Upacara Kematian dan Kematian Masyarakat Modern*

*tulisan ini dimuat di Jurnal Mahasiswa Filsafat UGM “KACAMATA” edisi 1, 2008.

Berurusan dengan kata kematian, khususnya dalam wacana filsafat, yang biasanya muncul menjadi topik obrolan seru sembari minum kopi, terasa sangat “mengawang-awang” seperti, kemanakah kita pergi setelah mati? Apakah jiwa tetap ada setelah raga mati? Adakah surga atau neraka dan sebagainya dan sebagainya. Memang pertanyaan tersebut seringkali menganggu, khususnya saya yakini bagi manusia-manusia yang penuh rasa ingin tahu dan hidupnya dipenuhi permenungan-permenungan yang dalam. Tapi dalam kesempatan kali ini, saya ingin memaparkan sebuah cerita lain tentang kematian, suatu hal yang tampaknya lebih realistis, dapat kita jumpai sehari-hari dan tidak perlu mati dulu untuk membuktikannya.

Banyak orang takut dengan kematian. Kematian terlihat menyeramkan karena kita tidak pernah tahu apa dan bagaimana sebetulnya kematian itu, selain dari pengalaman melihat orang mati yang kadang begitu menderita. Tapi dibalik itu semua, ternyata masih ada yang lebih menyeramkan dibanding menjadi orang mati, yaitu menjadi orang yang masih hidup! Kehidupan ternyata lebih sulit daripada kematian. Dan mengutip Confusius, “Bagaimana engkau mau mengerti mati jika tidak mau mengerti hidup?”(1), tentu amat menarik membedah masalah seputar kehidupan (di dunia) setelah kematian seseorang. Yang paling dekat adalah saat upacara pemakaman yang ternyata dewasa ini mengalami banyak penyimpangan sosial dan budaya di tengah arus modernitas.

Ketika seseorang mati maka urusannya telah selesai di dunia. Kalaupun misalnya belum selesai (seperti mitos hantu gentayangan yang saya sendiri belum berani menyelidikinya, walaupun atas nama filsafat (2)), seperti di film-film horor Indonesia, hantu-hantu itu sepertinya tidak pernah terlibat urusan hutang biaya tanah makam, mengurus surat kematian dan sebagainya. Hantu-hantu dalam film itu biasanya ingin balas dendam atau kurang kerjaan. Entahlah, saya bukan penggemar film Indonesia.

Tapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah tentang mereka manusia-manusia yang telah ditinggal mati. Selain (biasanya) yang ditinggal mati itu akan sangat kehilangan dan sedih luar biasa, ternyata ada urusan lain yang tidak bisa dikesampingkan saat berurusan dengan kematian. Ketika salah satu kerabat dekat meninggal, sungguh tidak ada waktu untuk berduka karena kita akan dihadapkan pada urusan seperti memilih peti mati, tempat pemakaman, mengurus surat kematian di kelurahan (anda tahu betapa rumitnya birokrasi Indonesia), harta warisan yang bisa memecah belah persatuan keluarga dan masih banyak tetek-bengek lainnya. Sedikit demi sedikit kekhusyukkan duka orang yang ditinggalkan sang almarhum bisa terkikis karena urusan tersebut. Bagi orang yang kaya, memilih peti mati bisa menjadi urusan seperti memilih baju di butik: pilih saja yang paling bagus. Tapi ketika kematian dihadapkan kepada orang miskin yang dari sononya sudah susah, maka kematian akan sangat menambah beban hidupnya, bukan hanya karena kehilangan yang dicintai, tapi juga karena hutang-hutang yang menumpuk untuk biaya rumah sakit, pembuatan akta kematian, penyewaan tanah (sekitar lima setengah juta pertahun dan biaya kontrak bisa mencapai satu juta pertahun) dan beribu-ribu hal menyusahkan lainnya.

