fenomena stiker SKJ ’94

helm anak sma yang penuh stiker

helm anak sma yang penuh stiker

Hidup dan tinggal di Jogja membuat saya menjadi seorang penebeng motor sejati. Ya penebeng, sebab, maafkan masa kecil saya yang tak pernah belajar sepeda sehingga di usia yang ke 20 ini saya pun terpaksa harus selalu memeluk pingang orang lain dari kursi belakang untuk sampai ke tempat tujuan. :)

Menjadi penebeng membuat saya jadi lebih fleksibel memperhatikan jalanan. Banyak yang asik dipelototi di jalanan jika anda tidak perlu konsentrasi menyetir sepeda motor atau mobil. Sebut saja grafitti, mural, pengamen, hitungan mundur di lampu merah, patung pak polisi atau yang sedang hip buat diri saya sendiri, stiker kota. Membaca stiker kota memang selalu menarik, setidaknya bisa mengurangi kebosanan di jalan karena banyak kata-kata aneh, lucu, konyol, atau norak. Pokoknya tidak terduga. Apalagi setelah membaca buku “Stiker Kota” garapan ruangrupa, saya semakin gencar memerhatikan stiker-stiker yang beredar di jalanan, sebab dari situlah kita bisa membaca proses kebudayaan yang sedang berlangsung. (simak review buku “Stiker Kota” di older post saya)

Ada satu fenomena stiker yang menarik di jalanan kota Jogja. Setidaknya enam bulan yang lalu, stiker yang banyak saya lihat adalah stiker bertuliskan “I LOVE SKJ ’94” di belakang motor atau helm anak-anak yang kebanyakan berseragam SMA. SKJ ’94 adalah trio elektronik disko yang bisa saya sebut sebagai generiknya Goodnight Electric (band elektronik asal Jakarta). Mengusung musik elektronik yang gembira dan mengajak berolahraga, lagu-lagu SKJ sempat sering berkumandang di radio-radio Jogja. Banner-banner pensi SMA pun memajang nama SKJ ’94 sebagai guest star. Tidak ada yang aneh dari kejadian ini. Memasang stiker band favorit di motor atau helm adalah hal yang biasa.

Yang lucu, akhir-akhir ini saya melihat kemunculan “stiker tandingan” dari I LOVE SKJ ’94 yaitu “FUCK SKJ” atau “SKJ=Sampah Kota Jogja”. Saya jadi bertanya-tanya, siapa ya yang memproduksi stiker ini dengan segitu niatnya? Maksud saya, saya juga benci sama ST12 atau Kangen Band yang norak, tapi saya tidak sekurang kerjaan itu sehingga rela membuat stiker dan menyebarkannya pada orang-orang. Di tulisan ini saya akan membahas tentang fungsi stiker sebagai alat provokasi dibanding membahas baik atau burukkah SKJ ’94 dari sisi musikalitas maupun gayanya.

Pencarian saya di internet mengantarkan saya pada sebuah blog yang beralamat  disini. Blog ini hanya memuat satu post yang dibuat pada tanggal 19 November2008. Isi post tersebut adalah sebuah foto SKJ ’94 yang bertuliskan Sampah Kota Jogja, beberapa cacian sebagai pengantar dan sebuah chatting antara Bagus94 dengan Vyan Cliquers. Intinya, Vyan Cliquers kecewa dengan kelakuan anggota SKJ ’94 yang setelah terkenal menjadi sombong dengan fansnya. Bagus94 tidak banyak bicara dalam percakapan ini. Setiap kata dari Bagus94 langsung ditanggapi dengan emosi oleh Vyan Cliquers. Tesis masalah pribadi menjadi dugaan kuat yang saya anggap mungkin menjadi awal kemunculan stiker ini.  Lantas, bagaimana provokasi stiker ini bisa semakin meluas?

