blackberry : kita yang dihimpit teknologi

Blackberry sedang mewabah di Indonesia. Setidaknya, saya melihatnya dimana-mana. Senada dengan awalan skripsi-skripsi jaman sekarang: “Di era globalisasi ini”, sepertinya kita memang tidak bisa menghindar dari yang namanya internet. Blackberry, si ponsel serba bisa, hadir dan memberi fasilitas tersebut, cek email, chatting, buka facebook, multiply atau yang lain-lain kini bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Saat ini, sangat sering saya mendengar celetukan para remaja pengguna Blackberry  yang asik memotret dirinya dan teman-temannya di tempat nongkrongnya, sambil cekikikan, “Abis ini langsung upload di facebook yaa, trus di-tag!” Tentu ini adalah sebuah bentuk peng-stereotip-an yang saya bentuk terhadap para pengguna Blackberry atas dasar pengalaman saya yang sempit. Jadi hal ini tidak perlu dijadikan sebuah generalisasi :)

Saya cuma ingin menceritakan pengamatan saya atas pergeseran-pergeseran makna yang terjadi ketika teknologi semakin berkembang dengan begitu pesat. Sekarang semua informasi dan kegiatan berkomunikasi bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Mau ngobrol tinggal chatting via messenger. Mau cari tugas tinggal tanya Yang Maha Tahu ‘tuhan’ Google. Semuanya begitu mudah, begitu cepat. Tapi ternyata hubungan manusia dengan teknologi bukannya tanpa pengorbanan. Relasi antara manusia dan teknologi tidaklah sesederhana mengatakan bahwa teknologi adalah media untuk mempermudah hidup manusia. Memang, hidup kita menjadi lebih mudah, tapi juga berubah.

Pergeseran-pergeseran makna semakin banyak saya temui saat ini. Ponsel Blackberry yang tadinya ditujukan untuk businessman yang memiliki mobilitas tinggi saat ini digunakan oleh kebanyakan anak muda untuk segera mengupload foto-foto terbarunya saat sedang nongkrong-nongkrong. Saya tidak sedang mendiskreditkan mereka yang tidak menggunakan Blackberry sesuai fungsi awalnya, tidak ada yang salah disana. Siapa pula saya sehingga berhak menentukan benar atau salahnya sebuah kebudayaan? Ya, sebuah kebudayaan. Suatu proses pergulatan antara menerima, melawan atau bernegosiasi dalam sebuah wacana. Kelakuan anak-anak muda ini patut kita catat sebagai sebuah budaya yang memang akan terus berubah seiring dengan adanya intervensi teknologi. Saat ini, dalam hal mengonsumsi suatu produk, fungsi bukan lagi hal yang utama, melainkan maknanya. Kita tidak lagi membeli barang karena fungsinya semata, tapi juga maknanya, yakni citraan yang dapat dibentuk oleh suatu benda untuk mengidentifikasi diri kita. Dan hal ini sah saja dalam wacana politk identitas, sebab ketika kita mengonsumsi sebetulnya kita juga tengah memproduksi makna. Konsumen adalah produsen makna.

Walau begitu, terkadang makna tersebut dapat menjadi sangat dangkal dan ilusif jika kita tidak menjalaninya dengan kesadaran. Begini, suatu ketika saya mengobrol dengan seorang teman yang agak anti teknologi. Lalu saya pun berdalih, saya katakan bahwa berkat teknologi internet saya bisa chatting dengan pacar saya yang sedang di Belanda kapan saja dengan murah. Teman saya pun mengatakan, “Apa gunanya mengobrol dengan pacarmu, membicarakan hal-hal yang sekedar lucu dan sambil lalu untuk kemudian akan kamu lupakan?” Saya tertegun. Mencoba mengingat berapa banyak waktu yang telah saya habiskan di depan komputer untuk sekedar chatting “lucu-lucuan” dengan teman yang ternyata sebenarnya tidak terlalu saya kenal dan ternyata memang tidak ada maknanya. Saya sadari kemudahan berkomunikasi ini menjadikan chatting sebagai pengisi waktu luang yang (kadang) tidak sehat. Internet yang bukan lagi barang mewah saat ini ternyata membuat saya melupakan fungsi utama dari teknologi ini. Cokelat paling enak pun jika dimakan terlalu banyak akan membuat mual; sama halnya dengan internet, jika terlalu banyak digunakan bisa membuat kita kehilangan kesadaran.

Dengan Blackberry ditangan, menunggu antrian atau terjebak di jalanan macet bukan lagi hal yang menjemukan. Para penggunanya dapat mengisi waktu dengan chatting, browsing atau buka facebook. Tapi hal tersebut (bisa jadi) sia-sia. Mungkin kita bisa chatting dengan teman yang juga sedang online di internet, tapi kita lantas melupakan tangan peminta-minta yang meratap di balik kaca jendela mobil. Kita mungkin bisa menikmati keindahan kota Paris yang indah di Google, tapi lantas kita lupa akan langit biru diatas kepala kita atau foto-foto caleg yang bertebaran di jalanan. Kita kehilangan jabatan tangan, pelukan hangat atau tatapan mata saat berbicara. Kita asik mengupload foto-foto terbaru dengan teman-teman kita di facebook, mengganti dan mengupdate profile, tanpa pernah benar-benar tahu siapa diri kita sesungguhnya. Kita memang melihat dunia, tapi kita tidak lagi melihat diri sendiri.

Advertisements

2 Comments on “blackberry : kita yang dihimpit teknologi”

  1. renny says:

    Isabella, saya Blackberry user, tapi saya setuju dengan tulisan kamu.
    You RAWK!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s