potensi komik dalam menyampaikan pesan

i 5178_085

Penggalan gambar diatas saya ambil dari komik berjudul : “Men of Peace?”, seri komik yang dibuat oleh Jack Chick dan dipublikasikan oleh Chick Publications sejak 40 tahun yang lalu. Badan penerbitan ini berpusat di Amerika dengan berlandaskan agama katolik evangelisme dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa di dunia.  Penggalan ini saya tampilkan di blog tidak untuk menyulut kemarahan siapapun. Saya pikir orang yang sudah dewasa akan iman tidak perlu marah secara berlebihan jika agamanya dicela. An eye for an eye makes the world goes blind, begitu kata Mohandas Gandhi. “Pertarungan” antar agama sudah banyak terjadi, dan ini hanyalah salah satu contoh yang tidak berniat memihak agama manapun.

Saya cuma agak terkesima dengan bentuk propaganda agama dalam bentuk komik. Saya tersadar akan betapa dahsyatnya fungsi komik. Komik bagi masyarakat awam masih dipandang sebagai hiburan untuk anak-anak semata. Padahal, komik memiliki kekuatan yang sangat kuat sebagai media penyampai pesan. Gambar dan bahasa yang sederhana membuat pesan yang ingin disampaikan lebih mudah diserap oleh siapa saja dari berbagai usia. Scott McCloud, seorang teoritikus komik ternama, menjelaskan dalam bukunya “Understanding Comics”, tentang mengapa banyak orang menyukai komik. Menurutnya, gambar kartun yang sederhana justru menjadi kekuatan tersendiri dibanding sifat gambar realis yang rumit dan mendetail. Dengan menghilangkan detail tertentu pada sebuah gambar hingga mencapai sesuatu yang hakiki (misalkan gambar wajah mencapai hakikatnya hanya dengan dua titik dan satu garis), maka hal tersebut akan menguatkan makna gambar karena sifatnya menjadi universal. Kita bisa melihat diri kita sendiri dalam gambar kartun.

Komik “Men of Peace?” memuat sebuah narasi besar tentang agama Islam yang terlanjur dicap teroris. Keburukan-keburukan agama ini disederhanakan menjadi komik 22 halaman yang memuat percakapan antara seorang kakek dan cucunya dalam memandang tragedi 9/11. Pola-pola dalam komik Chick ini kebanyakan sama. Biasanya hanya ada dua tokoh di dalamnya. Dan semuanya serba hitam putih. Ada tokoh jahat yang khilaf, dan seorang yang taat akan agamanya menasehati si jahat dengan menyebutkan beberapa ayat kitab suci yang mendukung kemudian membimbing orang tersebut kembali ke jalan Tuhan. Pada akhirnya, si jahat akan bertobat dan di halaman paling belakang komik kecil seukuran kartu kredit yang mereka sebut “traktat” ini ada himbauan agar para pembacanya untuk menyebarkan traktat ini kepada semua orang.

Siapa yang kita lihat saat membaca komik ini? Diri sendiri? Atau jangan-jangan orang yang kita benci?  Jack Chick sendiri sebagai sang komikus mengaku menggambar komik berdasarkan wahyu yang ia dapat dari Tuhan. Mungkin ada yang melihat Tuhan saat membaca komik ini. Setidaknya dalam web chick.com, ada beberapa testimonial yang mengaku tercerahkan imannya dan bertobat setelah membaca komik ini.

Komik memang tidak bisa dianggap sepele. Komik merupakan sebuah media ekspresi bagi para komikus dan mereka sesungguhnya terlibat dalam proses pertumbuhan kebudayaan. Mereka adalah dinamikator-dinamikator yang kalau dilihat dari sejarah dan hasilnya, komik mampu menampung masalah sosial, politik, agama, sejarah dan berbagai aspek lain dalam kebudayaan.

Kelebihan komik dalam menyampaikan pesan dimanfaatkan dengan baik oleh Jack Chick untuk menyampaikan pesan-pesan “moral”nya, terlepas dari benar salahnya pesan tersebut (saya tidak ingin menghakimi iman seseorang karena artinya saya akan sama saja seperti mereka.) Kesederhanaan gambar, alur cerita yang simpel dan pesan yang ditampilkan secara harafiah membuat komik ini sangat mudah dicerna oleh siapa saja. Pesan-pesan, yang baik maupun yang buruk datang membombardir kita melalui berbagai media, terkadanga mengecoh. Oleh sebab itu sangat penting untuk selalu berpikiran terbuka dan tetap kritis, terlebih terhadap apa yang kita percayai dan anggap benar.

Advertisements

4 Comments on “potensi komik dalam menyampaikan pesan”

  1. renny says:

    Saya ingat,
    filsafat dan psikologi merupakan topik yang sukar saya pahami.
    Namun, setelah membaca beberapa komik mengenai 2 topik tersebut, maka sedikit terbuka horizon pemikiran saya :)

    Sayangnya di Indonesia, banyak orang tua menganggap membaca komik sebagai sesuatu yang sia-sia. Yang namanya belajar itu adalah membaca buku tebal, penuh tulisan, dan tanpa gambar.

    • brigitta isabella says:

      hehe gak lah, skrg wacana ttg komik sbg media pembelajaran dan kebudayaan udah lumayan berkembang kok mbak :) buktinya komik2 indonesia mulai dicetak ulang dan makin banyak novel grafis yang diterbitin :) walau gitu stereotip komik tuh cuma bacaan ringan masih ada aja sih..payah hehe

  2. muchtar says:

    Setelah brosur yg dpt mdh kt ambil di rs rs atau apotik dsb skrg komik jd media ampuh untuk promosi & black campain bg mereka.

  3. brigitta isabella says:

    mereka itu siapa? semua agama melakukannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s