bermain dengan mitos

“Sumpah! (ini) Pocong” adalah film yang seharusnya tidak akan pernah saya ingin lihat. Satu, saya benci horor, bahkan horor yang katanya berkualitas. Dua, ini horor Indonesia yang pasti ngebego-begoin penontonnya seperti biasa. Tapi, seorang teman yang nggak ada kerjaan menraktir saya untuk nonton film ini. Tetap dengan rasa tidak berminat, saya mengangguk saja walau tidak banyak berharap mendapat sesuatu dari film yang poster dan judulnya saja sudah cukup nggak penting :)

Cerita dimulai dengan adegan Sugandhi (Jarwo Kuat) yang melakukan sumpah pocong di sebuah mesjid. Sugandhi adalah seorang Kepala Desa yang ingin menjaga citra baiknya dari tuduhan kelakuan tidak senonoh. Atas saran penasehat spiritualnya, Ki Bolon, Sugandhi pun melakukan sumpah pocong. Asistennya yang setia tapi bodoh, Tatang (Udji Tonki) kebingungan mencari kain kafan untuk ritual sumpah pocong ini, ia pun mencuri kain kafan milik seorang warga yang baru meninggal dan menggantinya dengan sarungnya. Hantu pocong bersarung itu kemudian menuntut balas. Tak hanya pada Tatang tapi juga Sugandhi dan istrinya, Nany (Julia Perez) dikejar-kejar sang pocong.

Horor dan humor. Itulah yang ingin disuguhkan dalam film ini. Mitos-mitos menyeramkan tentang pocong dipermainkan sehingga rasa takut yang biasa kita dapat dari film horor tereduksi dan tergantikan dengan tawa. Pocong di film ini memang berwajah seram, tapi kelakuannya pun tak kalah konyol dengan pelawak. Pocong bisa saling jatuh cinta, bisa ketakutan dan bisa kepleset atau terjatuh.  Film ini memang dibuat dengan”selera rakyat”. Settingnya di desa di Sukabumi, bukan di kompleks elite di Pondok Indah. Tokoh-tokohnya pun tentu saja masyarakat desa yang masih percaya pada hal-hal mitis macam sumpah pocong, dukun dan keangkeran kuburan. Logika dan alur bercerita juga dibuat mudah dan tidak berbelit-belit, penonton tinggal “telan” saja. Oke, tidak perlu membicarakan bagaimana kualitas cerita atau sinematografi film ini, saya lebih tertarik membahas realita masyarakat penonton film Indonesia yang ternyata masih menyukai film horor. Buktinya, kemarin bioskop terisi sampai setidaknya setengah dari jumlah kursi yang tersedia. Lebih banyak daripada yang nonton Generasi Biru nya Slank. Film-film horor Indonesia pun selalu bermunculan setidaknya ada satu diputar di bioskop setiap bulannya. Ini menunjukkan animo masyarakat yang selalu setia menjadi penonton tetap film genre ini.

Kebanyakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat mitis. Film ini menunjukkan realita yang betul-betul terjadi, walaupun tentu saja dihiperbolakan. Mitos bagi masyarakat primitif merupakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada waktu permulaan yang menyingkap tentang aktivitas supranatural hingga sekarang. Mitos dapat dikatakan sebagai pandangan dunia rakyat; yaitu konsepsi yang tidak dinyatakan tetapi implisit tentang tempat mereka ditengah-tengah alam dan tentang seluk beluk dunia mereka. Mitos menjelaskan bagaimana asal mula alam, pokok kehidupan manusia dan tujuan manusia, yang akhirnya dengan mitos manusia dapat tahu apa tujuannya dan bagaimana seharusnya bertingkah laku. Mitos membimbing hidup manusia sebagai pedoman.

Mempermainkan dan menjungkirbalikkan mitos dalam masyarakat adalah apa yang telah film ini lakukan.  Masyarakat Indonesia yang sudah penat dengan harga-harga yang naik terus memang berhak untuk menikmati hidup dengan tertawa. Berkaca dan tertawa!

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s