Sekarang mari kita bicara tentang mereka yang kaya saja. Membicarakan orang kaya lebih menyenangkan karena ada banyak tingkah laku luar biasa yang mereka lakukan kalau dipandang dari kacamata orang miskin seperti saya. Kematian, ternyata tidak menjadi halangan bagi orang kaya untuk tetap menunjukkan eksistensinya sebagai orang yang banyak duitnya. Setelah mati dan secara resmi dinyatakan bukan anggota warga dunia nyata, ternyata manusia masih ingin “menitipkan” sebagian dirinya. Hal ini tercermin dari kebiasaan manusia menguburkan jasad dan meletakkan nisan diatasnya. Di nisan tersebut akan ada tulisan tanggal lahir dan meninggal, sementara bagi orang-orang yang tergila-gila dengan gelar dan pangkat, di atas nisannya, di depan dan di belakang namanya akan ada embel-embel gelar dan pangkat yang panjangnya bisa melebihi kesabaran seorang ibu.

Sebuah upacara kematian bagi orang yang berduit bisa tidak kalah mewahnya dengan upacara pernikahan di hotel bintang lima. Jenazah dirias dengan make-up artis khusus yang mampu merapikan wajah yang rusak atau menciptakan karakter sesuai dengan keinginan almarhum semasa hidup. Untuk urusan peti mati, ada yang ornamen-ornamennya menggunakan emas murni. Tidak takut kuburan digali pencuri? Jika pemakaman yang dipilih adalah pemakaman kelas atas, pihak keluarga tentunya bisa tidur nyenyak. “Kami menyediakan petugas keamanan 24 jam dengan sistem pengamanan modern,” tutur Gunawan, pengelola pemakaman eksklusif di wilayah Karawang, Jawa Barat.(3)

Fakta ini menampilkan sebuah fenomena orang hidup yang menyambut kematiannya dengan menyiapkan sebuah konstruksi agar kematiannya berjalan indah dan tetap bisa dikenang dengan prestise yang tinggi. Walaupun nanti sudah tidak bernyawa, ternyata manusia masih ingin jenazahnya terlihat bagus sehingga perlu didandani, pakai jas dan peti mati yang mahal. Perkara masuk surga atau neraka adalah urusan belakangan. Manusia menyikapi kematian bukan dengan semangat rohaniah dengan menyadari bahwa tubuh siapapun, orang sekaya apapun, pada akhirnya akan dimakan cacing yang sama dan larut dalam tanah yang sama. Keinginan manusia, entah petuah sang almarhum semasa hidup atau keinginan yang ditinggalkan terhadap konstruksi citra dirinya, telah menghasilkan suatu pemborosan besar yang berujung pada sebuah kesia-siaan; yang ternyata menurut mereka merupakan suatu cara agar mendapat tempat dan terlihat eksis di dalam suatu masyarakat; masyarakat yang juga memberhalakan pencitraan.

***

Masyarakat modern tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai masyarakat. Masyarakat seharusnya dipahami sebagai tatanan-tatanan sah yang dapat menjadi wadah interaksi bermakna dan dengan demikian menjamin solidaritas para anggotanya.(4) Hubungan sosial antar sesama manusia saat ini tidak lagi didasarkan atas asas murni ketertarikan, melainkan lebih kepada asas fungsionalitas, yaitu memperkaya diri. John Ruskin, dalam Unto This Last menyatakan bahwa kekayaan adalah “suatu kekuatan seperti listrik, yang bergerak karena ada perbedaan potensial atau saling meniadakan sendiri”. Artinya untuk memperkaya diri sendiri berarti “sama saja harus” memiskinkan tetangganya. Ada hubungan erat antara kekayaan dan kekuasaan. Barang-barang yang mencolok mata—seperti peti mati dari emas, misalnya—tidak pernah menghasilkan kesenangan, kekuasaan, atau kenyamanan. Mereka hanya memperlihatkan kekuasaan untuk memperolehnya, yang tidak dapat diraih oleh orang lain. Nilai riil kekayaan, tulis Ruskin, “seharusnya tergantung dari cap moral yang tertempel padanya, sama seperti kuantitas matematis itu tergantung pada tanda aljabar yang tertempel pada angka matematik.” (5) Tidak ada yang lebih sia-sia kecuali membicarakan mengenai kekayaan dengan mengabaikan dimensi moralnya.