Kemarin, saat saya sedang berjalan-jalan di Pasar Klitikhan, saya melihat sebuah lapak stiker yang menjual stiker “I LOVE SKJ” sekaligus “FUCK SKJ’94” secara berdampingan. Dengan demikian, berarti produksi stiker tersebut tidak lagi dilakoni oleh orang-orang yang benci SKJ ’94 tapi juga mulai dilihat sebagai sebuah peluang bisnis bagi para produsen stiker. Adanya produsen adalah akibat dari adanya konsumen, dan ini berarti ada banyak orang yang membeli stiker “I LOVE SKJ” dan “FUCK SKJ”. Jika tesis saya benar bahwa kemunculan stiker ini berawal dari masalah pribadi, maka bagaimana bisa ada begitu banyak pengikut yang menempelkan stiker “FUCK SKJ” di belakang motornya?

Stiker-stiker ini adalah cerminan akan adanya pergulatan antar wacana di jalanan. Setiap wacana dapat dianggap memiliki semacam sistem dalam pembermaknaannya sendiri. Dengan demikian “pertaruangan stiker” ini tidak dapat dikatakan sia-sia belaka, karena di dalamnya ada sebuah proses kebudayaan yang berlangsung. Orang yang memasang stiker adalah orang yang menyematkan identifikasi atas dirinya. Stiker Bob Marley berarti anak reggae, stiker “Bismillah” berarti muslim, dan sebagainya. Dalam konteks stiker “SKJ”, hal ini bisa kita baca serupa, bahwa mereka yang membeli dan menempel stiker entah “I LOVE SKJ” atau “FUCK SKJ” membutuhkan identifikasi dalam kelompok manakah dia berada. Dalam sebuah artikel yang ditulis dalam blog SuperMandraBros, sang penulis menyampaikan keresahannya atas kemunculan stiker “FUCK SKJ” yang menurutnya norak dan kampungan. Ia pun kemudian membuat stiker “FUCK WHO FUCK SKJ” yang  merupakan sebuah perlawanan atau tanggapan atas kemunculan stiker “FUCK SKJ”. Disini terjadi lagi sebuah proses pergulatan wacana.

Dalam pergulatan ini ada tiga opsi bagi kita yang berada di dalamnya dalam mengatasi dominasi atas hegemoni-hegemoni tersebut : menerima, melawan atau bernegosiasi. Kemunculan stiker-stiker yang saling tuding-menuding ini menunjukkan bagaimana proses tersebut benar-benar berlangsung dan bagaimana pilihan-pilihan tersebut muncul di hadapan kita.

salah satu stiker i LOVE SKJ ($

salah satu stiker i LOVE SKJ 94

stiker fuck SKJ 94

stiker fuck SKJ 94

Advertisements

8 Comments on “fenomena stiker SKJ ’94”

  1. sebenarnya memang kurang kerjaan kok. thanks udah mampir di super mandra bros ya. salam kenal :D

  2. vetamandra says:

    Halo! Tulisannya bagus, mengupas dalam. Salam kenal ya. Saya sang kakak :d. Yang nulis di mandrabros itu adikku

  3. bamz21 says:

    NICE POST GUD LUCK…ya mg persaingan antar band di jogja makin sehat aja

  4. ANTI SKJ says:

    APAKAH BAGUSNA SKJ??

    IM FUCK SKJ’94..

    KAMI SIAP MNCORET STIKER SKJ’94

  5. Deny says:

    Wuih..bgus2,, d kbtn. Pwrjo yg udh bkan wilyh j0gja aja bnyk stiker fuck ama l0ve,,hee tingkyu aje

  6. 0rg smranrang says:

    tu smw trgantung selera musik kita.
    mw fuck at0 l0ve.
    yg penting damai

  7. alfa says:

    kalo menurut gw ya setiap orang berhak suka atau tidak suka terhadap band apa pun termasuk SKJ’94 tapi ya sikap kita jgn smp keterlaluan jg lah&jgn smp menyinggung perasaan band tersebut jg. Memang sih terkadang ada band yg mentang2 ud ngetop jd sombong&lupa sm fans2ny.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s