sebelumnya. Hei, saya juga pengguna facebook kok. Dan saya akui, setiap hari saya mengecek apakah ada yang meng-add saya, komentar-komentar terbaru di foto-foto saya, atau adakah yang menulis di wall saya. Tidak aneh. Hampir semua orang melakukannya. Bahkan adik saya yang masih kelas 5 SD sudah punya facebook. Justru menjadi aneh jika kita tidak punya facebook, seolah-olah gak gaul dan akhirnya pasti nggak ngerti ada gosip terbaru apa.

Menarik juga memerhatikan kelakuan para pengguna facebook yang lain a.k.a teman-teman saya sendiri. Facebook memang mengutamakan konsep “share”, artinya semua informasi terbaru, statusnya, foto terbarunya, wall updates dan lain-lainnya, pasti akan selalu saya ketahui. Semua informasi teman-teman saya selalu terupdate dengan tepat di halaman home facebook. Demam situs jejaring teman online ini bukan baru kali ini saja booming di Indonesia, tahun 2004 ada friendster yang membuat hampir semua anak tergila-gila dengan layar komputer. Namun, kepopuleran friendster tergeser oleh facebook yang mulai eksis di Indonesia sejak tahun 2007. Facebook memang memiliki banyak kelebihan daripada friendster. Kita bisa nge-tag foto, mengomentarinya ramai-ramai, iseng-iseng mengisi kuis-kuis dari yang konyol sampai sok serius, menulis notes untuk disharing dengan teman-teman atau sekedar memberitakan kepada “dunia” tentang apa yang sedang kita lakukan saat ini dalam status facebook kita.

Kegiatan-kegiatan yang seharusnya (saya anggap) sebagai pengisi waktu luang inilah, ternyata bagi sebagian orang menjadi sebuah kegiatan pokok . Ada survey yang mengatakan bahwa dalam satu hari, seidaknya pengguna facebook yang bekerja kantoran (yang saya asumsikan cukup sibuk) yang online 24 jam mengganti status facebooknya sebanyak 5 kali. Hal ini tidak aneh jika anda misalnya, mengakses facebook dari Blackberry yang selalu anda genggam. Setiap gerakan yang anda lakukan bahkan selalu bisa anda update di facebook.

Kadang saya suka tersenyum sendiri membaca status teman-teman saya. Coba simak beberapa diantaranya, saya sertakan profesi atau karakter orang tersebut, agar jelas dapat kita baca bahwa status selalu terkai dengan kepribadian seseorang:

Sabir Sikumbang TURUT BERDUKA CITA YANG SEDALAM-DALAMNYA ATAS BENCANA SITU GINTUNG (oleh tangan manusia) YANG MENIMPA SAUDARA-SAUDARA KITA DI CIRENDE BANTEN (alumni filsafat, dosen pancasila)

Suluh Pamuji saya sedang memikirkan beberapa fiksi dan beberapa fakta yang jadi satu di dalam kepala saya.(mahasiswa filsafat, penggemar sastra)

Estu Galih Nur Pratiwi : lost and insecure .. hope you’ll find me.. (tuh kan berharap lagi.. udah ah..)  (teman yang imut dan bawel)

Sandy Agusta Jatmiko mmmh .. ada apaa yaaa .. .(orang yang tidak begitu saya kenal, tapi pasti lagi bosan dan mati gaya)

Keempat contoh diatas menunjukkan orang-orang yang menggunakan fungsi status facebook secara berbeda-beda. Begini pembacaan saya (maaf kalau agak ngawur :)

Sabir selain berusaha menunjukkan kepedulian sosial dan solidaritasnya mungkin juga sedang ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang kritis dan berwawasan luas karena selalu meng-update berita terkini. Suluh, seorang teman yang hobinya baca sastra, saya pikir hanya sedang bermain kata-kata agar yang membaca statusnya agak mengagumi pergulatannya dengan tugas-tugas kuliah. Sementara Estu, mungkin sedang patah hati, jatuh cinta, atau apalah yang berhubungan dengan perasaan dengan harapan orang yang ia maksud membacanya, bisa juga sekedar sebuah curhat colongan kepada teman-temannya yang mungkin akan komentar usil. Yang terakhir status Sandy, adalah status paling umum yang bernada mati gaya dan bingung mau ngapain, sebuah status yang paling sering saya lihat di status teman-teman yang lain.

Sekali lagi harap diingat, bahwa pembacaan ini adalah pembacaan ngawur cap Brigitta Isabella, jadi harap maklum kalau misalnya meleset :) Oh ya, mengenai status facebook saya sendiri, saya  tidak begitu sering mengganti status facebook saya. Biasanya status saya menyangkut bagaimana mood saya saat itu, senang, marah, bingung, atau sedih. Jika saya tidak ingin menyampaikan bagaiman aperasaan saya pada orang lain di facebook (karena sering kali saya merasa itu tidak penting), maka saya akan membuat status saya menjadi sesuatu yang sekedar konyol dan gak penting. Misalnya : Brigitta Isabella menggunting kuku. Brigitta Isabella makan telor ceplok, dan mungkin hal-hal lain yang hanya sekedar guyonan ambil lalu. Walau begitu, saya sadari bahwa saya pun tetap ingin mendapat perhatian dari seseorang di luar sana. Teman dekat ataupun tidak dekat, saya akan sangat senang jika ada yang mengomentari status saya. Saya pikir gejala ingin dipehatikan adalah sebuah gejala yang tidak asing bagi para peselancar di dunia maya. Terlalu asik bercinta dengan komputer atau Blackberry membuat hubungan sosial kita menjadi tidak berkualitas dan sebetulnya kita dalah orang-orang terasing yang mencari eksistensi di “dunia lain”.

Bukan hanya fitur status update yang menunjukkan gejala ini. Fitur kuis-kuis yang ada di facebook juga menunjukkan krisis eksistensial yang sedang kita alami.Dengan mengisi kuis-kuis yang mencoba mendefinisikan siapa diri kita, seperti misalnya: How silly are you?, Who are you in school? ,Seberapa jawa-kah kamu? dan beribu kuis-kuis lain yang bisa kita temukan di situs ini sebetulnya menunjukkan krisis identitas si pengisi yang entah sedang mencari siapa dirinya atau sekedar mendapat pembenaran dari kuis-kuis yang tidak terjamin akurat! Dalam hal ini saya memang agak sinis, karena saya pribadi enggan untuk mengisi kuis-kuis yang saya anggap pembodohan ini. betul-betul khas orang iseng atau kurang kerjaan.

Kekurangkerjaan ini sebetulnya saya anggap tidak beralasan. Internet adalah sarana yang mampu memberi kita ribuan informasi yang jika kita manfaatkan dengan benar bisa membuat kita menjadi orang yang sangat cerdas (saya kenal beberapa orang yang main internet melulu, dan pengetahuannya memang luar biasa luas). Fenomena facebook yang mulai digunakan secara tidak sehat dan berlebihan adalah suatu bentuk kegagapan kita dalam menyikapi suatu teknologi. Jika kita bisa menggunakan internet dengan baik dan tidak sekedar main facebook semata, saya yakin tidak akan ada status yang isinya sekedar “bosen, gak tau mau ngapain” dan akhirnya hanya berujung pada mengisi kuis-kuis gak penting.

Advertisements

One Comment on “facebook! facebook! facebook!”

  1. renny says:

    Another great article!
    Facebook memang telah menjadi display untuk memamerkan diri kita. Display yg mengandung ekstrak candu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s