Sayangnya, kapitalisme global memang perlahan mengikis rasa humanisme manusia. Rasa cinta akan uang yang merupakan penopang utama pergerakan kapitalisme telah membuat manusia menjadi rakus. Uang telah menjadi alat ukur yang berlaku universal; mempermudah pertukaran dan manipulasi informasi. Singkatnya uang telah menguasai imajinasi dan kesadaran manusia. Kesadaran manusia yang telah dirampas juga menyebabkan teralienasinya manusia, baik dalam dirinya sendiri maupun masyarakat.

Krisis identitas menyebabkan manusia modern haus akan pencitraan. Kesadaran ternyata berkaitan dengan eksistensi, yakni kedudukan dan cara hidup manusia dalam sebuah struktur sosial. Dalam hal ini, manusia adalah bagian dari sebuah masyarakat kolektivistis. Ikatan-ikatan primordial masih begitu kuat, seperti hubungan darah, bahasa, lokasi, dan seterusnya. Di luar kelompoknya, individu bukan hanya menjadi “bukan siapa-siapa”, melainkan juga mati seperti embrio yang dipaksa keluar dari rahim. Dalam arti ini, individu sebenarnya belum bereksistensi. Yang bereksistensi adalah kelompoknya.(6) Manusia berbeda dari benda-benda di sekelilingnya. Namun manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi suatu benda, suatu objek. Yang terjadi ketika manusia tenggelam dalam urusan serba materi, ia menjadi “anonim”, tanpa kepribadian. Alih-alih menjadi seorang “dia” manusia hanya menjadi suatu unsur dari “mereka”.

***

Fenomena krisis eksistensialisme juga tampil dalam sebuah acara pemakaman. Seperti peristiwa hidup yang lain-lainnya, bahkan dalam kematian pun orang yang sudah mati masih terseret—setidaknya jenazahnya—ke dalam sebuah upacara. Manusia yang paling soliter pun terikat pada jaringan sosial tertentu dalam kehidupannya dan mau tak mau ia tetap menjadi bagian dalam sebuah konstruksi sosial yang mengesahkan keberadaannya.

Upacara kematian seseorang bukanlah sebuah acara personal, melainkan sebuah peristiwa sosial, apalagi kalau yang meninggal adalah bos besar sebuah perusahaan multinasional. Upacara tersebut juga bukannya diselenggarakan dengan semangat kesucian dan kesederhanaan yang sebetulnya akan mencerminkan betapa kehidupan sangatlah sementara dan garis antara hidup dan mati amatlah tipis, melainkan justru diselenggarakan dengan semangat menampilkan citra kesuksesan seseorang semasa hidup (dan jangan lupa, sukses disini tentu mengandung maksud bergelimangan harta). Nantinya dalam sebuah upacara pemakaman, para pelayat bukan lagi orang-orang yang betul-betul sedih dan merasa kehilangan atas kepergian sang almarhum tapi juga karena ada urusan “profesionalitas” karena tidak enak dengan tetangga atau teman kantor yang lain, tidak enak dengan si istri, si anak, si adik, si kakak atau si sepupu sang almarhum. Dan yang semakin mencoreng kekhusukkan sebuah upacara kematian, tidak jarang para pelayat itu datang atas nama bisnis. Bagi para pebisnis MLM, yang selalu bisa melihat peluang mengeruk uang dari sekumpulan orang, tentu acara pemakaman ini akan jadi ajang ketemu dengan calon prospekan yang amat baik. Akhirnya upacara pemakaman menjadi sebuah ajang bisnis yang dihiasi duka-duka palsu.

Dalam film Frankie And Johnny (Garry Marshall, 1991), tokoh Johnny yang diperankan amat baik oleh Al Pacino datang melayat atas kematian seseorang yang belum dikenalnya. Orang-orang heran dan Johnny menjawab, “Kita tidak perlu mengenal seseorang untuk ikut berduka atas kematiannya—itu disebut empati.”(7) Walau begitu, jujur saja kata “empati” hanya pernah saya jadikan bahan hapalan dalam pelajaran PPKN di sekolah dasar. Tanpa bermaksud apatis, namun kita memang patut menyoroti dan meragukan, masih adakah sikap empati, simpati dan solidaritas dalam sebuah masyarakat (yang mengaku) modern dewasa ini, seperti yang diproyeksikan tokoh Johnny dalam film tersebut?

H. Bergson mengatakan bahwa moral dan agama statis merupakan hasil semangat kreatif yang sudah memadat. Memang hal-hal semacam itu dibutuhkan untuk tetap menjaga kesinambungan masyarakat, namun karena moral dan agama statis ini merupakan deposito kreativitas yang telah lampau, maka dibutuhkan pahlawan-pahlawan moral, santo-santo, nabi-nabi dan orang alim untuk menghayatinya secara konsisten dan konsekuen.(8) Masalahnya, moral dan agama statis, khususnya yang saya amati di negara kita, hanya berkembang di sekitar lingkungan akademik sebagai suatu teori yang hanya dipelajari tanpa dipraktekkan. Dewasa ini—sebuah fenomena yang diamati Heidegger—manusia menjadi dangkal. Itu kelihatan dengan jelas dengan cara berbicara yang hampa dari media massa, dari sikap ingin tahu dan haus akan kabar tak bermutu yang merupakan tanda-tanda jaman sekarang. Dunia kita penuh mode-mode sementara, tanpa perhatian untuk rasa yang lebih mendalam, secara bebas dan otentik. Dunia kita dikuasai oleh sikap teknis ilmiah yang menutupi pertanyaan ontologis macam pertanyaan tentang makna hidup, makna kenyataan dan makna eksistensinya.(9)

Modernisasi telah menyebabkan dua macam perkembangan dalam masyarakat, yaitu perkembangan ukuran fisik masyarakat dan bertambahnya distansi sosial. Masyarakat modern memiliki hubungan-hubungan yang diatur menurut prosedur formal dan birokratis sehingga nilai intrinsik individu menjadi lenyap. Dia bukan lagi suatu “siapa” dalam suatu megastrukstur, melainkan suatu “apa”, yakni bukan suatu pribadi melainkan suatu fungsi. Memang birokrasi ini mencoba menenun suatu jaringan interaksi yang utuh, tetapi jaringan itu lebih bersifat struktural daripada kultural, lebih formal daripada substantif. Di dalam relasi-relasi struktural, individu-individu mencoba mengembangkan diri secara majemuk sesuai tuntutan lingkungan lahiriahnya, namun terjadilah suatu keterpecahan antara “dirinya” dengan aneka perannya dalam masyarakat sehingga makna jati dirinya menjadi kabur. (10)

Masyarakat yang didasarkan pada aktivitas produksi ekonomis dan pada akhirnya didominasi oleh aktivitas tersebut memaksa sebagian besar masyarakat untuk terus bekerja sebagai pekerja upahan dimana ia tidak dapat merealisasikan dirinya dalam pekerjaan tersebut. Hal ini menyebabkan keterasingan manusia, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat. Ia bukan lagi totalitas aktivitas manusia melainkan manusia yang didominasi oleh aktivitas produksi ekonomis. Demikianlah terjadi alienasi kultural. Masyarakat modern telah mengasingkan diri manusia dari martabatnya yang hakiki.(11) Rasa kemanusiaan pun turut terkikis dan terjadi pemerosostan makna, dalam hal ini saat kita bicara tentang urusan layat-melayat, rasa solidaritas yang ditunjukkan saat menghadiri sebuah acara pemakaman adalah rasa solidaritas yang palsu karena sebetulnya manusia tersebut telah teralienasi dari lingkungannya dan dalam menjalankan peran sosialnya semata hanya untuk mendapatkan keuntungan lain.

Menurut Habermas, masyarakat modern berusaha menjaga kelangsungan hidup dan identitasnya melalui proses-proses yang mencakup tiga fungsi masyarakat, yakni reproduksi kultural, integrasi sosial, dan sosialisasi. Reproduksi kultural adalah proses-proses yang menjamin kontinuitas tradisi dan koherensi pengetahuan praktis sehari-hari. Intergrasi sosial merupakan proses memelihara koordinasi tindakan-tindakan sosial dengan menata hubungan-hubungan antar pribadi dan dengan menstabilkan identitas kelompok-kelompok sejauh memadai bagi praktik kehidupan sehari-hari. Baik koordinasi maupun stabilisasi tersebut diukur menurut solidaritas diantara para anggota masyarakat. Yang terakhir, sosialisasi, yaitu proses yang menjamin generasi demi generasi mencapai kompetensi-kompetensi umum bagi tindakan sehingga mereka memandang sejarah hidup individual selaras dengan bentuk kehidupan kolektif. Kompetensi ini diukur dengan tanggung jawab pribadi-pribadi itu. (12)

Namun dewasa ini tiga fungsi masyarakat tersebut mengalami bermacam disorientasi yang menggejala dalam kehidupan manusia modern saat ini. Mudji Sutrisno SJ menemukan delapan gejala disorientasi tersebut, yang jika boleh saya rangkum, intinya adalah disorientasi mengenai nilai yang benar karena arus media informasi yang luar biasa di era globalisasi, tanpa sempat disaring terus menorobos ke imaji-imaji sehingga tidak lagi ada kesempatan untuk sebuah ruang hening pengolahan dan pembatinan. Selain itu hidup ekonomi dan sosial lebih dipusatkan pada konsumsi simbol dan gaya hidup dibanding kreasi produksi barang untuk kebutuhan sehari-hari yang diperlukan. “I consume therefore I exist” menjadi gaya hidup yang dipacu naluri purba yang terus diprovokasi iklan sehingga bukan kebutuhan untuk hidup manusiawi yang jadi patokan, tetapi selera basic instinc yang menjadi dasar.(13) Kelakuan-kelakuan ini menjadi semakin ironis ketika terjadi dalam ranah peristiwa sosial semacam upacara kematian, karena kematian, khususnya bagi orang yang beragama, adalah sebuah peristiwa yang sangat monumental, karena saat itu Tuhan menampakkan kekuasaannya dengan mengambil nyawa seseorang dari dunia.

Disorientasi-disorientasi tersebut menyebabkan fungsi-fungsi utama masyarakat tidak berjalan dengan baik dan menimbulkan berbagai krisis. Jika dalam wilayah reproduksi kultural terganggu, maka akan tampil krisis kebudayaan dalam bentuk hilangnya makna, krisis legitimasi dan krisis orientasi. Sementara jika terjadi disorientasi dalam wilayah intergrasi sosial maka krisis kebudayaan akan berbentuk rasa ketidakpastian akan identitas kolektif dan krisis sosial dalam bentuk alineasi. Terakhir, jika wilayah sosialisasi yang terganggu, akan terjadi krisis kebudayaan dalam bentuk keterputusan dengan tradisi, krisis sosial dalam bentuk krisis motivasi dan krisis kepribadian dalam bentuk psikopatologi-psikopatologi (sakit jiwa).(14)

Dalam sebuah masyarakat yang mengalami krisis identitas, teralienasi dan sakit jiwa, maka bolehkah saya bertanya, apakah sebetulnya kita benar-benar masih hidup, ketika tindakan kita ternyata secara tidak sadar telah diatur oleh sebuah sistem besar yang mengatasnamakan diri kapitalisme? Pilihan-pilihan yang kita buat, jangan-jangan sama sekali tidak merepresentasikan diri kita sebenarnya, melainkan hanya sebuah pilihan agar kita tetap dapat diterima di masyarakat yang homogen? Kematian seseorang bukan hanya bisa dimaknai secara klinis ketika jantung dan gelombang otaknya sudah tidak bekerja, melainkan juga ketika kita tidak sadar akan apa yang kita lakukan dan makna “aku” telah hilang bahkan dalam diri kita sendiri.

Siapa “aku” sebenarnya? Masih adakah “aku”? Bagaimana, apakah Anda seperti ingin mempersiapkan sebuah upacara kematian?

Catatan Akhir

(1) Saya kutip dari tulisan Muhammad Al-Fayyadl, Filsafat Kematian: Sebuah Hantaran Metodologis Awal sebagai pengantar sebuah diskusi di selasar Fakultas Filsafat UGM, 25 Mei 2008

(2) Walau begitu, urusan hantu gentayangan ternyata bisa kita tanggapi tidak hanya sekitar urusan dunia mitis, karena Sergeiv, seorang ahli dari Rusia melakukan penelitian ilmiah yang berhasil membuktikan adanya kekuatan-kekuatan magnetik yang bergetar pada tubuh manusia yang baru mati secara klinis dengan sebuah alat pendeteksi. Lebih lanjutnya dapat dilihat di artikel Mengintip Misteri di Balik Kematian oleh Joao Inocencio Piedade, MA dalam “Manusia Merenungkan : Hidup Sesudah Mati? (1990)

(3) Info tentang hal-hal ekstrim menyangkut bisnis kematian ini saya dapatkan dari http://www.kickandy.com, yang mana artikelnya merupakan sebuah pengantar untuk acara televisi Kick Andy! di Metro TV, 8 Juni 2006

(4) F. Budi Hardiman, Mengatasi Paradoks Modernitas dalam buku “Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan”, (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 145

(5) John Ruskin, Unto This Last: Four Essays on the Principles of Political Economy (New York: Thomas Y. Cromwell and Co., 1901), hlm. 30ff

(6) Van Peursen, C.A., Strategi Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta

(7) Walaupun sebelumnya saya sudah menonton film Frankie and Johnny, kutipan dialog film diatas baru saya sadari setelah membaca artikel Agenda oleh Seno Gumira Ajidarma dalam buku kumpulan tulisannya “Affair” (Yogyakarta: Buku Baik, 2004)

(8) H. Bergson via Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia, 1986), hlm. 105

(9) Ibid., hlm. 126

(10) Zijderveld via F. Budi Hardiman, Kesadaran yang “Tak Bersarang”dalam buku “Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan”, (Jakarta: Gramedia, 1993)

(11) Pandangan Karl Marx tentang alienasi kultural ini dijabarkan kembali oleh R. Haryono Imam dalam tulisan Louis Dupre Alineasi Kultural Dalam Pemikiran Karl Marx yang dimuat dalam “Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan”, (Jakarta: Gramedia, 1993)

(12) Habermas via F. Budi Hardiman, Mengatasi Paradoks Modernitas dalam buku “Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan”, (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 146

(13) Mudji Sutrisno SJ, Disorientasi Budaya : Agenda Penyikapannya, sebuah tulisan sebagai bahan kuliah umum Fakultas Filsafat UGM, Agustus 2008

(14) F. Budi Hardiman, Loc. Cit.

Advertisements

2 Comments on “Upacara Kematian dan Kematian Masyarakat Modern*”

  1. renny says:

    Kita telah mati dalam basa basi sosial :(


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s